Biarkan Anak Bebas Bermain Sendiri

Yang harus dipersiapkan orang tua agar anak bisa bermain dengan aman dan nyaman ketika bermain mandiri.

Biarkan Anak Bermain Mandiri

Sebagian besar orang tua berpikir kalau memberikan mainan kepada anak harus bermanfaat dalam memberikan stimulasi. Dan ketika bicara tentang stimulasi, orang tua langsung mengaitkannya dengan aktivitas langsung antara orang tua dengan anak. Tapi hal ini berbeda pada metode permainan independent play atau bermain mandiri.

Fathya Artha Utami, M.Psi menjelaskan, stimulasi adalah perkembangan yang terdiri dari fisik, motorik, kognitif dan sosial. Adapun ciri khas dari bermain mandiri menurut Fathya adalah memilih permainan dan cara bermain sesuai kemampuan eksplorasi dan imajinasinya untuk mengatasi kebosanan, dengan kegiatan yang konstruktif tanpa ada keterlibatan langsung dari orang tua. “Pada metode bermain sendiri, anak memilih permainan serta cara bermainnya sendiri. Mau dia bermain mobil-mobilan, jadi pesawat atau kapal-kapalan, itu bebas,” jelas Fathya pada Kelas Online, “Melatih Anak (0-3 tahun) Main Sendiri Sambil Ibu Punya Waktu Sendiri,” yang digelar Tiga Generasi beberapa waktu lalu.

Metode bermain mandiri ini, sambung Fathya, menyadarkan kita kalau ternyata bentuk stimulasi itu tidak melulu mengharuskan adanya interaksi langsung. Stimulasi itu sendiri kaitannya dengan perkembangan yang terdiri dari fisik, motorik, kognitif, dan sosial. Kalau dilihat dari bermain sendiri, mungkin kebanyakan orang tua kemudian bertanya, mana stimulasi motorik, kognitif, dan sosialnya karena tidak ada interaksi dengan orang lain. “Ternyata ada perkembangan lain yang perlu kita lain. Selain perkembangan sosial, ada yang namanya kematangan sosial. Matang secara sosial berkaitan dengan regulasi diri,” ucap Fathya seraya menyebutkan dengan memiliki regulasi diri yang baik maka anak-anak kita nantinya bisa menenangkan diri sendiri dan menyelesaikan masalahnya sendiri. “Sehingga jika dewasa nanti dia harus sekolah jauh dari orang tua, anak bisa memenuhi dirinya sendiri dengan cara yang positif.”

Dan untuk mengoptimalkan manfaat dari bermain mandiri ini, Fathya mengingatkan bahwa bermain mandiri bukan sesuatu yang diberikan secara tiba-tiba. Berikut adalah Do’s & Don’ts yang harus dipahami orang tua ketika ingin menjadikan aktivitas bermain sendiri sebagai metode untuk membentuk kematangan sosial anak, menurut Fathya dan Saskhya Aulia Prima, M.Psi., dari Tiga Generasi.

Do’s: Ketika Anak Bermain Mandiri

  • Buatlah jadwal rutin untuk anak bermain mandiri. Tujuannya adalah, agar anak bisa mempersiapkan dirinya bermain sendiri. Penentuan jadwal pun harus dipilih secara tepat, bisa dengan memilih jam tertentu atau urutan rutinitas harian. “Misalnya dipilih jam 9 pagi, untuk awal-awal bisa dicoba dulu misalnya 5 menit. Lalu besok, pada jam yang sama, dicoba kembali secara berkelanjutan. Dengan begini, anak menjadi siap ketika tiba waktunya bermain mandiri.” Sebaiknya, waktu bermain mandiri ditentukan berdasarkan urutan rutintias harian, Fathya menyontohkan, bermain mandiri misalnya dilakukan setelah rutintias camilan pagi.
  • Selain konsistensi dalam bentuk jadwal, Fathya juga menyarankan untuk menyiapkan ruang yang sama untuk tempat bermain mandiri. Tidak perlu ruang khusus, boleh juga dengan menentukan area bermain khusus di rumah.
  • Ciptakan rasa aman dan nyaman ketika anak bermain mandiri. Pastikan ruang atau area anak bermain sendiri merupakan tempat yang aman dan nyaman untuk anak. Saskhya menyarankan untuk memberikan alas karpet yang empuk di ruang bermain sendiri dan beri pelindung pada ujung-ujung benda yang tajam. “Ekstrimnya, ketika anak terjatuh, tidak akan membahayakan mereka. Lalu pastikan juga tempat bermain ini bisa cepat kita hampiri ketika terjadi sesuatu.”
  • Sediakan beberapa pilihan mainan. Saskhya menyarankan untuk awal-awal menerapkan bermain mandiri, orang tua bisa menyediakan jenis-jenis permainan yang disukai anak. Jadi ketika ditinggal orang tua, mereka sudah seru bermain sendiri. “Bisa juga disediakan mainan yang open ended atau permainan yang mengundang anak untuk menciptakan sesuatu seperti block atau puzzle.” Selain itu, bisa juga disediakan permainan yang mengundangnya untuk berimajinasi seperti boneka atau masak-masakan.
  • Pahami konsep keterlibatan orang tua dalam metode bermain mandiri. Saskhya menjelaskan dalam bermain mandiri bukan berarti orang tua tidak boleh terlibat. Sebetulnya orang tua tetap terlibat, tapi sangat minim. “Misalnya dengan cukup memberi tahu Anda akan berada di mana ketika anak bermain mandiri dan sebutkan juga kalau anak butuh sesuatu bisa tinggal memanggil atau menghampiri Anda di tempat tersebut.”

Don’ts: Ketika Anak Bermain Mandiri

  • Bermain mandiri bukanlah sesuatu yang bisa dilakukan secara tiba-tiba kepada anak. Fathya menyontohkan, bukan saat orang tua lelah, lalu mengatakan pada anak waktunya untuk bermain mandiri. “Manfaat bermain mandiri akan didapat ketika dibuat semacam struktur dalam konsistensi saat bermain, baik dalam bentuk waktu maupun tempat bermain.”
  • Jangan ajak anak bermain mandiri ketika dia sedang merengek atau membutuhkan perhatian oranng tua. “Ketika anak sedang butuh perhatian, kita justru memintanya bermain sendiri maka persepsi kita menelantarkan anak jadi benar terjadi,” tegas Fathya. Kesiapan anak bermain mandiri jadi penting agar manfaat-manfaat dari metode permainan ini bisa tercapai.
  • Jangan sediakan televisi atau gawai di area ruang bermain mandiri. Saskhya menekankan, saat bermain sendiri, sebaiknya sumber distraksi seperti televisi dan gawai tidak berada di sekitar anak. “Jadi sebaiknya dibuat sesepi mungkin agar dia bisa mencari ruang untuk melepaskan kebosanannya sendiri.
  • “Jangan membuat ekspektasi dari apa yang orang tua lihat dari anak orang lain, karena setiap anak berproses sendiri.” Fathya mengingatkan. Jika proses anak bisa bermain mandiri dari 2 menit menjadi 5 menit berjalan sedikit lebih lama, ini bukanlah proses yang buruk. “Yang paling penting dari bermain mandiri adalah konsistensi. Maka orang tua perlu membuat ekspektasi serealistis mungkin berdasarkan apa yang Anda lihat dari kemampuan anak,” pungkas Fathya.
0 Komentar