Kenali Zat Aktif dalam Obat Batuk yang Tidak Aman untuk Balita

Obat-obatan ini memiliki efek samping berbahaya jika diberikan pada anak di bawah 5 tahun.

Zat aktif obat batuk yang berbahaya bagi anak

Pada anak sakit, insting orang tua langsung bekerja mencari solusi terbaik untuk membantu anak melawan penyakitnya. Dan, salah satu penyakit yang paling sering dialami anak balita adalah batuk atau flu. Sebagian besar penyebab batuk adalah virus yang bisa menginfeksi tubuh anak sampai 2 minggu. Dokter tidak akan memberikan antibiotik pada anak yang mengalami batuk karena virus, karena antibiotik hanya ampuh mengatasi bakteri.

Sebenarnya, anak berusia di bawah 6 tahun tidak direkomendasikan minum obat batuk selama penyakit ini tidak membuat tidurnya terganggu. Karena itu sebaiknya berkonsultasilah ke dokter spesialis anak untuk menganalisa seberapa penting anak membutuhkan obat batuk. Dokter akan memilih obat dengan bahan aktif yang aman untuk anak serta mengukur dosis yang tepat untuknya. Tapi, tak ada salahnya Anda juga membaca apa saja bahan aktif yang ada di dalam obat batuk yang diberikan dokter. Untuk apa? Memastikan semua bahan aktif yang ada di dalam obat batuk memang aman untuk anak. Karena ada beberapa zat aktif dalam obat batuk yang seringkali tidak disadari bisa menghasilkan efek samping berbahaya bagi anak. Zat aktif apa sajakah itu?

Kodein

Pada April 2017, Food and Drugs Administration (FDA) melarang pemberian obat yang mengandung bahan aktif kodein untuk anak-anak. Mengapa? Karena ternyata kodein mengandung senyawa opiat yang adalah turunan dari opium. Kodein bekerja dengan cara mempengaruhi sistem saraf pusat sehingga bisa mengurangi batuk (antitusif). FDA menjelaskan, kodein jika diberikan kepada anak justru akan membahayakan nyawanya. Tidak hanya karena memiliki unsur narkotika tapi juga membuat anak bisa mengalami kesulitan bernapas. Dalam pernyataan resminya, seperti dilansir dari WebMd, ibu menyusui juga tidak disarankan mengonsumsi obat dengan kandungan zat aktif kodein karena opiat bisa menyusup masuk ke dalam ASI. Bisa jadi opiat yang diserap bayi dari ASI ibu berjumlah sangat sedikit, tapi dosis kecil saja langsung diserap pembuluh darah bayi maka sangat berisiko untuk keselamatannya.   


Sepaham dengan FDA, American Academy of Pediatrics (AAP) juga melarang pemberian kodein kepada anak-anak. Karena kodein yang ketika diserap oleh pembuluh darah anak justru aktif menekan sistem pernapasan. Alhasil, pernapasan anak pun terganggu bahkan bisa berujung pada kematian. Dr. Douglas Throckmorton, Direktur Divisi Evaluasi dan Penelitian Obat FDA, menyebutkan di Amerika Serikat sepanjang 2014 setidaknya ada sekitar 1,9 juta anak berusia di bawah 18 tahun diberikan resep obat yang mengandung kodein. Dengan adanya evaluasi terbaru dari FDA ini maka aturannya pun diperketat, yaitu pelarangan pemberian obat mengandung kodein dan tramadol untuk anak berusia di bawah 12 tahun. 

Lalu bagaimana aturannya di Indonesia? Sudah sejak Maret 2015, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) melarang pemberian kodein untuk anak-anak. Adapun efek samping dari kodein jika diberikan kepada anak adalah pusing, mulut kering, mual dan muntah, sembelit, sakit perut hingga ruam. Segeralah bawa anak ke dokter jika efek sampingnya semakin berat seperti demam, gemetar, denyut jantung tak beraturan, napas tersengal-sengal, keringat berlebihan, kejang-kejang dan pingsan.

Dextromethorphan

Zat aktif obat ini biasanya ada pada obat batuk jenis suppressant yang berfungsi menekan batuk. Penelitian pada 2004 menunjukkan kalau ternyata zat aktif ini tidak efektif meredakan batuk pada anak-anak. Plus cara kerja zat aktif ini yang menekan pusat batuk dirasa terlalu berisiko untuk anak. Karena pada dasarnya, batuk adalah mekanisme tubuh untuk mengeluarkan lendir atau benda asing yang menginvasi organ pernapasan. Pada anak yang belum bisa mengeluarkan lendir, ketika minum obat ini akan membuat lendir tertahan di paru-paru hingga berisiko mengakibatkan pneumonia. Disamping itu, zat aktif ini juga akan membuat anak-anak menjadi lebih mengantuk. Memang batuknya jadi berkurang dan anak bisa tidur lebih lelap, tapi kondisi ini justru bisa membuat anak berisiko untuk mengalami dehidrasi.

0 Komentar