Disabilitas Tak Menghalangi Langkah Laninka pada Impian Tanpa Batas

Meski memiliki keterbatasan dalam bergerak, beauty vlogger Laninka Siamiyono tetap mampu mewarnai dunia, hingga memiliki puluhan ribu ‘subscribers’.

Laninka Siamiyono

Pernahkah Anda mendengar tentang penyakit autoimmune? Berdasarkan penjelasan dari dokter spesialis internis, Dr. Stacy Sampson, DO, yang menetap di Amerika Serikat, dijelaskan, bahwa penyakit autoimun adalah suatu kondisi di mana sistem kekebalan Anda secara keliru menyerang sel tubuh Anda. Sistem kekebalan biasanya melindungi tubuh dari kuman seperti bakteri dan virus. Nah, saat ia mendeteksi ‘penyerang’ ini, sistem kekebalan mengirimkan pasukan untuk menyerang sesuatu yang dianggap kuman tersebut.

Biasanya, sistem kekebalan dapat membedakan antara sel asing dan sel tubuh Anda sendiri. Tetapi, pada pasien penyakit autoimun, sistem kekebalan salah menganggap bagian tubuh Anda, seperti persendian atau kulit, sebagai benda asing. Sehingga, tubuh melepaskan protein yang disebut autoantibodi untuk menyerang sel sehat. Terdapat lebih dari 80 penyakit autoimun berbeda, namun ada 14 jenis penyakit autoimun paling umum, salah satunya Rheumatoid Arthritis (RA), yang diderita oleh Laninka Siamiyono.

Mengidap RA Sejak Remaja

Pada Parentstory, perempuan berusia 29 tahun ini menceritakan perjalanannya sebagai seseorang dengan penyakit autoimun. “Di usia 14 tahun, aku didiagnosa mengidap autoimmune yang tipenya Rheumatoid Arthritis (RA). Yang paling aku ingat tentunya rasa sakit di seluruh badanku, tepatnya di persendian. Saat itu, kalau ada seseorang yang duduk di tepi kasur atau ada pergerakan di kasurku saja, bisa membuat aku kesakitan,” kenang beauty vlogger yang aktif di Instagram dengan akun bernama @laninka ini.

Meski kini Laninka adalah seorang disabilitas yang inspiratif dan produktif, namun hal tersebut tak didapatkannya dalam waktu sekejap. Laninka membutuhkan waktu 10 tahun untuk bisa menerima kondisi disabilitasnya. “Aku terlahir bukan sebagai penyandang disabilitas. Ini membuat mentalku drop ketika harus berhadapan dengan fakta kalau aku harus berkursi roda,” tuturnya.

Selama 10 tahun, Laninka menjauhi semua orang, mulai dari teman hingga keluarga besar. Laninka menambahkan, “Aku merasa tidak layak untuk mendapatkan apa yang aku mau. Tapi, suatu ketika aku enggak sengaja membaca sebuah hadis di agamaku yang berbunyi, ‘Sebaik-baiknya manusia, adalah manusia yang bermanfaat’. Kalimat tersebut membuatku sadar, bagaimana aku bisa bermanfaat untuk orang lain kalau aku enggak bermanfaat untuk diriku sendiri? Sudah diberi napas, kehidupan, nikmat rasa sakit, tapi enggak bersyukur atas hal itu. Bagiku, rasa syukur adalah bentuk bermanfaat untuk diri sendiri.”

Makeup adalah Terapi bagi Laninka

Setelah itu, Laninka pun ‘bergerak’ meski memiliki keterbatasan. Laninka pun aktif membuat video blog tutorial makeup di Youtube. Dengan kondisinya saat ini yang membuat Laninka mengandalkan kursi roda untuk bergerak, ia menjadi beauty vlogger terkenal yang memiliki lebih dari 10 ribu subscribers, di akun Youtube-nya yang bernama The Wheelchair Girl. Mengapa Laninka memilih makeup sebagai ‘terapi’ untuknya? “RA membuat aku menjadi penyandang disabilitas, selain ingin bermanfaat untuk diri sendiri dan orang sekitar, makeup juga menyembuhkan psikis atau jiwaku,” ungkapnya.

Menurut Laninka, makeup membuatnya sadar kalau ia masih berhak meraih apa yang diinginkan, dan membuatnya tetap merasa nyaman dengan dirinya sendiri. “Dari hal ini aku sadar, pasti banyak orang yang merasakan apa yang aku rasakan, dan aku ingin makeup tak hanya melakukan hal yang ia lakukan cuma terhadap diriku, tapi juga ke orang lain. Dan, media yang sedang berkembang saat itu adalah Youtube. Aku yakin, Youtube bisa menyampaikan pesan-pesanku melalui video yang aku buat.”

Bagi Laninka, pengalaman yang paling berkesan dan tak terlupakan selama menjadi beauty vlogger adalah mendapatkan dukungan dari banyak orang. Laninka juga bersyukur ia dapat membantu orang-orang yang mengalami kondisi sepertinya. Entah itu RA atau penyandang disabilitas lainnya. Laninka juga senang bisa bekerjasama dengan banyak orang hebat, yang tentunya juga sekaligus membantu orang lebih banyak lagi. Inilah mengapa Laninka tak hanya membuat video tutorial, tapi juga menjalankan kegiatan-kegiatan positif lainnya. Di pertengahan 2018, Laninka menciptakan program Lipstick for Difable. Di program ini, ia berhasil mengumpulkan lebih dari 2.000 lipstik dengan berbagai macam warna dan merek untuk dibagikan kepada 1.800 perempuan penyandang disabilitas.

Disabilitas Bukan Berarti Hidup Tak Sempurna

Melihat semangat positif Laninka, mungkin Anda membayangkan bagaimana bentuk dukungan maupun pola asuh dari orang tuanya, sehingga Laninka bisa menjadi perempuan yang inspiratif? Laninka menjawab, “Ayahku keras banget. Beliau memberikan dukungan dengan cara yang menurutku, pada saat itu menyiksa sekali. Tapi aku sadar, mungkin kalau ayahku tidak memberikan support seperti itu enggak akan ada Laninka yang sekarang. Aku bersyukur memiliki orang tua yang bisa saling mengisi. Di saat ayahku super keras, ada ibuku yang menenangkan, atau lebih tepatnya, mampu mencairkan suasana hatiku ketika sedih.”

Walaupun belum menikah dan memiliki anak, Laninka memahami bahwa menjadi orang tua dari anak dengan disabilitas atau berkebutuhan khusus (ABK) bukanlah hal mudah. “Aku mengerti kalau pengalaman memiliki anak berkebutuhan khusus di luar bayang-bayang orang tua. Kita adalah human being yang mudah merasa kecewa, lelah, dan marah,” cerita Laninka.

Sama seperti kedua orang tuanya yang pernah melihat dirinya tidak berdaya di kasur rumah sakit, ia mengerti kalau perasaan yang dialami oleh orang tuanya, mungkin pernah pula dirasakan oleh para orang tua yang memiliki anak disabilitas atau berkebutuhan khusus. Laninka mengatakan, “Berkat saling mengerti satu sama lain, antara orang tua dan anak, akan tercipta support yang luar biasa. Bukan hanya orang tua ke anak, tetapi anak ke orang tua. Karena itu, berikanlah dukungan sesuai kebutuhan anak dan carilah support system yang baik,” pesan Laninka pada para orang tua dari ABK.

Laninka juga berpesan pada para penyandang disabilitas lainnya agar tetap semangat dan mau terus berkarya. “Kata ‘sempurna’ diciptakan oleh lingkungan. Ketidakmampuan kita untuk bisa berjalan, melihat, mendengar, dan sebagainya, bukan berarti hidup kita tidak sempurna. Kita hanya menjalani kehidupan dengan cara yang berbeda. Faktanya, setiap orang menjalani kehidupan yang berbeda juga, mau itu disabilitas ataupun non-disabilitas,” pungkas Laninka menutup percakapan.