Ajarkan Anak Hidup Hemat Sejak Dini, Ini Trik Jitunya!

Orang tua harus menjadi model perilaku hidup hemat untuk anak.

Ajarkan Anak Hidup Hemat Sejak Dini, Ini Trik Jitunya!

Pandemi Covid-19 tidak hanya membuat ruang gerak kita jadi terbatas tapi juga memperlambat gerak roda ekonomi. Alhasil krisis ekonomi pun terjadi di berbagai negara, tidak terkecuali Indonesia. Ini artinya, butuh penyesuaian gaya hidup agar tetap bertahan hidup. Adapun penyesuaian yang dilakukan setiap keluarga di masa krisis ekonomi seperti sekarang adalah berhemat atau mengelola uang dengan sangat bijak karena meski sudah ada vaksin Covid-19, bukan berarti aktivitas ekonomi bisa bergerak normal kembali.

Jika keluarga melakukan gaya hidup hemat, apakah ini artinya hanya dilakukan orang tua? Atau bagaimanakah melibatkan anak dalam penyesuaian gaya hidup untuk mendukung kebertahanan keluarga secara finansial? Dan apakah ada manfaat secara psikogis kepada anak jika sudah sejak dini dikenalkan gaya hidup hemat?

Hidup berhemat mengajarkan anak tentang kemampuan mengelola uang

Untuk menjawab semua pertanyaan ini, Parentstory mewawancarai langsung Psikolog Klinis Anak, Remaja, dan Keluarga, Roslina Verauli, M.Psi. Menurut Verauli, perilaku berhemat sangat penting dikenalkan pada anak sejak dini. Bagaimana cara mengenalkannya? “Mengajarkan dengan cara menyontohkan. Artinya orang tua harus menjadi model dari perilaku hidup hemat ini,” jawabnya lugas. Di masa krisis atau tidak, bagi Verauli, perilaku berhemat akan membentuk pola pikir anak dalam mendefinisikan serta menggunakan uang. Artinya ketika anak dikenalkan tentang konsep uang, maka yang perlu diajarkan bukan hanya nilai dan fungsinya saja tapi juga tentang pengelolaan uang, tabungan dan investasi. “Anak harus tahu kalau uang punya nilai. Nilai inilah yang kemudian bisa ditukarkan dalam bentuk apapun termasuk untuk investasi.”

Adapun usia yang ideal untuk mengenalkan tentang uang menurut Verauli adalah 3-5 tahun. Pada rentang usia ini, konteks pengenalan uang adalah pada wujudnya. Jadi anak boleh memegang uang atau diberikan uang angpao saat Lebaran, Natal, atau hari raya lainnya. Lalu saat anak berusia sekolah dasar maka dia sudah bisa diberikan uang saku yang kemudian dilengkapi dengan pengajaran tentang mengelola uang dengan bijak agar bisa ditabung atau diinvestasikan. Tujuannya adalah, agar kelak ketika nanti anak dewasa, dia akan bijak dan efesien dalam membelanjakan uangnya. Hal ini ditegaskan Verauli dapat mengasah ketrampilan anak dalam menentukan skala prioritas. “Mana yang penting untuk dibeli karena butuh, bukan karena sekadar ‘lapar mata’.”

Libatkan anak ketika membuat daftar belanja bulanan

Tapi konsep tentang menggunakan uang secara bijak tidak bisa hanya diberikan kepada anak dalam bentuk teori, melainkan orang tua harus mempraktekkannya secara langsung. “Anak butuh model perilaku tentang bagaimana menggunakan uang yang efisien, belanja di tempat yang murah, sehingga uang yang disimpan bisa lebih banyak. Intinya,orang tua harus menunjukkan bahwa ia bisa mengelola keuangannya dengan baik karena membeli barang sesuai dengan perencanaan.” Hal sederhana untuk mengajarkan tentang menggunakan uang lebih efisien menurut Verauli adalah dengan melibatkan anak ketika membuat daftar belanja. Mengapa harus melibatkan anak? Agar anak tahu bahwa orang tuanya belanja bukan karena impulsif. “Ini penting,” tegas Verauli. “Akhirnya anak melihat bahwa orang tua tidak membeli barang-barang yang tidak diperlukan,” ujar Verauli yang rutin membuat Zoom Class for Kids.

Tanyakan kepada anak apa yang menjadi kebutuhannya saat membuat daftar belanja bulanan. Dan ketika berbelanja, orang tua harus mematuhi daftar belanjaan yang sudah dibuat. Sehingga anak mengerti bahwa belanja bulanan juga butuh perencanaan. Manfaat tambahannya lagi menurut Verauli hal ini bisa meminimalisir kemungkinan anak merengek-rengek meminta sesuatu. “Orang tua bisa mengatakan kalau apa yang dimintanya di tempat belanja bulanan secara tiba-tiba tidak bisa penuhi karena tidak ada di dalam daftar.”

Selain mematuhi daftar belanja yang sudah dibuat, Verauli juga menyebutkan untuk mengajarkan anak tentang kupon diskon atau promo cash back. “Ini agar anak paham bahwa uang bentuknya tidak hanya tunai tapi juga ada dalam bentuk non tunai.” Lalu jika ada kupon diskon, katakan pada anak bagaimana kupon diskon ini akan membantu menghemat pengeluaran. “Atau ajak juga anak membandingkan harga toko yang satu dengan yang lain, agar ia paham tentang menggunakan uang dengan efisien.”

Bentuk lain dari uang non-tunai yang juga harus dipahami anak adalah uang dalam bentuk kartu. Beri tahu mereka bahwa kartu bisa dipakai belanja ketika diisi uang terlebih dahulu. “Bukan tiba-tiba kartunya bisa memberikan uang. Sering kali anak memahami bisa mengambil uang di ATM begitu saja. Maka beritahu pada anak bahwa orang tua harus menyimpan uang dulu di bank baru bisa mengambilnya di ATM.”

Dengan demikian anak tidak hanya paham uang sebagai alat tukar beli tapi juga menunjukkan bagaimana uang yang digunakan secara bijak bisa membuat kualitas hidup lebih baik. Tak hanya itu, penggunaan uang secara bijak dengan gaya hidup hemat akan membuat pemahaman pada internal anak bahwa uang bisa menghasilkan uang kembali. “Menabung dan investasi, juga bagian dari konsep menggunakan uang dengan bijak,” pungkas Verauli.