Infeksi Saluran Kemih saat Hamil. Ini yang Perlu Diketahui!

Kenali penyebab infeksi saluran kemih, serta pilihan pengobatan hingga pencegahannya untuk ibu hamil.

Infeksi Saluran Kemih pada Bumil

Dari sekian banyak infeksi yang bisa terjadi selama kehamilan, Infeksi saluran kemih (ISK) merupakan yang paling sering dialami ibu hamil. Hal tersebut diungkapkan oleh dr. Rathi Manjari Fauziah, SpOG, di situs resmi RSIA Citra Ananda, bagian dari grup RSIA Bunda. Pada bunda.co.id, dokter spesialis obgyn Rathi Manjari menjelaskan, bahwa prevalensi (jumlah keseluruhan kasus penyakit yang terjadi pada suatu waktu tertentu di suatu wilayah) ISK berkisar antara 4-7%. Dengan kata lain, 4 hingga 7 dari 100 ibu hamil dapat menderita ISK dengan tanpa gejala (asimtomatik). “Jika tidak ditangani, maka 25% dari penderita dapat mengalami ISK dengan gejala seperti sistitis (infeksi kandung kemih), sampai dengan pielonefritis (infeksi ginjal),” jelas dr. Rathi. Agar Anda dapat terhindar dari penyakit ini, ada beberapa hal penting seputar ISK yang perlu diketahui. Baca terus artikel ini untuk mengetahuinya.

1. Peradangan Bakteri di Saluran Kemih

American Pregnancy Association (APA) menjelaskan di situs resminya, bahwa ISK adalah peradangan bakteri di saluran kemih. Menurut dr. Rathi, saat hamil, terjadi perubahan dari sistem saluran kemih sehingga terjadi peningkatan risiko ISK. APA mengungkapkan, terjadi peningkatan risiko ISK dimulai sejak minggu ke-6 sampai minggu ke-24 pada ibu hamil karena perubahan pada saluran kemih. Selain itu, ISK dapat disebabkan oleh masuknya bakteri dari usus besar dan vagina ke uretra (saluran kencing dalam kemaluan) selama foreplay dan hubungan seksual, kata Kristene E. Whitmore, profesor dan ketua urologi di Drexel University College of Medicine dan Medical Director of the Pelvic and Sexual Health Institute di Philadelphia, Pennsylvania, AS. Menurut Kristene, seks yang berlebihan dapat menyebabkan radang kandung kemih, yang membuat bakteri lebih mudah bertahan. ISK dapat terjadi juga bila Anda jarang buang air kecil. Pasalnya, buang air kecil efektif membersihkan kuman dari kandung kemih dan uretra, serta kelainan saluran kemih atau kondisi kronis seperti diabetes.

2. Rahim Membesar, Menekan Kandung Kemih

Rahim berada tepat di atas kandung kemih. Saat rahim tumbuh, peningkatan beratnya dapat menghalangi saluran air urin dari kandung kemih, menyebabkan infeksi saluran kemih selama kehamilan. Rahim Anda yang tumbuh membesar itu juga menekan kandung kemih, sehingga membuat Anda sulit mengeluarkan semua urin pada kandung kemih. Urin yang tersisa bisa menjadi sumber infeksi. Risiko ISK juga semakin meningkat dengan jumlah kehamilan sebelumnya (paritas), status sosial ekonomi yang rendah, usia tua, adanya aktivitas seksual selama kehamilan, diabetes mellitus, penyakit sickle cell anemia, dan riwayat ISK sebelumnya. Menurut media kesehatan terkemuka, webmd.com, perubahan hormon saat hamil juga dapat menyebabkan refluks vesicoureteral, yaitu suatu kondisi dimana kencing mengalir kembali dari kandung kemih ke ginjal. Ini dapat menyebabkan ISK.

3. Gejala ISK

APA menjelaskan, jika Anda mengalami infeksi saluran kemih, Anda mungkin mengalami satu atau lebih gejala berikut ini:

  • Nyeri atau terbakar (ketidaknyamanan) saat buang air kecil.
  • Ingin buang air kecil lebih sering dari biasanya.
  • Perasaan terdesak saat buang air kecil.
  • Terdapat darah atau lendir di urin.
  • Kram atau nyeri di perut bagian bawah.
  • Nyeri saat berhubungan seksual.
  • Menggigil, demam, berkeringat, keluarnya air seni.
  • Bangun dari tidur untuk buang air kecil.
  • Perubahan jumlah urin, lebih banyak atau lebih sedikit.
  • Urin yang terlihat keruh, berbau busuk atau sangat kuat.
  • Nyeri, tekanan, atau nyeri di area kandung kemih.
  • Saat bakteri menyebar ke ginjal Anda mungkin mengalami sakit punggung, menggigil, demam, mual, dan muntah.

4. Mudah Diobati

Kabar baiknya, sebagian besar ISK mudah diobati, bahkan saat Anda sedang hamil. “Meskipun ada beberapa obat yang harus dihindari wanita hamil, namun kebanyakan antibiotik yang diberikan masih aman,” kata Dana Rigsby Gossett, M.D., seorang ob-gyn di Northwestern Memorial Hospital di Chicago. “Setiap dokter kandungan akan tahu antibiotik mana yang harus dihindari, dan pilihan antibiotik tergantung pada alergi seorang wanita dan di trimester kehamilan dia berada. Ada banyak pilihan aman yang berbeda,” jelasnya.

5. Tidak Akan Membahayakan Bayi, Bila…

Menurut dr. Rathi, seperempat dari penderita ISK akan mengalami perburukan seperti infeksi kandung kemih sampai dengan infeksi ginjal. Kedua kondisi ini akan dapat menyebabkan komplikasi dalam kehamilan, seperti persalinan prematur, berat bayi lahir rendah, hipertensi dalam kehamilan, anemia, dan korio-amnionitis. “Jadi untuk para ibu, jangan lupa lakukan skrining ISK di awal kehamilan, demi kehamilan yang lebih baik dan janin yang lebih sehat,” pesan dr. Rathi. Bila dokter Anda menangani infeksi saluran kemih sejak dini dan dengan benar, maka ISK tidak akan membahayakan bayi Anda.

6. Mengurangi Risiko ISK dengan Beberapa Cara Ini

Beberapa langkah ini dapat membantu mengurangi kemungkinan Anda menderita ISK selama kehamilan:

  • Jagalah kebersihan area genital Anda. Setelah buang air kecil, lap dari depan ke belakang untuk mencegah penyebaran bakteri.
  • Sering buang air kecil. Buang air kecil adalah cara yang efektif untuk membersihkan kuman dari kandung kemih dan uretra. 
  • Buang air kecil sebelum dan sesudah berhubungan seks. Ini akan membantu menghilangkan bakteri genital.
  • Segeralah buang air kecil ketika Anda merasakan keinginan untuk pipis, dan luangkan beberapa menit ekstra untuk memastikan Anda telah mengosongkan kandung kemih Anda sepenuhnya.
  • Perhatikan pola makan Anda. Kafein dan cokelat adalah beberapa zat yang dapat mengiritasi kandung kemih, dan peradangan membuat bakteri lebih mungkin bertahan. Jus jeruk, makanan pedas, dan minuman beralkohol juga dapat mengiritasi kandung kemih Anda.
  • Minumlah setidaknya delapan gelas air sehari agar tetap terhidrasi. 
  • Jika Anda membutuhkan pelumas saat berhubungan seks, pilih yang berbahan dasar air.
  • Cuci area genital Anda dengan air hangat sebelum berhubungan seks.
  • Kenakan celana dalam berbahan katun.
  • Hindari memakai celana yang terlalu ketat.

Temukan pilihan aktivitas, kelas, dan kegiatan edukatif untuk anak dan orang tua, serta beragam artikel menarik seputar kesehatan, parenting, dan gaya hidup keluarga modern. Download aplikasi Parentstory sekarang di App Store dan Google Play Store.