Aturan Minum Pil KB

Salah satu alat kontrasepsi yang mudah didapatkan dan dikonsumsi adalah pil KB. Tetapi, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam penggunaannya, seperti penjelasan pakar berikut.

Aturan Minum Pil KB

Selain berdampak besar pada sistem kesehatan dan ekonomi, pandemi Covid-19 juga turut menghambat pasangan dalam mengakses alat kontrasepsi. United Nation Population Fund (UNFPA) memperkirakan lebih dari 47 juta perempuan kehilangan akses pelayanan kontrasepsi selama masa pandemi Covid-19. Untuk diketahui, UNFPA adalah salah satu organisasi PBB yang fokus pada pelayanan kesehatan reproduksi bagi warga negara anggota PBB. Mengapa itu dapat terjadi? Biasanya, salah satu alasan pasangan suami istri mengunjungi dokter kandungan adalah untuk mendiskusikan konsep keluarga berencana, mengecek atau mengganti alat kontrasepsi yang telah digunakan, serta meminta pembaruan resep kontrasepsi. Tetapi, jika pandemi ini ‘memaksa’ semua orang untuk sebisa mungkin tinggal di rumah, dan mencoba meminimalkan kunjungan ke klinik dan dokter, maka akan memicu terjadinya lonjakan kehamilan di masa pandemi.

Pil KB, Pilihan Kontrasepsi Selama Pandemi

Pada sebuah artikel di situs siapnikah.org milik BKKBN (Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional), Kepala BKKBN dr. Hasto Wardoyo, Sp.OG(K), mengatakan, BKKBN menaruh perhatian serius pada risiko yang tak disadari selama masa pandemi Covid-19. Menurut Hasto, dalam situasi bekerja dari rumah, interaksi pasangan memang lebih intens. Program keluarga berencana yang selama ini sudah Anda dan pasangan jalankan bisa saja gagal. Karena itu, Hasto menyarankan agar pasangan usia subur tetap menggunakan alat kontrasepsi di masa pandemi ini, seperti kondom atau pil KB yang dapat dibeli secara mandiri. Kedua alat kontrasepsi ini mudah ditemukan dan digunakan. Agar Anda tak salah dalam mengonsumsi pil KB, ada beberapa aturan yang perlu dijalankan. Yang pertama adalah mengenali jenisnya.

BKKBN menjelaskan di siapnikah.org, bahwa terdapat dua golongan pil KB, yaitu jenis yang mengandung hormon progesteron dan jenis yang mengandung kombinasi progesteron-estrogen. Keunggulan pil KB adalah harganya murah, mudah dikonsumsi, dan efektif. Menurut dokter obgyn Prima Progestian, SpOG, MPH, pil kontrasepsi pada dasarnya memiliki tingkat efektivitas tinggi untuk mencegah kehamilan, pil kombinasi memiliki kegagalan 1 dalam 1000. “Jadi, jika terjadi kehamilan, mungkin saja cara pemakaiannya salah,” jelasnya pada sebuah artikel di situs pribadi miliknya, drprima.com.

Kapan Dikonsumsinya dan Bagaimana Dosisnya?

Anda mungkin pernah menemukan kemasan pil KB yang berjumlah 21 tablet dan pil KB berisi 28 tablet, lalu bertanya-tanya apa perbedaannya. Menurut dr. Prima, perbedaannya terletak pada 7 buah pil yang berbeda ukuran dan warna pada pil KB berisi 28 tablet. Ketujuh pil tersebut hanyalah tepung (plasebo) yang tak memiliki efek pengobatan. Pada saat memakan pil plasebo inilah haid diperkirakan akan muncul atau terjadi. Tujuan disediakan pil tersebut agar memudahkan Anda, sehingga tinggal menyambung dengan pil berikutnya tanpa perlu berpikir dan mengingat kapan tanggal Anda menstruasi. Sedangkan pil 21 tablet, setelah pil terakhir dimakan, ada interval 7 hari libur atau tidak mengonsumsi pil, sebelum memulai kemasan pil berikutnya. Pada interval inilah diperkirakan haid akan muncul, yang biasanya timbul 2-3 hari setelah pil habis alias masa tidak subur. Intinya, pada kemasan 21 pil, perempuan yang telah menyelesaikan satu strip beristirahat selama seminggu untuk memberi waktu tubuh menstruasi sebelum lanjut lagi dengan kemasan yang baru. “Pil KB biasanya dikonsumsi di hari ke 1 atau ke 5 haid,” jelas dr. Prima pada drprima.com.

Sebaiknya Anda meminum pil KB pada waktu yang sama, sehingga tidak lupa atau terlewat. Tak harus pada jam yang sama, asalkan waktu mengonsumsi satu dengan berikutnya tidak lebih dari 12 jam. Jika lupa melebihi 1 hari (24 jam), maka masih dapat diminum 2 tablet langsung pada saat itu juga. Namun, jika lupa lebih dari 1 hari bisa saja dilanjutkan, tapi efektivitas berkurang, sehingga perlu dikombinasikan dengan kontrasepsi kondom saat berhubungan intim. Lalu, bila saat ini Anda baru saja melahirkan dan ingin menggunakan pil KB sebagai alat kontrasepsi, kapan waktu yang tepat untuk memulainya? Menurut whattoexpect.com, media parenting terkemuka di Amerika Serikat, Anda tidak dapat memulainya sampai sekitar tiga atau empat minggu pascapersalinan. Pasalnya, ada risiko penggumpalan darah yang lebih tinggi di masa itu, dan kandungan estrogen dalam pil KB dapat meningkatkan kemungkinan tersebut jika dikonsumsi terlalu dini.

Aman Digunakan dalam Jangka Panjang

Pada video berjudul ‘Efek Penggunaan PIL KB Bertahun-Tahun’ di akun Youtube milik dr. Boy Abidin, SpOG(K), dokter obgyn ini menjelaskan, bahwa pil KB ditujukan untuk penggunaan jangka panjang, sehingga aman untuk digunakan. Sebab, dosis dan komposisi pil KB memang sudah diciptakan serta disesuaikan untuk kebutuhan jangka panjang. Tapi, terdapat reaksi yang berbeda-beda pada setiap wanita dari penggunaan pil KB. “Yang penting dan perlu diperhatikan, obat yang dikonsumsi akan masuk ke lambung, kemudian akan dicerna dan dimetabolisme di hati, kemudian akan dikeluarkan melalui ginjal. Jadi, sebaiknya memang diperiksa, apakah ada masalah di hati atau di ginjal? Karena itu, perlu melakukan medical check-up paling tidak 1 tahun sekali. Kemudian dilihat, fungsi ginjalnya, fungsi hatinya, apakah ada masalah di lambung,” jelas dr. Boy.

Karena setiap orang bisa saja memiliki efek yang berbeda dari penggunaan pil KB dalam jangka waktu yang lama, maka pemeriksaan kesehatan rutin tiap tahun memang sangat dianjurkan untuk dilakukan. Presenter acara televisi ‘DR OZ Indonesia’ ini, mengatakan, “Rasa mual adalah salah satu efek penggunaan KB hormonal atau pil KB. Jadi, kalau memang ada keluhan mual ataupun dirasa tidak cocok dengan pil KB, masih banyak pilihan pil KB lain. Teknologi kedokteran terus maju, teknologi obat juga terus maju, jadi ada pil KB dari generasi terbaru dengan komposisi yang baru. Yang lebih ringan efek sampingnya, kemudian dosisnya juga lebih rendah. Sehingga, efek mualnya bisa ditekan dengan pemilihan pil-pil KB generasi terbaru.” Pada video tersebut, dr. Boy Abidin menekankan kedisiplinan dalam penggunaan pil KB. “Yang penting untuk penggunaan pil KB harus disiplin, tidak boleh telat atau lupa. Risikonya bisa terjadi flek atau pendarahan, bisa juga terjadi kehamilan. Untuk pil KB sendiri sudah diciptakan, didesain untuk kebutuhan jangka panjang. Tapi, tetap diperhatikan dampaknya pada tubuh, dan sebaiknya lakukan medical check-up setahun sekali untuk melihat fungsi hati, ginjal, dan kesehatan tubuh lainnya,” pungkasnya.

Temukan pilihan aktivitas, kelas, dan kegiatan edukatif untuk anak dan orang tua, serta beragam artikel menarik seputar kesehatan, parenting, dan gaya hidup keluarga modern. Download aplikasi Parentstory sekarang di App Store dan Google Play Store.