Imunisasi Saat Pandemi, Begini Panduannya!

Sebelum membawa anak ke fasilitas kesehatan untuk imunisasi, lakukanlah check list berikut ini!

Membawa anak vaksinasi dan imunisasi saat pandemi, begini aturannya!

Dengan semakin merebaknya wabah coronavirus atau Covid-19, masyarakat tidak hanya diminta untuk bekerja, belajar, dan beribadah di rumah saja tapi juga disarankan tidak ke rumah sakit kecuali keadaan darurat. Himbauan untuk tidak datang ke rumah sakit ini datang dari perhimpunan dokter di Indonesia, termasuk Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI). Adalah para ibu yang langsung merasa dilematis ketika membaca himbauan tersebut. Khususnya, para ibu yang anaknya masih di bawah usia 1 tahun. Karena, para ibu ini masih harus sering bolak-balik ke rumah sakit untuk memenuhi jadwal imunisasi anak. Tapi, apakah aman membawa anak imunisasi ke rumah sakit saat pandemi seperti ini? Apakah imunisasi perlu ditunda sampai pandemi mereda?

Imunisasi sebaiknya dilakukan sesuai jadwal

Dalam sesi tayang langsung atau live melalui Instagram IDAI, Prof. Dr. Cissy B. Kartasasmita, Msc, PhD, Sp.A(K) menyarankan agar imunisasi idealnya dilakukan sesuai jadwal. “Imunisasi seyogyanya tidak diundur untuk menghindari kemungkinan infeksi pada anak di sela jangka waktu tersebut,” jawab Prof. Cissy yang adalah Ketua Satgas Imunisasi IDAI ini. Lebih lanjut Cissy menjelaskan, imunisasi pada saat pandemi tetap harus menyesuaikan dengan kondisi masing-masing, seperti apakah tempat tinggal termasuk dalam daftar zona merah Covid-19 atau tidak. Jika situasinya tidak memungkinkan, penundaan imunisasi bisa saja dilakukan. “Tapi begitu ada kesempatan, lakukan sesegera mungkin. Penundaan misalnya karena posyandu atau puskesmasnya tutup.”

Guru Besar Ilmu Kesehatan Anak dan Kepala Divisi Respirologi Departemen Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran ini pun menjelaskan, mengapa imunisasi seyogyanya dilakukan sesuai jadwal. Pada anak di bawah 1,5 tahun masih harus mendapatkan beberapa vaksin dasar yang diberikan dalam beberapa kali suntikan. Pada suntikan pertama, secara teori Prof. Cissy menjelaskan, bekerja dengan cara menghasilkan memori dalam tubuh. Antibodi baru terbentuk ketika mendapat suntikan imunisasi lanjutan yang diberikan pada jeda waktu tertentu dari suntikan pertama. Prof. Cissy lalu memberi contoh, imunisasi DPT yang diberikan sebanyak 3 kali. Pada suntikan pertama, sel memori tubuh baru bekerja. Lalu di suntikan kedua dan ketiga, tubuh mulai memproduksi antibodi. “Kalau hanya diberi 1 kali, maka tubuh tidak terproteksi maksimal, karena hanya sampai membentuk sel memorinya saja, belum ada ‘pabrik’ antibodinya. Atau kalau hanya sampai 2 kali suntikan, sel memorinya sudah ada tapi ‘pabrik’ antibodinya baru sebagian dihasilkan jadinya tetap tidak optimal memproteksi.”

Jika situasi tidak memungkinkan untuk dilakukan imunisasi karena pandemi, Prof. Cissy menyebutkan tak apa untuk menunda sekitar 2 minggu. “Tapi begitu situasinya memungkinkan, lakukan imunisasi sesegera mungkin,” Prof. Cissy kembali menegaskan. Atau, jika ternyata fasilitas kesehatan yang biasa Anda pilih untuk mengimunisasi anak tutup, Prof. Cissy mengatakan sah-sah saja untuk pindah fasilitas kesehatan. “Selama catatan atau buku imunisasinya lengkap mencatat semua imunisasi yang sudah didapat anak, maka bisa dilakukan di fasilitas kesehatan mana saja, boleh di bidan, dokter, puskesmas, atau klinik khusus imunisasi.”

Check list sebelum dan sesudah imunisasi anak

Dan, untuk membekali Anda dengan rasa aman membawa anak imunisasi ke fasilitas kesehatan saat pandemi seperti sekarang, Prof. Cissy menyebutkan hal-hal apa saja yang perlu mendapat check list sebelum dan sesudah imunisasi.

  • Pastikan anak dalam keadaan sehat atau tidak mengalami demam atau gejala sakit lainnya.
  • Pastikan pendamping yang menemani anak untuk imunisasi dalam keadaan sehat. Sebaiknya saat pandemi seperti sekarang, anak hanya didampingi oleh 1 orang dewasa ketika imunisasi.
  • Tanyakan pada fasilitas kesehatan apakah mereka memisahkan ruangan antara anak yang  imunisasi dengan yang konsultasi ke dokter karena sakit.
  • Pastikan fasilitas kesehatan memiliki ruang yang cukup luas agar pada saat menunggu giliran imunisasi Anda tetap bisa menerapkan physical distancing atau jaga jarak aman minimal 1. Atau jika tempat fasilitas kesehatan penuh, sebaiknya Anda dan anak menunggu di mobil. Baru saat tiba giliran imunisasi, anak dibawa ke ruang tunggu.
  • Pastikan fasilitas kesehatan memiliki tempat cuci tangan lengkap dengan ketersediaan sabun bersih serta air mengalir. Pendamping wajib mencuci tangan saat masuk dan keluar dari fasilitas kesehatan.
  • Pendamping wajib menggunakan masker selama mengantar anak ke fasilitas kesehatan untuk imunisasi.
  • Tunggulah sekitar 30 menit setelah imunisasi untuk melihat ada atau tidaknya reaksi alergi berat pada anak pasca imunisasi.
  • Begitu sampai di rumah, segera ganti baju anak. Sedangkan untuk pendamping harus langsung mandi dan mengganti baju baru aman untuk menggendong anak kembali.
  • Jangan lupa juga langsung merendam pakaian, gendongan, kaos kaki, sarung tangan anak dan pendamping yang dipakai saat ke fasilitas kesehatan untuk imunisasi.

Untuk merespon pada kebutuhan ibu dan anak, beberapa fasilitas kesehatan khusus imunisasi bahkan menyediakan fasilitas imunisasi ke rumah. Ini bisa juga menjadi alternatif pilihan Anda untuk memastikan anak diimunisasi sesuai jadwal tanpa perlu membawanya keluar rumah.

0 Komentar