Kekurangan Zat Besi Pengaruhi Performa Kognitif Anak

Vitamin C akan membantu penyerapan zat besi dalam tubuh secara optimal.

Zat Besi pada Anak

Grafik pertumbuhan otak dan fisik anak terjadi paling pesat dalam 5 tahun pertama, setelah ini mulai melandai. Adapun pada rentang usia 1-6 tahun, ini disebut sebagai periode anak pra sekolah. Periode pra sekolah ini kemudian dibagi menjadi dua, yaitu toddler yaitu 1-3 tahun dan preschool yaitu 3-6 tahun. Pada periode pra sekolah, anak mengalami pematangan organ dan perkembangan motorik yang sangat pesat.

Untuk itu diperlukan lingkungan gizi yang memadai. Kekurangan gizi yang terjadi pada masa ini bersifat irreversible. “Yang artinya adalah bila sudah rusak maka permanen, dan tidak bisa diperbaiki,” ungkap Prof. Dr. drg. Sandra Fikawati, M.P.H pada diskusi bertajuk Efek Kekurangan Zat Besi Pada Kemampuan Belajar Anak yang digelar Forum Ngobras dan Danone Specialized Nutrition Indonesia tepat pada Hari Gizi Nasional kemarin (25/1).

1 dari 3 Anak di Indonesia Mengalami Anemia!

Kebutuhan zat besi pada anak sangat tinggi sejak usia 1 tahun dan harus dipenuhi melalui MPASI atau makanan pendamping ASI. Namun dijelaskan Prof. Fika hanya 0,1% anak berusia 1-3 tahun di Indonesia yang mengonsumsi daging serta olahannya. Dengan pola makan yang demikian, maka tak heran bila prevalensi anemia pada balita di Indonesia terus meningkat. Jika pada Riskesdas 2013 prevalensi anemia pada balita adalah 28,1% maka pada Riskesdas 2018 menjadi 38,5%. Prof. Fika juga menyebutkan sebanyak 50-60% angka kejadian anemia disebabkan oleh kekurangan zat besi. Alhasil anemia defisiensi besi memang lebih rentan dialami anak, terutama pada akhir masa bayi dan awal masa kanak-anak.

Lantas, apa yang menyebabkan defisiensi zat besi pada anak usia pra sekolah? Prof Fika yang adalah Ahli Gizi Kesehatan Ibu dan Anak serta Guru Besar Fakultas Ilmu Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia ini, kemudian menjawab penyebab utamanya adalah kurangnya asupan zat besi dari makanan saat hamil, atau kurangnya zat besi yang dikonsumsi anak. Karena setelah mendapat MPASI, anak harus mendapat sumber zat besi dari makanan hariannya. Prof. Fika secara tegas menyebutkan, kalau kekurangan zat besi tidak terjadi secara mendadak, namun bertahap. Diawali dengan penurunan jumlah zat besi yang kemudian membuat tubuh bereaksi dengan membuat lebih sedikit sel darah merah. Ini membuat pasokan oksigen ke organ-organ tubuh pun berkurang. Apa efeknya? Konsentrasi belajar menurun dan akhirnya performa belajar pun menurun. “Anak jadi malas mengerjakan tugas dan PR dari sekolah dan secara fisik ditandai dengan bagian bawah mata anak terlihat pucat, sering pusing, kuku dan telapak tangan tampak pucat serta mengalami gejala 5L, yaitu lemah, letih, lesu, lelah, dan lalai.” Demikian Prof. Fika memaparkan.

Bahkan, penelitian menyebutkan kalau anak usia 6-16 tahun yang mengalami defisiensi zat besi memiliki nilai matematika dan membaca yang lebih rendah ketimbang anak yang normal. Tak hanya performa kognitif anak yang terganggu, Prof. Fika juga menyebutkan kalau kekurangan zat besi pada anak usia pra sekolah juga akan membuat terlambatnya perkembangan psikomotorik.

Tips untuk Mengoptimalkan Asupan serta Penyerapan Zat Besi dalam Tubuh Anak

Lantas, berapa banyakkah zat besi yang seharusnya dikonsumsi oleh anak? Prof. Fika menjelaskan, untuk anak berusia 1-3 tahun membutuhkan 7 mg zat besi setiap hari. Tapi yang juga harus diketahui oleh para orang tua adalah kadar zat besi dalam tubuh dipengaruhi oleh konsumsinya. Artinya kalau pola makan tidak seimbang maka penyerapan zat besi di saluran cerna terganggu dan cadangan zat besi menjadi berkurang maka anak pun bisa kekurangan zat besi. Adapun sumber makanan yang tinggi akan zat besi adalah protein hewani seperti daging, ikan, ungags, dan hati. “Ini adalah sumber zat besi heme yang penyerapannya sangat baik di saluran cerna. Jadi agar daging mudah dikunyah serta tidak ditolak anak, masaklah daging hingga lunak.”

Untuk meningkatkan penyerapan zat besi, harus dibarengi dengan asupan vitamin C yang cukup. Prof. Fika menyarankan untuk memberikan vitamin C sebelum makan karena dengan situasi yang asam, zat besi lebih mudah diserap oleh saluran cerna. Adapun makanan serta minuman yang dapat menghalangi penyerapan zat besi adalah yang mengandung tanin seperti teh, kopi, cokelat, serta bikarbonat dalam minuman bersoda. Sebaiknya dijeda 2 jam sebelum atau sesudah makan bila ingin memberi anak makanan atau minuman tersebut. Selain mengonsumsi makanan yang tinggi kandungan zat besinya, Prof. Fika juga menyebutkan pentingnya konsumsi susu pada anak. “Susu memiliki skor cerna protein yang paling tinggi dibandingkan jenis makanan lainnya. Dan bentuknya yang cair membuatnya mudah untuk diberikan kepada anak sehingga semua zat gizi dalam susu termasuk fortifikasi zat besi bisa masuk semua,” jelas Prof. Fika seraya menyebutkan kalau susu fortifikasi bisa diberikan untuk anak usia 1 tahun ke atas.

Anak Usia PraSekolah Kekurangan Zat Besi Mengalami Defisit 5-10 Poin IQ

Sementara itu Ketua Himpunan Pengajar Anak Usia Dini (Himpaudi) Prof. Dr. Ir. Netti Herawati mengatakan hak sehat adalah hak setiap anak, termasuk mendapat kesehatan dan makanan yang bernutrisi. “Anak yang kekurangan zat besi menunjukkan belum terpenuhinya hak mendapatkan makanan dan pendidikan yang berkualitas." Ia menyebutkan anak-anak pra sekolah yang mengalami keterlambatan kognitif maupun psikomotor, saat mencapai usia sekolah akan mengalami gangguan kinerja dalam tes bahasa keterampilan, keterampilan motorik, dan kordinasi, serata dengan deficit 5-10 poin dalam IQ.

Berdasarkan analisis perkembangan anak usia dini di Indonesia tahun 2018, disebutkan ketahanan konsentrasi anak lebih rendah. Ini tentu berdampak langsung pada kemampuan literasi serta numerasi anak. Karena itu menurut Prof. Netti, mempersiapkan otak anak untuk belajar juga berarti memenuhi kecukupan gizinya. “Pintunya ada dua, yaitu nutrisi gizi dan nutrisi hati atau stimulasi,” ucapnya seraya menegaskan kalau kecukupan gizi dan stimulasi harus diberikan secara beriringan.