6 Pertanyaan Umum Orang Tua tentang Antibiotik untuk Bayi

Inilah jawaban dari 6 pertanyaan yang paling sering ditanyakan orang tua tentang pemberian antibiotik pada bayi.

6 Pertanyaan Umum Orang Tua tentang Antibiotik untuk Bayi

Antibiotik memang terbukti ampuh untuk mengatasi infeksi. Tapi konsumsi antibiotik tidak bisa sembarangan, karena obat ini tidak hanya mematikan bakteri penyebab infeksi, tapi juga bakteri baik yang merupakan “makanan” bagi imun sistem kita. Oleh karena itu pemberian antibiotik, baik kepada orang dewasa maupun anak-anak, haruslah dengan pemeriksaan mendetail dari dokter.

 

Tapi, kadang orang tua memaksa dokter untuk memberikan antibiotik bagi anaknya. Selain karena antibiotik bekerja cepat mengatasi infeksi, bisa juga karena orang tua tidak paham risiko yang dapat terjadi dari penggunaan antibiotik yang tidak tepat. Adapun risiko dari penggunaan antibotik yang tidak tepat bisa menyebabkan munculnya penyakit lain akibat efek samping serta membuat bakteri atau mikrobiologi yang menjadi sasaran penggunaan antibootik lebih resisten. Alhasil, butuh pengobatan lebih serius.

 

Karena itu sangat wajar jika orang tua memiliki beragam pertanyaan terkait pemberian antibiotik pada bayi. Dan, inilah 6 pertanyaan yang paling sering ditanyakan orang tua kepada dokter anak tentang pemberian antibiotik pada bayi.

1. Anak saya mengalami flu berat, tapi kenapa dokter tidak memberikan antibiotik agar cepat sembuh?

American Academic of Pediatrics (AAP) menjelaskan flu disebabkan oleh infeksi virus pada saluran pernapasan atas bayi. Sedangkan antibiotik adalah obat yang diberikan untuk mengatasi infeksi akibat bakteri. Karena itu penanganan flu lebih kepada mengatasi gejala batuk dan pileknya serta meningkatkan imun sistem bayi untuk melawan serangan virusnya.

2. Jika mukus atau ingus bayi berwarna hijau, apakah ini pertanda infeksi yang disebabkan oleh bakteri?

Ingus yang berwarna hijau atau kuning bukanlah indikasi primer yang membutuhkan antibiotik untuk penanganannya. Saat flu, sangat normal jika ingus menjadi kental dan berubah warna dari kuning ke hijau. Biasanya gejala ini akan berlangsung sekitar 10 hari.

 

Jika gejala ini berlangsung lebih dari 10 hari, disertai dengan kenaikan suhu badan hingga 39°C selama 3-4 hari, maka bisa jadi infeksi disebabkan oleh bakteri. “Atau, jamak disebut bacterial sinusitis. Tapi kondisi ini jarang sekali dialami oleh bayi,” jelas AAP pada situsnya. Dokter anak akan memeriksa secara mendetail untuk kemudian memutuskan apakah perlu memberikan antibiotik pada bayi Anda. Jadi jangan berinisiatif sendiri memberikan antibiotik tanpa persetujuan dari dokter anak Anda.

3. Tidakkah radang tenggorokan harus diobati dengan antibiotik?

“Tidak!” jawab AAP tegas. Faktanya 80% radang tenggorokan disebabkan oleh virus. Pemberian antibiotik untuk radang tenggorokan biasanya diberikan pada infeksi akibat bakteri streptococcus tipe A. Tapi menurut AAP untuk membuktikan adanya infeksi akibat bakteri ini, dokter wajib melakukan serangkaian tes. Jika hasil tes positif, maka baru dilakukan pengobatan menggunakan antibiotik.

4. Efek samping apa sajakah yang harus diantisipasi dari penggunaan antibiotik?

AAP menjelaskan kalau 1 dari 10 anak yang mengonsumsi antibiotik mengalami efek samping seperti ruam, mual, diare, dan nyeri perut. Jadi, amati bagaimana anak bereaksi ketika mengonsumsi antiobiotik. Jika muncul gejala-gejala efek samping, segera periksakan ke dokter serta catat nama antibiotiknya, karena berarti dia tidak cocok mengonsumsinya. Ini menjadi informasi penting setiap kali anak menjalani pengobatan agar terhindar dari efek fatal dari alergi antibiotik.

5. Berapa lamakah efektivitas antibiotik dalam menangani infeksi akan terlihat?

“Sebagian besar infeksi akibat bakteri akan berkurang setelah 48-72 jam mengonsumsi antibiotik,” jawab AAP. Jadi jika setelah 72 jam tidak ada perbaikan, segeralah periksakan anak ke dokter. Jangan menghentikan pemberian antibiotik terlalu cepat karena bisa jadi tubuh tengah berusaha melawan infeksi. Dan ketika obat dihentikan, bisa jadi bakteri belum tertangani dengan sempurna hingga infeksi lanjutan pun terjadi.

6. Bagaimanakah penggunaan antibiotik yang tepat?

Dra. R. Dettie Yuliati, Apt. Msi., Wakil Sekretaris Ikatan Apoteker Indonesia (IAI) menjelaskan antibiotik harus dihabiskan. “Karena jika tidak dihabiskan, ada peluang untuk membuat bakteri menjadi resisten hingga ketika dia kembali menginfeksi tubuh akan kebal jika diberikan antibiotik,” ucapnya pada diskusi yang digelar Forum Ngobras beberapa waktu lalu.


Selama mengonsumsi antibiotik, simpanlah pada tempat yang aman yaitu pada suhu ruangan serta tidak terkena paparan sinar matahari secara langsung. Ini untuk menjaga agar zat aktif antibiotik tetap dalam kondisi baik sehingga ketika dikonsumsi bisa bekerja optimal di dalam tubuh.

0 Komentar