4 Alasan Mengapa Perempuan Wajib Skrining Kanker Serviks

Perempuan yang sudah melakukan hubungan seksual wajib melakukan skrining kanker serviks!

skrining kanker serviks

Di dunia, setiap 2 menit ada 1 perempuan meninggal kanker serviks. Bagaimana angkanya di Indonesia? Data Globocan 2008 dan 2012 menunjukkan insiden kanker serviks di Indonesia terus meningkat. Bahkan saat ini Indonesia menjadi negara dengan insiden kanker serviks tertinggi di Asia, dengan lebih dari 50% di antaranya meninggal dunia. Di Indonesia, diperkirakan setiap 1 jam perempuan meninggal karena kanker serviks. Sebenarnya, apakah yang membuat insiden kanker serviks terus meningkat? Perkawinan usia muda membuat banyak perempuan berhubungan seksual dini. Riskesdas 2013 menunjukkan hubungan seksual dimulai usia belasan bahkan 8 tahun. Puncaknya di usia 19-20 tahun dengan persentase 15-20%. 

Adapun penyebab dari kanker serviks adalah Human Papilloma Virus (HPV). Ini adalah virus umum yang bisa ditemukan di mana-mana dan virus ini memiliki lebih dari 130 tipe dengan tingkat keganasan yang berbeda. Virus HPV yang tidak ganas menyebabkan kutil kelamin atau kutil di kulit. Sedangkan virus HPV yang ganas bisa menyebabkan kanker serviks, penis, anus, bahkan tenggorokan. Pada acara yang digelar oleh Forum Ngobras beberapa waktu lalu, dr. Kristoforus Hendra Djaya, SpPD., menjelaskan 85% penularan HPV melalui hubungan seksual dan 15% bisa melalui kontak langsung seperti pemakaian handuk bersama, kuku yang terkontaminasi HPV, atau transisi vertikal dari ibu ke anak.

Pencegahan kanker serviks dapat dilakukan dengan vaksinasi HPV dan skrining atau deteksi dini. Adapun untuk skrining HPV bisa dilakukan melalui pap smear atau inspeksi visual asam asetat (IVA). Prof. Andrijono, SpOG(K) menyebutkan dari penelitian yang dilakukan RSCM menunjukkan, setiap 1.000 orang yang menjalani skrining kanker serviks, ditemukan 1 penderita. Hanya saja cakupannya masih sangat minim, yaitu 3,5% untuk skrining IVA dan 7,5% untuk pap smear. Bagaimanakah sebenarnya skrining HPV ini bisa melindungi perempuan dari kanker serviks?

1. Skrining sebagai Deteksi Dini Kanker Serviks

Prof. Andrijono menjelaskan, baik skrining pap smear maupun IVA fungsinya adalah menemukan ada tidaknya lesi kanker atau pra kanker sejak dini. Pada skrining pap smear yang dilakukan adalah mengambil cairan serviks yang kemudian diperiksa di laboratorium untuk melihat apakah ada sel-sel kanker di sana. Biasanya pemeriksaan ini dilakukan di perkotaan karena memerlukan fasilitas laboratorium yang mumpuni. Sedangkan untuk deteksi dini yang lebih sederhana adalah menggunakan metode IVA dengan menyemprotkan larutan asam asetat pada area serviks. Ada tidaknya lesi kanker atau pra kanker akan tampak pada perubahan warna di serviks.

2. Perempuan yang Aktif Berhubungan Seksual Wajib Skrining HPV secara Rutin

Dijelaskan dr. Kristoforus, virus HPV masuk ke dalam serviks ketika ada celah luka pada lapisan kulit epitel di serviks, berupa sobekan kecil saat berhubungan seksual. Celah inilah yang menjadi pintu masuk bagi virus untuk menginfeksi seluruh jaringan serviks. “Begitu virus masuk ke dalam sel serviks, maka ia akan menggandakan diri dan lama-lama berubah menjadi kanker,” jelasnya. Itu mengapa penting bagi setiap perempuan yang sudah melakukan hubungan seksual untuk melakukan skrining HPV secara rutin. Pemeriksaan sebaiknya dimulai sejak 3 tahun setelah hubungan seksual pertama, mengapa? Karena virus HPV butuh waktu lama untuk berkembang sehingga bisa jadi sel-sel abnormal pada serviks yang terinfeksi baru terlihat setelah tidak lagi berhubungan seksual. Ini mengapa rekomendasi skrining HPV adalah setiap 3-5 tahun.

3. Tetap Skrining Meski Sudah Vaksinasi HPV

Skrining HPV merupakan pencegahan kanker serviks secara sekunder, sedangkan vaksin HPV adalah pencegahannya secara primer. Kebanyakan perempuan berpikir jika sudah mendapatkan vaksin HPV maka tidak perlu lagi melakukan skrining. Persepsi ini kurang tepat karena pap smear atau IVA tetap penting dilakukan secara rutin untuk mengetahui ada tidaknya penyakit lain yang bersumber dari HPV seperti kutil kelamin. Karena vaksin HPV hanya mengandung strain virus penyebab kanker serviks.

4. Kanker Serviks Tahap Awal Tidak Bergejala.

Prof. Andrijono menyebutkan, berdasarkan data yang dihimpun pada Departemen Obstetri dan Ginekologi FKUI/RSCM, 82,3% pasien kanker serviks berobat ke rumah sakit rujukan nasional ini ketika sudah stadium lanjut. Karena sudah memasuki stadium lanjut maka kondisi kanker menyebar hampir ke semua organ yang ada di panggul. “Prognosis atau tingkat respon terhadap pengobatannya jelek sekali kalau sudah stadium lanjut,” tegasnya. Karena itu skrining secara rutin akan menangkap perubahan sel yang terjadi di serviks sejak awal sehingga penanganannya bisa lebih cepat jika ditemukan adanya lesi kanker.

Temukan pilihan aktivitas, kelas, dan kegiatan edukatif untuk anak dan orang tua, serta beragam artikel menarik seputar kesehatan, parenting, dan gaya hidup keluarga modern. Download aplikasi Parentstory sekarang di App Store dan Google Play Store.