Daftar Vaksin untuk Bayi pada 24 Jam Pertama Kehidupannya

Vaksinasi merupakan tanggung jawab sangat penting bagi orang tua untuk bayi mereka. Terutama bayi baru lahir yang rentan terhadap berbagai penyakit menular karena tingkat kekebalan tubuhnya masih rendah.

Daftar Vaksin untuk Bayi pada 24 Jam Pertama Kehidupannya

Sebelum membahas lebih lanjut lagi mengenai vaksin untuk bayi baru lahir, mungkin Anda belum memahami pengertian vaksin. Menurut Centers for Disease Control and Prevention (CDC), vaksinasi merupakan ‘alat’ yang diberikan untuk merangsang sistem kekebalan tubuh agar kebal dari penyakit. Vaksin terbuat dari bibit penyakit (virus) yang telah dilemahkan, sehingga saat masuk ke dalam tubuh justru akan merangsang sistem imun manusia dan tidak menimbulkan penyakit.

Dijelaskan oleh IDAI (Ikatan Dokter Anak Indonesia) melalui situs resminya, tujuan vaksin bukan hanya untuk melindungi seseorang saja, namun dapat menjaga sekelompok masyarakat terhadap penyakit tertentu. Bahkan, vaksin dapat menghilangkan suatu penyakit, sehingga pada akhirnya tercapailah tujuan akhir imunisasi, yaitu pemberantasan penyakit di dunia. Untuk mencapai tujuan tersebut, vaksin harus diberikan sesuai jadwal yang telah ditentukan. Jika ada imunisasi yang belum diberikan sesuai jadwal seharusnya atau imunisasi tertunda, harus secepatnya diberikan hingga lengkap.

Vaksin HB Wajib untuk Bayi Baru Lahir

Di Indonesia, jadwal pemberian vaksin yang terkini mengikuti rekomendasi IDAI tahun 2017. Untuk bayi baru lahir, ia harus mendapat vaksin Hepatitis B (HB) dalam waktu 12 jam setelah lahir. Hepatitis B sendiri merupakan peradangan pada hati yang disebabkan oleh infeksi virus hepatitis B. Dibanding hepatitis jenis lainnya, hepatitis B paling ditakutkan karena dapat menjadi kronik, yakni infeksi virus hepatitis B yang menetap pada seseorang minimal selama 6 bulan.

Pada Parentstory, dr. Taufiqur Rahman, SpA, menjelaskan, bahwa Hepatitis B merupakan penyakit yang sangat menular dengan angka kesakitan dan kematian cukup tinggi. “Pencegahan Hepatitis B yang terbukti paling efektif adalah dengan vaksinasi. Jika bayi atau anak tidak pernah diimunisasi, maka di dalam tubuhnya tidak terbentuk antibodi terhadap virus hepatitis B. Akibatnya jika terjadi penularan baik melalui jalur horizontal maupun vertikal, maka akan terjadi infeksi virus hepatitis B dengan segala konsekuensinya,” jelas dokter spesialis anak yang aktif di Instagram dengan akun bernama @taura_taura dan @info_pediatri ini.

Menurut dr. Taufiqur Rahman, pemberian vaksin HB yang ideal adalah sesegera mungkin setelah bayi lahir, sehabis disuntik vitamin K. Kemudian, bayi dilatih menyusu pada ibunya setelah sebelumnya dilakukan IMD (Inisiasi Menyusu Dini). “Berdasarkan peraturan Menteri Kesehatan No.12 tahun 2017, pemberian Hepatitis B paling optimal diberikan pada bayi kurang dari 24 jam pascapersalinan, dengan didahului suntikan vitamin K1 pada 2-3 jam sebelumnya. Khusus daerah dengan akses sulit, pemberian Hepatitis B masih diperkenankan sampai kurang dari 7 hari,” tambah Taufiqur Rahman.

Ditularkan Melalui Dua ‘Jalan’

Penularan virus Hepatitis B dapat melalui 2 jalan. Pertama, penularan secara horizontal yang terjadi jika ada kontak antar cairan tubuh, misalnya transfusi darah, hubungan seksual, penggunaan jarum suntik secara bergantian, dan lainnya. Kedua, adalah penularan secara vertikal yang terjadi melalui transplacental. “Ini berarti ibu dengan HBs Ag + atau positif terinfeksi virus Hepatitis B, akan menularkan virusnya ke bayi yang dikandungnya melalui plasenta. Penularan vertikal ini bisa terjadi intrauterin (saat dalam kandungan), intrapartum (saat proses persalinan) maupun setelah lahir,” ungkap dr. Taufiqur Rahman.

Dokter spesialis anak yang praktik RS Muhammadiyah Lamongan ini mengatakan pula, bahwa beberapa penelitian menyimpulkan, semakin dini bayi terinfeksi virus hepatitis B, maka semakin tinggi juga potensi bayi tersebut menjadi hepatitis B kronis. Infeksi virus hepatitis B mula-mula akan menyebabkan terjadinya Hepatitis B akut yang sebagian akan mengalami penyembuhan, namun sebagian akan menjadi hepatitis B kronis. “Hepatitis B kronis inilah yang menjadi momok dunia kedokteran hingga saat ini. Selain penanganannya sulit, obat-obatan anti virus hepatitis B harganya cukup mahal. Angka kesembuhannya rendah, juga akan (sebagian besar) menimbulkan beberapa komplikasi antara lain kanker hati, gagal hati, dan sirosis hati yang sebagian berujung pada kematian.”

Bila si Kecil Tertular Ibunya

Angka penularan virus hepatitis B ini sangat tinggi, terutama yang melalui jalur vertikal. Akibat yang ditimbulkannya pun sangat menakutkan, yakni 90% akan menjadi hepatitis B kronis dengan segala kemungkinan komplikasinya. Untuk itu, IDAI merekomendasikan, pada bayi yang lahir dari ibu yang menderita infeksi virus HB aktif, maka harus diberikan imunisasi hepatitis B bersamaan dengan pemberian imunoglobolin hepatitis B (HBIg) segera setelah lahir di paha kanan dan kiri bayi.

HBIg atau Hepatitis B Immunoglobolin adalah antibodi terhadap virus HB. Antibodi ini sifatnya ‘buatan’ dan ‘instan’. Begitu disuntik, dapat langsung bekerja mengikat dan menon-aktifkan antigen dari virus Hepatitis B yang didapat bayi dari ibu. Sedangkan imunisasi Hepatitis B, akan merangsang bayi membentuk antibodi ‘alami’ terhadap virus hepatitis B. Antibodi alami ini sifatnya tidak instan, butuh waktu beberapa hari hingga beberapa minggu. Sementara itu, masa kerja antibodi ‘buatan’ yang berasal dari HBIg akan melemah seiring berjalannya waktu dan akan digantikan tugasnya oleh antibodi ‘alami’.