Anemia pada Anak: Gejala, Pengobatan, dan Pencegahannya

Jika Anda menduga bahwa si kecil mungkin kekurangan zat besi atau Anemia Defisiensi Besi (ADB), penting untuk mengetahui gejala dan pencegahannya dari IDAI ini.

Anemia pada Anak

Pada buku berjudul ‘Rekomendasi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) - Suplementasi Besi untuk Anak’, dijelaskan, bahwa ADB merupakan salah satu masalah kesehatan pada anak-anak Indonesia. Pasalnya, menurut dr. Badriul Hegar, Sp.A(K), Ph.D, Ketua Umum Pengurus Pusat IDAI, angka kejadian ADB di Indonesia adalah sebesar 40%. “Masalah defisiensi nutrisi, baik yang menyangkut makronutrien maupun mikronutrien, memang masih menjadi perhatian utama di negara berkembang, termasuk Indonesia. Salah satu elemen mikronutrien yang penting ialah besi (Fe),” tulis Prof. Djajadiman Gatot, dr.,Sp.A(K), Ketua Satuan Tugas ADEBE IDAI, pada buku tersebut. Menurut dr. Badriul Hegar, kekurangan besi pada masa anak terutama pada 5 tahun pertama kehidupan dapat berdampak negatif terhadap kualitas hidup anak. Itulah mengapa penting bagi orang tua untuk mengenali tanda-tanda anak kekurangan zat besi sehingga dapat segera ditangani oleh dokter.

Di sebuah artikel tentang ADB di idai.or.id, dr. Endang Windiastuti, Sp.A(K), menuliskan, bahwa fungsi zat besi yang paling penting adalah dalam perkembangan sistem saraf yaitu diperlukan dalam proses mielinisasi, neurotransmitter, dendrit oogenesis dan metabolisme saraf. “Kekurangan zat besi sangat mempengaruhi fungsi kognitif, tingkah laku dan pertumbuhan seorang bayi. Besi juga merupakan sumber energi bagi otot sehingga mempengaruhi ketahanan fisik dan kemampuan bekerja terutama pada remaja. Bila kekurangan zat besi terjadi pada masa kehamilan, maka akan meningkatkan risiko perinatal serta mortalitas bayi,” jelas dokter Spesialis Anak Sub Spesialis Hematologi Onkologi ini.

Apa Itu Anemia?

Pada situs resmi IDAI, dr. Rini Purnamasari, Sp.A, menjelaskan, secara sederhana anemia sering diartikan sebagai kekurangan darah. Secara teoritis, anemia merupakan istilah untuk menjelaskan rendahnya nilai hemoglobin (Hb) sesuai dengan umur dan jenis kelamin. Pada anak-anak, kekurangan zat besi atau ADB merupakan penyebab anemia terbanyak. Anemia kekurangan zat besi ialah anemia yang disebabkan oleh berkurangnya cadangan zat besi tubuh. “ADB pada anak akan memberikan dampak yang negatif terhadap pertumbuhan dan perkembangan anak, yaitu dapat menurunkan sistem kekebalan tubuh sehingga meningkatkan kemungkinan terjadinya infeksi. Selain itu, berkurangnya kandungan besi dalam tubuh juga dapat menyebabkan gangguan pertumbuhan organ tubuh akibat oksigenasi ke jaringan berkurang. Masalah yang paling penting yang ditimbulkan oleh defisiensi besi yang berlangsung lama, adalah menurunkan daya konsentrasi dan prestasi belajar pada anak,” jelas dr. Rini Purnamasari.

Tanda-Tanda Anak Kekurangan Zat Besi

Pada tahap awal yang sering dikeluhkan orang tua, menurut dr. Rini, adalah mudah tersinggung, lesu, lemas, nafsu makan berkurang, perhatian mudah teralih, tidak bergairah bermain, cepat lelah bila sedang bermain, sulit konsentrasi dalam belajar, pusing atau sakit kepala, dada berdebar-debar, sampai gejala yang sangat berat berupa pica. Untuk diketahui, pica adalah gemar makan atau mengunyah benda yang tidak layak dikonsumsi, seperti tanah, kertas, kotoran, alat tulis, pasta gigi, dan sebagainya.

Tahapan Skrining ADB

The American Academy of Pediatrics (AAP) dan CDC di Amerika menganjurkan, orang tua melakukan pemeriksaan hemoglobin (Hb) dan hematokrit (Ht) pada anak setidaknya 1 kali saat anak berusia 9-12 bulan dan diulang 6 bulan kemudian, pada usia 15-18 bulan atau pemeriksaan tambahan setiap 1 tahun sekali pada usia 2-5 tahun. Pemeriksaan tersebut dilakukan pada populasi dengan risiko tinggi, seperti bayi dengan kondisi prematur, berat lahir rendah, dan riwayat mendapat perawatan lama di unit neonatologi. Skrining tersebut perlu pula dilakukan oleh anak dengan riwayat perdarahan, infeksi kronis, etnik tertentu dengan prevalensi anemia yang tinggi, mendapat asi eksklusif tanpa suplementasi, mendapat susu sapi segar pada usia dini, dan faktor risiko sosial lain. Sementara rekomendasi dari IDAI adalah pemeriksaan kadar hemoglobin (Hb) yang dilakukan mulai usia 2 tahun dan selanjutnya setiap tahun hingga usia remaja. Bila dari hasil pemeriksaan ditemukan anemia, dicari penyebab dan bila perlu dirujuk.

Rekomendasi Suplemen Menurut IDAI

Suplementasi besi diberikan kepada semua anak dengan prioritas usia balita (0-5 tahun), terutama usia 0-2 tahun. Dosis dan lama pemberian suplementasi besi sebagai berikut:



*Dosis maksimum untuk bayi: 15 mg/hari, dosis tunggal

**Khusus remaja perempuan ditambah 400 µg asam folat

Pengobatan ADB

Adapun pengobatan dari ADB, menurut dr. Rini, harus segera diobati bila diagnosis sudah ditegakkan. Pada keadaan anemia defisiensi zat besi dapat diberikan preparat besi (ferosulfat / ferofumarat / feroglukonat), dan diantara waktu makan pengobatan dilanjutkan sampai 2-3 bulan setelah kadar Hb normal untuk mengisi cadangan besi dalam tubuh. Dengan pemberian yang teratur, kadar Hb akan meningkat 1 g/dl tiap 1-2 minggu. Penyerapan dapat ditingkatkan dengan pemberian vitamin C. Agar penyerapan besi dapat berkurang, sebaiknya hindari konsumsi zat tanin (teh), susu, telur, fitat dan fosfat yang terdapat dalam tepung gandum. Setelah kadar besi normal di dalam tubuh, penting untuk mencegah agar anak tidak mengalami keadaan anemia lagi. Pencegahan dapat dilakukan dengan menghindari minum susu segar sapi yang berlebihan, memberikan makanan yang mudah absorbsi besinya (daging, ikan, ayam, hati dan asam askorbat). Dr. Rini menjelaskan, “Sedangkan untuk bayi baru lahir, harus menggalakkan ASI sampai 4-6 bulan untuk bayi aterm, tetapi untuk bayi prematur mulai diberikan preparat besi saat usia 2 bulan atau makanan tambahan yang mengandung suplemen besi saat usia 4-6 bulan."