Cara Mengajarkan Etika Batuk yang Benar pada Anak

Membiasakan etika batuk dan bersin yang benar sejak dini dapat memutus mata rantai penularan penyakit.

etika batuk dan bersin yang benar

Anak-anak sangat rentan terkena batuk dan pilek. Ini karena bakteri dan virus terbang bebas setiap kali ada orang yang tidak menutup mulut serta hidungnya ketika batuk atau bersin. Alhasil, penularan pun tidak dapat dihindari. Apalagi dalam situasi seperti sekarang, ketika pandemik Covid-19 tengah menyeruak, etika batuk dan bersin yang benar menjadi cara untuk menghentikan pandemik. Tapi kebanyakan orang membahas bagaimana etika batuk dan bersin ini sebaiknya dilakukan oleh orang dewasa. Padahal, jika kebiasaan ini dilakukan sejak dini maka potensi penyebaran berbagai penyakit melalui percikan ludah bisa ditekan secara signifikan.

Lantas, bagaimanakah mengajarkan etika batuk dan bersin yang benar kepada anak? Kata kuncinya adalah menyontohkan langsung. Tapi agar proses belajar bisa berubah menjadi kebiasaan, lakukanlah tahapan-tahapan berikut ini agar terasa lebih menyenangkan untuk anak.

Contohkan langsung kepada anak etika batuk dan bersin yang benar.

Anak belajar dari meniru tingkah laku orang-orang dewasa di sekitarnya. Jadi, sebelum mulai mengajarkan anak tentang etika batuk dan bersin yang benar, orang tua harus sudah menjadikannya sebagai kebiasaan. Adapun etika batuk dan bersin yang benar adalah dengan menutup hidung serta mulut dengan tisu atau siku baju. Memang secara spontan ketika akan batuk dan bersin, kedua tangan kita akan menutup hidung dan mulut. Tapi cara ini tidak efektif untuk menghentikan penularan virus dan bakteri kepada orang di sekitar kita. Virus dan bakteri berpotensi berpindah tempat ketika kita bersalaman atau membuka pintu, karena bisa jadi pada tangan orang sebelum kita terdapat virus atau bakteri yang sangat menular.

“Penelitian menunjukkan penularan virus dan bakteri bisa diredam ketika menutup hidung serta mulut dengan siku dalam lengan baju. Maka kebiasaan ini perlu dicontohkan secara terus menerus di depan anak agar ia mau mengaplikasikannya sendiri,” papar Jack Gilbert, penulis buku Dirt Is Good. Selain menyontohkan ketika kita benar-benar batuk dan bersin di depan anak-anak, ajari juga secara khusus. Misalnya sehari tiga kali ulangi sesi “belajar” etika batuk dan bersin ini agar anak semakin paham sehingga bisa melakukannya dengan baik. Namun Gilbert memberi catatan, yaitu lakukan sesi “belajar” ini dengan perlahan-lahan karena anak perlu melihat gerakannya dengan detail.

Beri pemahaman kepada anak mengapa kebiasaan ini perlu dilakukan.

Agar kebiasaan tidak sekadar menjadi bahan hafalan, penting untuk memberi latar belakang kepada anak mengapa etika ini harus dilakukan. Hal ini diamini oleh Gilbert yang juga adalah seorang peneliti di Marine Biological Laboratory, Micrbiome Center University of Chicago. Menjelaskan bagaimana virus dan bakteri yang ada dalam ludah kita bisa terpercik keluar jika tidak tutup hidung serta mulut saat batuk. “Ketika virus dan bakteri melayang-layang di udara ia tidak berbahaya tapi begitu terhirup oleh orang lain yang sehat lalu masuk ke saluran pernapasan, maka terjadilah penularan,” ucap Gilbert sambal seraya menyarankan agar lebih menyenangkan proses menjelaskan ini bisa divisualisasikan dengan gambar.

Atau bisa juga menjelaskannya dengan alat peraga. Caranya? Ambil segenggam tepung terigu dan jelaskan pada anak kalau anggap saja terigu itu adalah virus atau bakteri yang ada dalam rongga mulut kita. Lalu, Anda berpura-pura batuk atau bersin di depan tepung yang ada di telapak tangan. Ketika tepung itu beterbangan, jelaskan kalau tepung yang adalah virus serta bakteri itu bisa dihirup siapa saja maka terjadilah penularan.

Sempurnakan etika batuk dan bersin yang benar dengan mencuci tangan.

Setelah anak memahami pentingnya melakukan etika batuk dan bersin yang benar, ajak mereka untuk mencuci tangan secara benar juga. Mencuci tangan juga menjadi aksi simple yang bisa menyelamatkan kita dari penularan penyakit. Ajarkan untuk mencuci tangan dengan sabun di air mengalir. Mengapa? Sabun sangat efektif melarutkan lapisan lemak yang membungkus serta membunuh tubuh virus dan bakteri. Jadi sangat penting untuk rajin mencuci tangan dengan sabun, terutama setelah batuk dan bersin.

WHO merekomendasikan mencuci tangan minimal 20 detik, mengapa? Karena untuk memastikan semua sela-sela jari tercuci bersih diperkirakan memakan waktu 20 detik. Adapun cara mencuci tangan yang benar adalah:

  • Basahi tangan dengan air, lalu tuang sabun secukupnya di atas telapak tangan.
  • Gosok kedua telapak tangan secara bergantian.
  • Gosok punggung tangan serta sela-sela jari secara bergantian.
  • Gosok punggung jari secara bergantian dengan posisi jari saling bertautan.
  • Gosok kedua ibu jari secara bergantian dengan posisi memutar.
  • Gosok ujung jari ke telapak tangan agar semua kuku-kuku terkena sabun.
  • Baru, gosok tangan bersabun dengan air yang mengalir dan keringkan dengan lap.

Beri pujian ketika anak melakukannya dengan benar.

Saat Anda melihat anak secara spontan melakukan etika batuk dan bersin dengan benar, jangan ragu-ragu untuk memberikan pujian. Anak-anak sangat suka diapresiasi dan ini membuat mereka dengan sukarela menjadikannya sebagai kebiasaan. Tapi, jangan langsung memarahi ketika anak lupa melakukannya saat batuk dan bersin. Ingatkan mereka untuk melakukannya saat bersin dan batuk lagi.