Anak Ingin Belajar Berpuasa, Begini Panduan Nutrisinya

Dr. Titis Prawirasari, Sp.A(K) menuturkan cara mengajari anak puasa sejak dini. Rahasianya, ada pada komposisi nutrisi yang tepat. Anak pun akan lebih kuat dalam menjalani puasa.

Anak Ingin Belajar Berpuasa, Begini Panduan Nutrisinya

Mengenalkan puasa pada anak sejak dini cukup jadi tantangan tersendiri bagi orang tua. Hal ini wajar karena menjalankan ajaran agama pada anak-anak adalah sebuah proses belajar mereka untuk memahami konsep beribadah. Karena itu, hal yang harus diingat oleh orang tua saat ingin mengajak anak untuk belajar berpuasa adalah jangan dipaksa. “Jangan dipaksa. Ini yang paling penting. Kenalkan konsep berpuasa pada anak dengan secara bertahap agar dia mengerti,” ucap Dr. Titis Prawirasari, Sp.A(K), konsultan nutrisi dan penyakit metabolik anak dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

Pemilihan menu yang tepat bisa membuat anak lebih kuat berpuasa

Sebagai langkah awal, Dr. Titis menyarankan untuk membolehkan anak berpuasa selama 4 jam. Tujuannya adalah, untuk melatih kesiapan anak, baik secara fisik maupun mental. Jika selama berpuasa 4 jam anak tidak menyampaikan keluhan berarti maka durasi puasa bisa dinaikkan. “Dari 4 jam bisa dinaikkan jadi 6 jam, dan seterusnya,” dijelaskan Dr. Titis yang juga adalah Ketua Unit Kerja Koordinasi Nutrisi dan Penyakit Metabolik Anak Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) ini.

Hal yang juga harus penting disiapkan orang tua untuk mendukung niat anak menjalankan puasa adalah memenuhi kebutuhan nutrisinya. Pemilihan menu serta yang tepat bisa membuat anak lebih mudah menjalani puasanya karena tetap fit, bugar dan tidak mudah lapar. Sebenarnya tak ada perbedaan kebutuhan nutrisi ketika tidak Ramadan dan saat Ramadan. Komposisinya tetap sama yaitu 50-60% karbohidrat, 10-20% protein, 20-25% lemak dari total energi yang dibutuhkan. Ini semua harus dilengkapi dengan vitamin serta mineral agar menjadi nutrisi optimal untuk membentuk sistem kekebalan tubuh dan mendukung pertumbuhan anak.

Yang membedakan hanyalah waktu mengonsumsinya. Dr. Titis lantas memberikan tips sederhana agar anak lebih kuat menjalani puasa. “Paling penting jangan terlalu banyak makan karbohidrat saat sahur. Tapi ketika berbuka puasa, karbohidrat menjadi penting untuk dikonsumsi lebih dulu untuk menaikkan kadar gula darah.” Mengapa sebaiknya jangan terlalu banyak makan karbohidrat saat sahur? Nutrisi ini akan cepat dimetabolisme tubuh sehingga membuat anak lebih cepat lapar. Apalagi, seringkali anak-anak tetap aktif beraktivitas meski sedang berpuasa. Maka Dr. Titis menyarankan untuk lebih banyak mengonsumsi protein serta serat ketika sahur, karena tubuh mencernanya lebih lama. Dengan begini, secara fisik anak akan lebih kuat menjalani puasanya.

Menu yang bervariasi juga optimalkan pembentukan imunitas anak ketika berpuasa saat pandemi

Dokter yang berpraktek di RSIA Hermina Depok ini juga menekankan untuk selalu memberikan menu bervariasi pada anak. Mengapa? Karena, setiap sumber makanan memberikan manfaat nutrisi yang berbeda-beda. “Tujuannya agar sistem kekebalan tubuh anak terbentuk optimal.” Apa kaitannya menu makanan yang bervariasi dengan membentuk kekebalan tubuh anak? Dr. Titis pun menganalogikan sistem kekebalan tubuh sebagai sebuah orkestra yang membutuhkan keseimbangan dari semua unsur yang membentuknya. Adapun unsur pembentuk sistem kekebalan tubuh adalah makronutrien yang didapat dari karbohidrat, protein, dan lemak, serta mikronutrien yang bersumber dari vitamin serta mineral. “Jadi semakin variatif makanan yang didapat anak setiap hari maka semakin besar kesempatan tubuh mereka untuk mendapat semua unsur yang membentuk kekebalan tubuh.”

Tentu saja pembentukan sistem imun yang kuat pada anak selalu menjadi perhatian orang tua, khususnya di masa pandemi Covid-19 seperti sekarang. Dan menurut Dr. Titis, makanan sehari-hari sudah cukup baik menjadi sumber gizi bagi anak, maka suplementasi vitamin pun menjadi opsional. “Boleh-boleh saja diberikan tapi intinya anak harus makan dengan komposisi makro dan mikronutrien yang seimbang, karena sebenarnya suplementasi sifatnya hanyalah penambahan ketika anak tidak dapat memenuhi salah satu unsur nutrisi,” ucap Dr. Titis secara live pada Instagram IDAI.

Hal yang juga harus menjadi perhatian orang tua adalah makanan harus dibuat dalam keadaan bersih, baik bahan makanannya yang akan diolah maupun tangan yang mengolah juga harus bersih. Tak hanya ketika menyiapkan, Dr. Titis pun menekankan pentingnya memastikan kebersihan tangan ketika memberikan makan pada anak. “Baik tangan orang tua yang menyuapi anaknya, maupun tangan anaknya ketika makan sendiri.” Dr. Titis juga mengingatkan prinsip 5.60 dalam penyimpanan makanan agar nutrisi tetap terjaga dengan baik. Yang dimaksud dengan 5.60 adalah, menyimpan makanan pada suhu di bawah 5 derajat Celsius dan memanaskannya di atas 60 derajat, supaya memastikan kuman-kuman tidak berkembang dengan banyak.

0 Komentar