Mengenal Penyakit Autoimun yang Sering Menyerang Anak

Kenali beberapa penyakit autoimun pada anak beserta gejala dan anjuran pengobatannya.

Mengenal Penyakit Autoimun yang Sering Menyerang Anak

Berdasarkan penjelasan Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), penyakit autoimun adalah sekumpulan penyakit yang disebabkan oleh respon kekebalan tubuh yang menyerang diri sendiri sehingga menyebabkan kerusakan organ. Sistem imun atau kekebalan tubuh manusia berfungsi menjaga tubuh dengan cara melawan infeksi yang menyerang. Tetapi pada kondisi tertentu, sistem imun tubuh malah menyerang sel-sel dalam tubuh kita sendiri sehingga timbul berbagai gejala penyakit yang disebut penyakit autoimun.

Meskipun kelainan autoimun diturunkan dalam keluarga dan gen yang rentan telah teridentifikasi, pasien kembar identik biasanya tidak terkena penyakit tersebut, menurut Noel Rose, MD, PhD, pimpinan dari Autoimmune Disease Research Center at Johns Hopkins University di Baltimore, “Ini berarti harus ada pemicu lingkungan untuk memicu respon autoimun,” ucapnya. Beberapa contoh penyakit autoimun yang sering dijumpai pada anak, menurut IDAI, adalah Lupus, penyakit radang sendi pada anak (juvenile idiopathic arthritis), penyakit radang otot pada anak (juvenile dermatomyositis), dan skleroderma.

Macam-Macam Penyakit Autoimun pada Anak

Menurut pakar medis dan penulis artikel kesehatan di Amerika Serikat, Madeline R. Vann, MPH, penyakit autoimun sangat jarang terjadi pada anak-anak. Media kesehatan terkemuka, webmd.com, mengungkapkan, bahwa terdapat lebih dari 80 penyakit autoimun di dunia ini. Tetapi, ada beberapa penyakit autoimun paling umum pada anak-anak, seperti berikut:

1. Celiac atau Seliaka

Penyakit autoimun yang kerap dialami anak-anak, menurut Jane M. El-Dahr, MD, adalah penyakit celiac atau seliaka. “Penyakit seliaka (sensitivitas gluten atau gandum) mempengaruhi 1-3% populasi anak dan sayangnya kurang terdiagnosis,” ucap profesor pediatri klinis dan kepala bagian imunologi pediatrik, alergi, dan reumatologi di Tulane University School of Medicine, New Orleans, ini. Penyakit celiac adalah penyakit autoimun yang terjadi akibat mengonsumsi makanan yang mengandung protein gluten. Pada penyakit celiac, sistem kekebalan tubuh akan memberikan reaksi setelah mengonsumsi gluten, yang dapat merusak lapisan usus halus dan menghambat penyerapan nutrisi (malabsorbsi nutrisi). Akibatnya, penderita penyakit celiac akan mengalami diare, lemas, atau anemia.

2. Lupus

Pada sebuah artikel tentang penyakit autoimun di situs resmi IDAI (idai.or.id) yang ditulis oleh Dr. Gartika Sapartini, SpA(K), diterangkan, bahwa salah satu penyakit autoimun yang sering dijumpai adalah Lupus eritematosus sistemik (systemic lupus erythematosus, SLE) atau masyarakat mengenalnya dengan sebutan ‘Lupus’. Lupus adalah suatu penyakit autoimun akibat tubuh memproduksi antibodi berlebihan yang menyerang jaringan tubuh sendiri di berbagai organ. Kerusakan organ selanjutnya akan menyebabkan berbagai keluhan dan gejala. Lupus merupakan penyakit kronis yang hanya dapat dikontrol agar gejalanya tidak kambuh. Kondisi anak dapat membaik (remisi) atau memburuk (kambuh, namun tidak dikatakan sembuh. Dibutuhkan kerjasama antara orangtua dan dokter spesialis anak untuk dapat menjaga kondisi anak tetap optimal sehingga penyakit dapat terkontrol.

Penelitian-penelitian selama ini menunjukkan bahwa berbagai faktor mempengaruhi terjadinya penyakit ini seperti genetik, hormon, dan lingkungan (seperti paparan sinar matahari dan obat-obatan). Penyakit ini lebih banyak mengenai anak perempuan, dan angka kejadiannya meningkat seiring dengan bertambahnya usia. Pada anak, sebagian besar penderita lupus berusia  9-15 tahun (masa pubertas). Beberapa gejalanya adalah:

  • Demam lama (hilang dan timbul) selama berminggu-minggu hingga berbulan-bulan, tanpa penyebab yang jelas.
  • Anak tampak pucat dan memiliki riwayat transfusi darah berulang.
  • Mudah letih, sehingga tidak aktif dan malas beraktivitas.
  • Ruam pada kulit, yang dapat muncul di wajah berbentuk seperti sayap kupu-kupu atau yang disebut dengan butterfly rash (bercak malar). Ruam lainnya berbentuk bulat-bulat, bisa muncul di bagian tubuh lain, selain di wajah, seperti leher, batang tubuh, lengan dan tungkai yang disebut bercak diskoid.
  • Nyeri dan bengkak pada sendi.
  • Bengkak pada kelopak mata dan tungkai bawah.
  • Rambut rontok.
  • Kulit sensitif terhadap matahari. 
  • Sesak napas dan nyeri dada.

3. Juvenile Idiopathic Arthritis (JIA)

Penyakit ini juga kerap disebut publik sebagai Juvenile rheumatoid arthritis (JRA), adalah jenis artritis yang menyebabkan radang dan kekakuan sendi selama lebih dari enam minggu pada anak berusia 16 tahun atau lebih muda. Peradangan menyebabkan kemerahan, bengkak, hangat, dan nyeri pada persendian, meskipun banyak anak dengan JIA/JRA tidak mengeluhkan nyeri persendian. Peradangan dapat membatasi mobilitas sendi yang terkena. Para peneliti masih belum tahu persis mengapa sistem kekebalan menjadi kacau pada anak-anak yang terkena JRA. Mereka menduga bahwa itu adalah proses dua langkah. Pertama, sesuatu dalam susunan genetik seorang anak memberi mereka kecenderungan untuk mengembangkan JRA. Kemudian faktor lingkungan, seperti virus, menjadi pemicu berkembangnya JRA. Penyakit ini dapat menyebabkan demam dan anemia, dan juga dapat mempengaruhi jantung, paru-paru, mata, dan sistem saraf. Perawatan JRA pada anak serupa dengan orang dewasa, dengan penekanan berat tambahan pada terapi fisik dan olahraga untuk menjaga tubuh yang sedang pesat pertumbuhannya.

4. Juvenile Dermatomyositis (JDM)

JDM merupakan salah satu jenis radang sendi yang terjadi pada anak-anak usia 5 sampai 10 tahun. Ini adalah penyakit langka yang menyebabkan peradangan dan pembengkakan pada otot serta pembuluh darah di bawah kulit, dan juga bisa disebut miopati inflamasi. Tanda-tanda JDM yang paling umum adalah nyeri otot, kelemahan, dan ruam. Sekitar setengah dari anak-anak dengan JDM memiliki otot yang lemah, terutama di otot yang dekat dengan batang tubuh, pinggul, paha, bahu, dan leher. Ini memengaruhi kedua sisi tubuh dan cenderung memburuk seiring waktu. Berikut beberapa tanda dari JDM yang harus diperhatikan:

  • Anak kesulitan beranjak dari kursi.
  • Anak tidak bisa mengangkat lengan di atas kepala (jika sedang menyisir rambut, misalnya).
  • Anak membalikkan badan di tempat tidur dengan perlahan.
  • Anak kesulitan menaiki tangga.
  • Terkadang anak jatuh tanpa alasan.
  • Ruam kulit mungkin muncul dengan kelemahan otot, atau mungkin muncul beberapa bulan kemudian. Gejalanya bisa ringan sampai berat. Terkadang, ruam tampak seperti eczema atau eksim.

5. Scleroderma

Scleroderma adalah penyakit jangka panjang yang memengaruhi kulit, jaringan ikat, dan organ dalam. Itu terjadi ketika sistem kekebalan menyebabkan tubuh membuat terlalu banyak protein kolagen, bagian penting dari kulit. Akibatnya, kulit menjadi tebal dan kencang, dan bekas luka bisa terbentuk di paru-paru dan ginjal. Pembuluh darah mungkin menebal dan berhenti bekerja sebagaimana mestinya. Hal ini menyebabkan kerusakan jaringan dan tekanan darah tinggi. Ada 2 jenis utama scleroderma, yaitu lokal dan sistemik. Scleroderma lokal hanya menyerang 1 area tubuh. Bentuk penyakit ini lebih sering terlihat pada anak-anak. Ini mungkin melibatkan bercak kulit di batang, lengan, kaki, atau kepala. Sementara scleroderma sistemik mempengaruhi seluruh tubuh. Ini jarang terjadi pada anak-anak. Gejala Scleroderma dapat sedikit berbeda pada setiap anak, tapi biasanya adalah ini:

  • Ujung jari yang tebal dan bengkak.
  • Jari pucat dan kesemutan yang mungkin mati rasa saat keluar dalam kedinginan atau selama gangguan emosional (fenomena Raynaud).
  • Nyeri sendi.
  • Kulit kencang, berkilau, lebih gelap di area yang luas, yang dapat menyebabkan masalah pada pergerakan
  • Vena laba-laba.
  • Kalsium benjolan di jari atau area tulang lainnya.
  • Jari, pergelangan tangan, atau siku yang beku (tidak bergerak) karena jaringan parut pada kulit.
  • Luka di ujung jari dan buku jari.
  • Suara kisi-kisi saat jaringan yang meradang bergerak.
  • Jaringan parut di kerongkongan, menyebabkan mulas dan kesulitan menelan.
  • Jaringan parut di paru-paru, menyebabkan sesak napas.
  • Gagal jantung dan irama jantung yang tidak normal.
  • Penyakit ginjal.


Gejala sklerosis lokal di antaranya:

  • Bercak kulit yang mengilap dan menebal.
  • Kulit lebih cerah atau lebih gelap (berubah warna).
  • Sendi-sendi yang ketat.

Anjuran IDAI di Masa Pandemi untuk Anak dengan Penyakit Autoimun

Anak dengan penyakit autoimun lebih mudah menderita infeksi, termasuk infeksi Covid-19, dan dapat mengalami gejala berat apabila terinfeksi. Putuskan mata rantai penularan virus pada anak dengan penyakit autoimun melalui berbagai cara ini:

  • Beraktivitas di dalam rumah saja, termasuk olahraga ringan sesuai kemampuan.
  • Menjaga kebersihan tangan, cuci tangan dengan sabun atau cairan antiseptik.
  • Hindari memegang wajah termasuk mata, mulut, dan hidung sebelum mencuci tangan hingga bersih.
  • Apabila sangat terpaksa harus keluar rumah, gunakan masker kain dan jaga jarak minimal 2 meter dengan orang lain.

Ini adalah beberapa anjuran dari IDAI untuk pengobatan anak dengan autoimun di masa pandemi: 

  • Tetap melanjutkan pengobatannya sesuai dengan petunjuk dokter. 
  • Jangan mengubah dosis obat sendiri.
  • Konsumsi obat secara teratur. 
  • Makan makanan bergizi dan seimbang, termasuk sayur dan buah.
  • Istirahat cukup
  • Untuk pasien dengan pengobatan khusus, seperti pemberian steroid pulse, CPA, atau obat khusus lainnya, konsultasikan jadwal pemberiannya dengan dokter yang merawat.