Akankah Social Distancing Memengaruhi Pembentukan Karakter Anak?

Selama anak tetap mendapatkan perhatian penuh dari orang tuanya, kemampuan anak untuk bersosialisasi tetap bisa berlangsung optimal meski di rumah saja.

Social Distancing pada Anak

Pandemi Covid-19 tidak hanya mengubah rutinitas para orang tua, tapi juga anak-anak. Pada anak-anak yang sebelum pandemi memiliki jadwal rutin bermain di daycare atau playgroup, tentu butuh penyesuaian diri ketika selama pandemi tidak bisa keluar rumah, bertemu teman-temannya, dan bermain di luar rumah.

Social Distancing Tidak Akan Menghambat Perkembangan Sosial dan Emosional Balita

Hal ini menurut Rahil Briggs, PsyD., sedikit banyak membuat orang tua khawatir. Apakah dengan berada di rumah saja dan tidak bisa bertemu dengan teman atau keluarga karena social distancing akan membuat kemampuan balita untuk bersosialisasi terhambat? Bukankah bertemu dan berinteraksi dengan orang lain juga dibutuhkan balita untuk menstimulasi pembentukan otaknya? “Saya sangat mengerti kekhawatiran para orang ini dan semua kekhawatiran ini sangatlah wajar terjadi.” Demikian Briggs yang merupakan Profesor Klinis Anak dari Albert Einstein College of Medicine ini memberikan komentarnya.

New normal atau normal baru yang terjadi saat ini memang membuat banyak orang harus beradaptasi terhadap pola interaksi yang baru. Begitu juga dengan balita dan anak-anak, mereka tentu merasakan ada perubahan situasi yang besar, hanya saja tidak mengerti bagaimana mengartikulasikannya. Sama seperti orang dewasa, perubahan situasi yang tiba-tiba juga membuat balita perlu waktu untuk bisa menemukan titik seimbangnya. “Mereka pasti rindu teman-temannya, kakek-neneknya, dan tentunya aktivitas bermain di luar rumah. Tapi bukan berarti diam di rumah saja menjadikan orang tua tidak bisa menstimulasi kemampuan berinteraksi mereka dengan orang lain,” papar Prof. Briggs seperti dilansir dari Psychology Today. Ditegaskan Prof. Briggs, perkembangan otak tidak menjadi terhenti hanya karena di rumah saja akibat menerapkan social distancing selama pandemi. “Selama ada 1 atau 2 orang dewasa  yang secara intensif memberikan perhatiannya kepada anak, maka stimulasi terhadap tumbuh kembang sosial dan emosional anak tetap bisa terjadi.” Tak hanya orang tua yang tetap memberikan perhatian serta stimulasi, tapi juga suasana rumah harus menjadi ruang yang aman, stabil, serta tidak penuh tekanan untuk anak bertumbuh.

Orang Tua Harus Bisa Mengendalikan Stresnya Terlebih Dahulu

Mengingat pandemi dan berada di rumah saja bisa menjadi sumber stres yang baru untuk orang tua, maka Prof. Briggs mengingatkan agar orang tua terlebih dahulu mengatasi masalahnya. Karena setiap emosi, baik positif maupun negative, akan bisa dirasakan oleh anak dari setiap interaksi yang terjadi di dalam rumah. Jika kita ingin menjadikan rumah sebagai ruang menstimulasi kemampuan sosial anak, maka interaksi yang terjadi di dalam rumah sebaiknya tidak dipenuhi dengan emosi negatif. Prof. Briggs lantas menjelaskan ada banyak sekali manifestasi dari stres. “Ada stres yang bersifat toksik tapi ada juga stres yang positif.” Bagaimana membedakannya? Stres yang bersifat toksik dijelaskan Prof. Briggs adalah segala emosi negatif yang tidak termitigasi dengan baik dan muncul dalam setiap interaksi. “Stres yang bersifat toksik inilah yang bisa memengaruhi perkembangan otak anak dan membentuk karakter anak menjadi lebih dikendalikan oleh emosi negatif.” Bagaimana dengan stres yang positif? Kata kuncinya menurut Prof. Briggs adalah kemampuan orang tua untuk mengelola sumber stres serta menemukan solusinya. “Otak anak-anak, khususnya balita, ibarat spons yang menyerap semua hal yang dilihat serta dirasakannya dari sekitarnya. Jadi stres yang dialami oleh orang tua tidak hanya dirasakan oleh anak tapi juga berdampak langsung pada dirinya.”

Itu mengapa dalam situasi pandemi seperti sekarang, di mana rumah menjadi pusat kegiatan dan emosi, orang tua tetap harus mampu melatih diri untuk mindfulness atau menghayati apa yang sedang dilakukan saat ini. Cara ini menurut Prof. Briggs akan membantu orang tua untuk tidak menyimpan rasa khawatir serta cemas berlebihan atas situasi pandemi yang tengah terjadi. Alhasil, stres pun bisa dikelola dengan baik. Dengan melatih diri untuk selalu berkesadaran penuh atau mindfulness, sambung Prof. Briggs, maka setiap interaksi yang terjadi di dalam rumah akan dipenuhi dengan emosi yang tenang dan positif. “Lingkungan seperti inilah yang dibutuhkan anak untuk membentuk kematangan emosionalnya setiap kali berinteraksi dengan orang lain. Inilah modal dari pembentukan kemampuan anak untuk bersosialisasi.” Ketika rumah menjadi ruang yang aman untuk anak membentuk kematangan emosionalnya, maka stimulasi untuk bersosialisasinya saat ini bisa dilakukan dengan video call dengan kakek-nenek, sepupu, atau anggota keluarga besar lainnya seperti om dan tante. “Ini semua bersifat sementara karena setelah pandemi, interaksi langsung tetap penting dilakukan. Tapi selama social distancing, bukan berarti kita tidak bisa menstimulasi kemampuan bersosialisasi anak.”