Cara Mudah Membuat MPASI Rumahan Selama Pandemi

Tak perlu ribet, pada prinsipnya apa yang sehat dimakan oleh orang tua juga baik untuk dijadikan MPASI.

Cara Mudah Membuat MPASI Rumahan Selama Pandemi

Momen makan pertama anak bisa jadi sangat dinanti-nanti para orang tua, terutama ibu karena sudah tak sabar untuk mencoba berbagai resep MPASI yang sudah dikumpulkan jauh-jauh hari. Tapi memulai MPASI di saat pandemi seperti sekarang ini bisa jadi membuat para ibu sedikit was-was. Pembatasan sosial berskala besar (PSBB) yang tengah berlangsung sedikit banyak membuat semua orang harus mengikuti protokol yang sudah ditetapkan ketika keluar rumah. Alhasil, bayangan untuk membuat MPASI khusus untuk sang buah hati pun harus mengikuti bahan makanan yang mudah diakses selama pandemi.

MPASI rumahan lebih menjaga keberlangsungan hidup anak-anak

Menurut dr. Risya Nuria Ikhsyania, Ketua Divisi Komunikasi Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI) Bogor, selama orang tua memahami bahwa MPASI atau makanan pendamping ASI boleh mengikuti menu yang dipakai oleh anggota keluarga lain, maka semuanya akan jauh lebih praktis. “Apalagi seperti pandemi seperti sekarang, kita harus beralih ke survival mode atau mode bertahan hidup. Karena modenya adalah untuk bertahan hidup, maka kita harus bisa memanfaatkan apa saja,” jelas dr. Risya yang juga konselor menyusui di RS PMI Bogor ini.

Ia lalu bercerita, meski pandemi Covid-19 tengah terjadi, tapi kita masih beruntung karena tidak mengalami kekurangan bahan makanan dan aksesnya pun masih ada. Artinya, orang tua tetap dapat memberikan nutrisi optimal pada makanan anak melalui MPASI rumahan. Hal ini berbeda jauh jika yang terjadi adalah bencana alam yang sering kali membuat ketersediaan bahan makanan menjadi terbatas. Pada situasi bencana, dr. Risya bercerita, AIMI sering kali mengunjungi korban bencana untuk mendampingi para orang tua yang memiliki bayi bawah tiga tahun (batita) untuk memberikan MPASI rumahan. “MPASI rumahan pada prinsipnya selama orang tua dan anggota keluarga lain bisa makan, maka bayi juga bisa, jadi kita tidak perlu membeda-bedakan,” ucapnya pada live IG Story @AIMI_ASI. Live IG Story ini merupakan rangkaian dari perayaan ulang tahun AIMI yang ke-13. Ternyata, sambung dr. Risya, MPASI rumahan yang dimasak sendiri oleh orang tua terbukti lebih bisa menjaga keberlangsungan kehidupan anak-anak yang tengah memulai tahapan memakan makanan padat.

WHO menyebutkan MPASI adalah salah satu tahapan dari golden standard of infant feeding. Standar ini dimulai dari inisiasi menyusui dini saat melahirkan, ASI ekslusif sampai 6 bulan dan MPASI berkualitas sampai 2 tahun. “Semua tahapan ini harus sedekat mungkin dengan kebiasaan keluarga, termasuk saat MPASI. Jadi sebenarnya MPASI dalam keadaan apapun akan tetap mudah kalau orang tua memahami prinsip dasarnya yang adalah tidak membedakan makanan bayi dengan makanan keluarga.”

Bayi bisa mengonsomsi menu makan keluarga, hanya tingga mengatur teksturnya saja

Biasanya pertimbangan orang tua membuat MPASI khusus untuk bayinya adalah takut anak mengalami alergi. Menurut dr. Risya, alergi makanan tidak datang tiba-tiba. Artinya, orang tua bisa mengamatinya bahkan jauh sebelum bayi mulai MPASI. “Pada ibu menyusui, jika bayinya memiliki alergi atau hipersensitif pada satu jenis makanan tertentu, pasti orang tua tahu karena akan terlihat ada ruam atau diare.” Lalu, MPASI rumahan seperti apa yang bisa dibuat di tengah terjadinya pandemi Covid-19? “Bahan makanan apa saja yang tersedia di rumah,” jawab dr. Risya. Hanya saja pastikan MPASI yang diberikan kepada bayi mengandung 4 unsur gizi utama yang terdiri dari karbohidrat, protein hewani, protein nabati dan serat. Rumusan ini biasa disebut dengan MPASI 4 bintang. Adapun komposisinya adalah karbohidrat 35-55%, protein 15-20%, dan lemak 35-60%. Lalu bagaimana dengan serat? Tetap bisa diberikan tapi tidak dalam porsi yang besar karena serat perlu waktu lama untuk dicerna sedangkan sistem pencernaan bayi masih berkembang. “Jadi tetap yang utama adalah karbohidrat dan protein, sedangkan serat sifatnya hanya diperkenalkan.”

Jika diperhatikan 4 unsur gizi utama itu sudah terkandung di dalam menu makanan yang biasa dikonsumsi oleh keluarga. Dan karena pada prinsipnya apa yang sehat dimakan keluarga maka sehat juga untuk bayi. “Jadi apa yang makan orang tua atau anggota keluarga lainnya juga bisa dimakan bayi hanya tinggal menyesuaikan teksturnya saja.” Dr. Risya pun menyontohkan seperti sayur lodeh yang di dalamnya ada unsur protein nabati, serat dan lemak tambahan. “Sayur ini kan dibuatnya dengan ditumis lalu diberi santan, tinggal ditambah nasi dan ikan atau daging maka sudah jadi menu 4 bintang,” ucap dr. Risya. Atau boleh juga menjadikan nasi uduk sebagai MPASI karena kandungan gizinya juga sudah sangat komplit. Lagi-lagi dr. Risya mengingatkan bahwa pada prinsipnya makanan apapun yang dimakan keluarga bisa dijadikan MPASI rumahan. Sedangkan, untuk menyesuaikan tekstur yang aman untuk dikonsumsi bayi, dr. Risya menyebutkan cukup menggunakan benda-benda yang ada di rumah tidak perlu membeli alat khusus membuat MPASI. “Hanya modal ulekan dan saringan kawat untuk menghaluskan menu rumahan menjadi MPASI untuk bayi,” dr. Risya menyemangati