Banner Promo Image
Menangkan iPhone 11 dengan bergabung di Parentstory!
Daftar Sekarang

Dear Parents, Jangan Malas Bacakan Cerita pada Anak

Anak yang gemar membaca berpotensi memiliki IQ lebih tinggi 6 poin ketika dewasa nanti.

Dear Parents, Jangan Malas Bacakan Cerita pada Anak

The Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) menyebutkan, Indonesia merupakan negara dengan budaya membaca yang paling rendah dan ini sudah berlangsung dari tahun ke tahun. Bahkan Menteri Keuangan RI Sri Mulyani pernah mengatakan akibat budaya membaca yang rendah ini maka kita butuh 45 tahun untuk mengejar kemampuan membaca, dan butuh waktu 75 tahun untuk mengejar ketertinggalan Sains.

Tanoto Foundation Inisiator Gerakan Literasi Indonesia Cinta Membaca

Karena itu, Tanoto Foundation membuat serangkaian acara untuk mengampanyekan bahwa kegiatan membaca adalah kebiasaan yang menyenangkan. Adapun gerakan literasi ini diberi nama Indonesia Cinta Membaca dan dimulai bertepatan dengan hari Literasi Internasional pada 8 September sampai Desember mendatang. Mengapa Tanoto Foundation mendukung gerakan literasi seperti ini? Eddy Hendry, Head of Early Childhood and Development Tanoto Foundation menjawab, bicara literasi sebenarnya bukan hanya kemampuan membaca tapi juga memahami isi bacaan. “Saat ini belum banyak diterapkan kebiasaan membaca di usia dini. Apalagi, anak-anak sekarang lebih akrab dengan gadget, dan kebiasaan mendongeng jadi berkurang. Kami ingin ada gerakan literasi Indonesia Cinta Membaca guna memastikan anak-anak memiliki kebiasaan membaca sejak usia dini,” paparnya pada E-Media Workshop “Manfaat Storytelling untuk Perkembangan Karakter Anak” pada 30 September kemarin.

Mengapa sejak usia dini, karena menurut Eddy, otak manusia berkembang sangat pesat di 1000 hari pertama kehidupan. Di masa inilah sinaps-sinaps otak terbentuk dan saling terhubung dengan cepat. “Jadi sebenarnya usia dini adalah investasi yang sangat besar. Tujuan utama kami adalah, agar setiap anak mencapai potensi belajar mereka dan ini selaras dengan dukungan kami pada pemerintah untuk menekan angka stunting,” ucapnya seraya menekankan bicara stunting bukan soal gizi saja tapi juga soal aktifnya pola asuh dan kualitas pengasuhan orang tua serta pembelajaran di sekolah.

Kebiasaan Membaca Memengaruhi Pembentukan Karakter Anak

Hal senada pun disampaikan Satria Dharma. “Reading is the heart of education. Anak yang tiap hari sekolah tapi tidak membaca, sebenarnya dia tidak mendapatkan pendidikan,” tegas Satria yang sejak 2005 sudah menggagas Gerakan Literasi Sekolah yang kini sudah ditetapkan sebagai program nasional. Ia kemudian bercerita, bagaimana 15 menit saja membacakan buku atau storytelling pada anak setiap harinya bisa memperkaya kosa kata hingga 1 juta kata dalam setahun. Itu mengapa sebenarnya masa depan anak sangat dipengaruhi oleh kegemarannya membaca buku. Karena beragam penelitian mengungkapkan anak yang rajin membaca ternyata IQ-nya lebih tinggi 6 poin dibanding anak yang tidak suka membaca. Dan anak yang tidak memiliki kemampuan literasi ternyata cenderung lebih mudah drop out.

Itu mengapa menurut Satria, anak-anak harus ditantang untuk membaca buku seperti yang dilakukan di Australia. “Anak-anak mereka di-challenge untuk membaca 1000 buku sebelum masuk TK dan ini bukan hal yang sulit jika orang tuanya membacakan 2 buku setiap hari!” tegas Satria. Dampak dari budaya literasi yang rendah, disebutkan Satria terlihat dari status Indonesia sebagai pengirim buruh migran terbesar. “Karena kemampuan literasi kita rendah, maka tidak mampu menggerakkan roda perekonomian negara kita sendiri,” ucap Satria seraya menyebutkan literasi yang rendah juga membuat hoax dan hate speech merajalela. Tapi sebenarnya menurut Satria, anak-anak Indonesia memiliki minat baca yang sama besarnya dengan negara lain. Sumber masalahnya adalah ternyata sejak kecil dan selama di sekolah, anak-anak Indonesia tidak diwajibkan membaca buku. Bahkan jika dibandingkan dengan Thailand, siswa SMA di sana wajib membaca 5 judul buku, dan di Amerika Serikat mengharuskan untuk membaca 32 judul buku. “Di SMA Indonesia, 0 judul. Ini fakta yang menyakitkan. Jadi anak-anak kita rabun membaca serta menulis dan sudah pasti prestasinya rendah.”

Lantas Bagaimana Memulai Budaya Membaca?

Awam Prakoso membagikan filosofinya dalam menularkan kebiasaan membaca. “Seperti membakar obat nyamuk, dimulai dari titik paling dalam, yaitu keluarga yang kemudian lama kelamaan meluas sampai tingkat kelurahan, kecamatan, provinsi dan seluruh negeri,” jawab pendongeng yang akrab disapa Kak Awam ini. Membacakan buku kepada anak menurut Awam sama seperti menyediakan makanan, jadi haruslah menggugah selera, mengenyangkan, dan pastinya menyehatkan. Jadi sebelum membacakannya kepada anak, orang tua harus tahu betul isi cerita yang akan disampaikan. Sedangkan untuk teknik membacanya sendiri bisa dengan read a loud atau membaca dengan lantang. “Ini benar-benar membaca naskah yang ada di dalamnya tanpa improvisasi, tapi bisa dibuat suara penokohan agar anak tertarik.”

Adapun membacakan cerita dengan improvisasi adalah mendongeng. Ini ibarat sebuah pertunjukan, maka harus bisa menggambarkan tokoh dan alur cerita dengan baik. Intinya, baik membacakan buku dengan nyaring atau mendongeng haruslah dilakukan dalam suasana yang menyenangkan. Dan untuk menularkan kesadaran bahwa membaca penting dilakukan sejak dini, Tanoto Foundation melalui gerakan Indonesia Cinta Membaca juga membuat kompetisi Momen Baca Bersama di media sosial. Dengan cara, orang tua mengunggah momen membaca buku bersama anak, lalu, tag 3 orang temannya dan ada hadiah menarik disediakan setiap bulannya. Aktivitas lain yang juga dalam rangkaian Indonesia Cinta Membaca adalah, weekly story telling di Instagram Live, membacakan cerita di radio-radio di daerah, serta mengadakan pelatihan story telling bagi pengajar PAUD yang bermitra dengan Tanoto Foundation seperti yang ada di Jakarta, Kutai Kartanegara, dan Pandeglang.

Temukan pilihan aktivitas, kelas, dan kegiatan edukatif untuk anak dan orang tua, serta beragam artikel menarik seputar kesehatan, parenting, dan gaya hidup keluarga modern. Download aplikasi Parentstory sekarang di App Store dan Google Play Store.