Bila Anak Alergi Protein Hewani, Harus Bagaimana?

Ketika anak alergi pada protein hewani, maka ia akan berisiko kekurangan nutrisi tertentu.

anak alergi protein hewani

Alergi adalah salah satu jenis gangguan dari sistem kekebalan, menurut Dr. Anang Endaryanto, Sp.A(K). Dokter spesialis anak yang fokus pada alergi ini, menjelaskan di situs resmi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), bahwa alergi dapat terjadi bila sistem kekebalan seseorang memiliki sensitivitas yang berlebihan terhadap protein tertentu, yang bagi orang lain tidak menimbulkan masalah.

Anang melanjutkan, “Gejala alergi pada anak dapat berbeda- beda. Gejala bisa berwujud gatal, diare, nyeri perut, sariawan, migrain, batuk, pilek, atau sesak. Biasanya gejala berlangsung cukup lama atau tak kunjung sembuh. Gejala sering berulang dengan penyebab yang sama, misalnya setelah mengonsumsi makanan tertentu, berada di dekat hewan berbulu atau terpapar debu.”

Kenali pencetus alergi

Bila Anda telah mengamati pola makan anak dan telah memahami jenis protein yang yang menjadi pencetus alerginya, Anang menganjurkan untuk melakukan metode eliminasi dan provokasi. Misalnya, jika anak mengalami gejala-gejala alergi setelah mengonsumsi telur ayam, orang tua harus melakukan pantang makan (eliminasi) telur ayam dan produk makanan yang mengandung telur ayam selama tiga minggu. Bila secara konsisten gejala menghilang, harus dilanjutkan dengan mengonsumsi telur ayam kembali (provokasi) setiap hari selama seminggu. Metode eliminasi dan provokasi ini dapat diterapkan pada semua jenis makanan yang diduga menyebabkan alergi.

Jika Anda menduga bahwa pencetus alergi anak lebih dari satu jenis makanan, maka Anang menyarankan untuk mengeliminasi semua makanan ‘tersangka’, lalu kemudian melanjutkan provokasi untuk semua jenis makanan selama satu minggu. Untuk alergi tertentu dapat dipastikan dengan melakukan tes alergi, misalnya dengan cara uji kulit atau pemeriksaan laboratorium. Pihak yang memberi surat permintaan untuk tes alergi ini adalah dokter. Menurut Anang, seorang anak dapat sembuh atau terbebas dari gejala alergi bila orang tua memiliki kemampuan mengenali gejala alergi, kemampuan mendeteksi alergi anak, dan kemampuan mengontrol alergen penyebabnya. Akan lebih baik lagi, bila Anda berkonsultasi pada dokter anak untuk menentukan tindakan penanganan yang terbaik dan lebih tepat untuk si kecil.

Berisiko Kekurangan Nutrisi Tertentu

Jill Castle, MS, RD, pakar nutrisi anak, penulis buku, dan konsultan kesehatan keluarga di Amerika Serikat, menjelaskan bahwa, hidup dengan satu alergi makanan atau lebih, dapat membuat seseorang berisiko kekurangan nutrisi tertentu. Penelitian telah menunjukkan kekurangan vitamin D, kalsium, dan asam lemak omega-3 terjadi pada anak-anak dengan alergi makanan. Sebagai contoh, alergi susu dapat menghilangkan sumber kalsium dan vitamin D yang signifikan, yang merupakan nutrisi penting untuk kesehatan tulang dan kesehatan secara keseluruhan. Alergi pada ikan menghilangkan sumber utama asam lemak omega-3, dan alergi gandum dapat menghilangkan sumber penting vitamin B, zat besi, seng, dan magnesium. Namun, dengan penanganan yang cermat pada pemilihan makanan, anak yang memiliki alergi dapat mengatasi potensi defisiensi ini.

Pengganti Nutrisi dari Makanan yang Dihindari

Dilansir dari kidswithfoodallergies.org, susu merupakan salah satu alergi protein yang paling umum dialami anak-anak. Padahal, susu menyediakan sumber nutrisi untuk mendukung pertumbuhan tulang. Nutrisi ini penting selama pertumbuhan pada periode emas, yang meliputi protein, kalsium, vitamin D, vitamin A, vitamin B12, riboflavin, dan fosfor. Agar anak Anda dapat mengganti nutrisi ini, daging, unggas, telur, ikan, dan kacang-kacangan dapat dengan mudah menyediakan protein yang dibutuhkan. Tetapi, untuk mendapatkan kalsium yang cukup, anak Anda mungkin perlu makan banyak sumber makanan non-susu yang mengandung kalsium. Anda mungkin dapat menggunakan susu alternatif sebagai pengganti, jika anak Anda berusia di atas 1 tahun. Misalnya, menggantikannya dengan susu kedelai atau susu almon. Yang terpenting, pastikan untuk berkonsultasi dengan dokter sebelum memutuskan pilihan pengganti nutrisi anak.

Makanan dari protein hewani lain yang bisa menjadi pencetus alergi pada anak adalah telur ayam. Untuk diketahui, telur menyediakan sumber protein berkualitas serta zat besi, biotin, folacin, asam pantotenat, riboflavin, selenium, dan vitamin A, D, E dan B12. Anak Anda bisa mendapatkan jumlah protein yang cukup dari sumber protein lain, seperti susu, daging, ikan, dan kacang-kacangan. Namun, pastikan anak Anda tidak alergi terhadap minuman atau makanan pengganti ini. Daging juga dapat memasok selenium dan vitamin B12 untuk tubuh anak. Sementara itu, folacin ada dalam kacang-kacangan, buah-buahan dan sayuran hijau.

Apakah balita Anda kerap mengeluhkan rasa gatal di kulitnya sehabis mengonsumsi hidangan laut, seperti ikan, udang, kepiting, dan semacamnya? Bisa jadi ia alergi terhadap bahan pangan yang berasal dari laut. Ikan dan seafood lainnya merupakan sumber protein yang baik. Ikan mengandung nutrisi vitamin B3, vitamin B6, B12, A, dan E. Ikan juga mengandung fosfor, selenium, magnesium, zat besi, dan seng. Jika anak Anda harus menghindari ikan, Anda dapat menemukan nutrisi yang sama dari sumber protein lain seperti daging, biji-bijian, dan kacang-kacangan.