Kenali Infeksi Paru pada Balita

Pneumonia adalah penyebab kematian nomor dua untuk balita di Indonesia dan ini bisa dicegah dengan vaksinasi serta pemberian ASI eksklusif.

pneumonia pada anak

Setiap tanggal 20 November diperingati Hari Pneumonia Dunia. Dan tahun ini, Save the Children Indonesia mengadakan Festival Sehat Anak Indonesia untuk berbagi cerita pencegahan serta penanganan pneumonia pada anak. Mengapa pneumonia?

Riset John Hopkins University dan Save the Children menyebutkan, jika tidak dilakukan pencegahan pneumonia, maka pada tahun 2030 akan ada sekitar 11 juta kematian anak. Di Indonesia sendiri, berdasarkan Profil Kesehatan Indonesia 2019 menyebutkan, ada lebih dari 400.000 kasus pneumonia. Bahkan disebutkan juga kalau pneumonia adalah penyebab kematian nomor dua untuk anak balita di Indonesia. Apalagi di saat pandemi Covid-19 seperti sekarang, perhatian terkait penyakit paru semakin tinggi. Maka penting bagi orang tua untuk mengenali gejala pneumonia serta paham cara pencegahan dan penanganannya.

Bagaimana Pneumonia Bisa Terjadi?

Salah satu balita yang berhasil mengalahkan pneumonia adalah bayi Lala, bukan nama sebenarnya. Masih jelas di ingatan Vika, bagaimana Lala meraung kesakitan di ruang Instalasi Gawat Darurat (IGD) ketika harus dipasang nebulizer dan infus. Lala baru berusia 8 bulan ketika itu, dan harus berjuang keras selama 3 hari di bangsal rumah sakit untuk mengatasi bronkopneumonia. “Bunyi napasnya grek-grek gitu. Nafsu makan juga turun drastis. Saya ingin menangis. Saya hanya ingin Lala sembuh dan kembali ke rumah,” cerita Vika seperti dilansir dari rilis yang Parentstory terima. Beratnya perjuangan Lala mengalahkan penyakit inilah yang membuat Vika membagikan ceritanya.

Pneumonia sendiri merupakan penyakit infeksi paru yang disebabkan oleh virus, bakteri, jamur, atau campuran di antara ketiganya. Namun diperkirakan, sekitar 70% penyebab pneumonia berat adalah bakteri Streptococcus pneumonia atau pneumococcus dan Haemophilus influenza type B (Hib). Bayi dan balita dengan kondisi gizi buruk, rendahnya pemberian ASI eksklusif, tidak mendapatkan imunisasi lengkap membuat daya tahan tubuhnya melemah hingga rentan terkena pneumonia.

Lalu, apa sajakah gejala dari pneumonia yang harus diwaspadai orang tua? Batuk, napas cepat, dan sesak napas adalah gejala khas dari pneumonia. Adapun cara untuk memastikan apakah napas anak cepat dan sesak adalah dengan mengamati gerakan pada dinding dada atau perut anak saat bernapas. Dikategorikan napas cepat atau sesak jika frekuensi napas per menitnya pada bayi berusia 2 bulan adalah kurang dari 60 kali, sedangkan pada usia 2-11 bulan: kurang dari 50 kali. Sedangkan pada balita berusia 1-5 tahun, frekuensi napasnya kurang dari 40 kali dan di atas 5 tahun kurang dari 30 kali.

Selain batuk dan sesak napas, gejala lain yang juga menyertai ketika anak mengalami pneumonia adalah demam, tidak nafsu makan, lemas, mengalami gangguan pencernaan seperti diare, muntah dan sakit kepala. Segeralah periksakan anak ke dokter jika mengalami gejala-gejala ini.

Perlu keterlibatan semua pihak untuk menghentikan penularan pneumonia.

Mengingat tingginya angka kematian balita yang disebabkan oleh pneumonia, maka pada acara Festival Anak Indonesia, Ibu Hj. Wuray Ma’ruf menyebut soal pentingnya slogan STOP Pneumonia. “ASI eksklusif 6 bulan, tuntaskan imunisasi, obati anak jika sakit dan pastikan gizi yang cukup serta hidup sehat,” ucapnya mewakili Ibu Negara. Dan melengkapi ajakan Ibu Hj. Wuray, Menteri Kesehatan, Terawan Agus Putranto mengajak semua pihak untuk ikut serta mencegah serta menanggulangi pneumonia yaitu melalui tata Kelola pneumonia, meningkatkan akses pelayanan kesehatan balita, mengajak masyarakat berperan serta dalam mendeteksi dini penyakit serta perluasan vaksin PCV. Menteri Terawan juga mendorong masyarakat untuk menggunakan terus Buku Kesehatan Ibu Anak yang sudah ada sejak tahun 1993.

Hal yang sama juga disampaikan CEO Save the Children Indonesia, Selina Patta Sumbung. Dalam acara yang sama, ia mendorong berbagai pihak termasuk swasta untuk terlibat bersama dalam gerakan STOP Pneumonia ini. “Save the Children bersama Kementerian Kesehatan RI, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, dan peran lembaga usaha seperti PT. Pfizer akan bersama mengatasi pneumonia pada anak, agar julukan ‘The Forgotten Killer’ atau ‘Pembunuh yang terlupakan’ bisa dihasilkan,” katanya seraya menyebutkan 15 persen dari semua angkat kematian balita disebabkan oleh pneumonia. Di Indonesia sendiri, sambung Selina, pneumonia dan diare adalah penyebab utama kematian balita dan anak.

Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak pun turun memberikan dukungannya. Menteri Bintang Puspayoga berpesan, agar ayah dan ibu bersama-sama berupaya memastikan pengasuhan keluarga berbasis hak anak dan pemenuhan hak anak. “Mari kita jadikan momentum Hari Pneumonia Dunia 2020, untuk memperkuat komitmen dalam memastikan kesehatan anak-anak Indonesia. Untuk menjadi anak yang cerdas dan pintar, mereka juga harus mempunyai kondisi fisik yang kuat. Anak terlindungi, Indonesia Maju,” tegas Menteri Bintang.