Makanan Lebaran Dijadikan MPASI, Yay or Nay?

Segala makanan yang aman dimakan seluruh anggota keluarga juga aman dikonsumsi bayi. Anda hanya perlu menyesuaikan porsi dan teksturnya saja.

Makanan Lebaran Dijadikan MPASI, Yay or Nay?

Tak terasa dalam hitungan hari kita akan merayakan Idul Fitri atau lebaran. Momen hari raya kali ini pasti akan sangat berbeda dengan adanya pandemi Covid-19. Himbauan untuk Salat Id di rumah pun sudah dikeluarkan Majelis Ulama Indonesia (MUI), khususnya di wilayah yang masuk kategori zona merah Covid-19. Adapun yang dimaksud dengan zona merah Covid-19 adalah area yang angka penyebaran Covid-19 masih sangat tinggi dan belum terkendali. Maka Salat Id dapat dilakukan di rumah dengan berjamaah bersama anggota keluarga atau secara sendiri (munfarid).

Meski sebagian besar ibadah serta perayaan Idul Fitri dilakukan di rumah, bukan berarti kita tak dapat menghadirkan suasana khas lebaran. Dan jika bicara tentang suasana lebaran, maka hal pertama yang terlintas di kepala adalah makanan khas seperti ketupat, opor, rendang, sayur labu siam, dan sambal goreng hati. Tak hanya “makanan berat”, camilan-camilan khas lebaran seperti nastar, kastangel, lapis legit dan putri salju pun tak boleh terlewat. Khusus untuk Anda yang memiliki anak di bawah 2 tahun, mungkin bertanya-tanya apakah makanan khas lebaran bisa dijadikan menu makanan pendamping ASI (MPASI)?

YAY…Makanan khas lebaran bisa dibuat jadi MPASI!

Jika bicara tentang MPASI maka rujukan yang paling sering digunakan adalah Golden Standard of infant feeding yang dikeluarkan oleh WHO. Berdasarkan standar WHO ini, usia 0-2 tahun adalah periode emas atau golden periode dari pertumbuhan anak yang diawali dengan inisiasi menyusui dini, ASI eksklusif sampai 6 bulan dan MPASI berkualitas sampai 2 tahun. “Semua tahapan ini harus sedekat mungkin dengan kebiasaan keluarga, termasuk MPASI,” ucap dr. Risya Nuria Ikhsyania, Konselor Pemberian Makan Bayi dan Anak.

Artinya, sambung Risya, prinsip pembuatan MPASI tidak perlu menyusahkan orang tua karena sebenarnya tidak perlu ada yang dibedakan antara makanan bayi dengan orang tua dalam hal menu. “Hanya saja perlu menyesuaikan porsi dan teksturnya saja,” imbuh Risya. Jadi pada prinsipnya, makanan khas lebaran bisa diberikan kepada bayi. Selain menyesuaikan porsi dan tekstur, dr. Risya juga mengingatkan untuk memperhatikan ada atau tidaknya reaksi hipersensitivitas serta alergi ketika anak diberi MPASI. Adapun reaksi yang umum terlihat ketika anak mengalami hipersensitivitas atau alergi adalah ruam merah atau BAB menjadi encer. Yang juga harus dipahami adalah kebutuhan serta kapasitas lambung anak. “Anak umur 6 bulan makannya tidak bisa banyak, hanya sekitar 2-3 sendok makan orang dewasa.”

Bicara soal porsi, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) dalam situsnya memberikan panduan pemberian MPASI sesuai rentang usia bayi sebagai berikut:

Usia 6 - 9 bulan

  • Frekuensi: 2-3 kali makan besar dan 1-2 kali makan selingan.
  • Porsi: 3 sendok makan hingga menjadi 125 ml setiap kali makan.
  • Tekstur: saring (puree), lumat (mashed).

Usia 9 - 12 bulan

  • Frekuensi: 3-4 kali makan besar dan 1-2 kali makan selingan.
  • Porsi: 125 ml setiap kali makan.
  • Tekstur: cincang halus (minced), cincang kasar (chopped), dan makanan yang mudah digigit, dikunyah, dan digenggam sendiri oleh bayi atau finger food. 

Usia 12 - 24 bulan

  • Frekuensi: 3-4 kali makan besar dan 1-2 kali makan selingan.
  • Porsi: Perlahan ditingkatkan menjadi tiga perempat mangkuk ukuran 250 ml.
  • Tekstur: tekstur makanan keluarga yang dihaluskan seperlunya.

Tapi makanan khas lebaran sangat bersantan, apakah ini aman?

Banyak orang tua berpikir anak di bawah 2 tahun tidak boleh makan makanan bersantan karena tinggi lemak. Ternyata, komposisi MPASI menurut dr. Meta Hanindita, SpA, 50-60% harus mengandung lemak. “Berbeda dengan orang dewasa yang harus menjaga makanan dari yang berminyak, anak justru butuh lemak dalam makanannya. Mengapa? 85% otak bayi terdiri dari lemak. Jadi jenis makanan boleh sama dengan orang dewasa, tapi komposisinya yang beda ya,” tulis dr. Meta pada akun Instagramnya @metahanindita.

Dr. Meta pun menjelaskan, lemak yang dikonsumsi bayi akan memberikan asupan lemak esensial yang berfungsi memfasilitasi penyerapan vitamin larut lemak, dan meningkatkan densitas energi makanan, juga kualitas sensorik. Jadi, pada prinsipnya tidak perlu takut memberikan makanan bersantan kepada bayi.

Lalu apakah camilan khas lebaran aman diberikan sebagai makanan selingan bayi?

Setelah mengetahui makanan khas lebaran bisa dijadikan MPASI, pertanyaannya pun berlanjut, bagaimana dengan kue-kue khas lebaran seperti kastangel, putri salju atau nastar? Hal yang harus diingat adalah kue-kue ini masuk dalam kategori makanan selingan dalam MPASI. Adapun konsep utama pemberian makanan selingan dalam MPASI adalah harus dipastikan makanan utama yang telah memenuhi konsep gizi seimbang dikonsumsi anak sampai habis dan kudapan bergizi sudah juga diberikan. Artinya, kue-kue lebaran bisa saja diberikan sebagai makanan rekreasional untuk bayi. Mengingat kue-kue khas lebaran cenderung bertekstur keras dan kering, maka sebaiknya diberikan pada bayi berusia 8 bulan ke atas. Mengapa? Karena umunya di usia 8 bulan, anak sudah duduk tegak tanpa bantuan apapun, sehingga risiko tersedak kecil terjadi.

0 Komentar