Banner Promo Image
Menangkan iPhone 11 dengan bergabung di Parentstory!
Daftar Sekarang

Mengenali Gejala Awal Kanker Payudara, Tak Selalu Benjolan

Bulan Oktober menjadi bulan kesadaran kanker payudara. Mari jadikan ini sebagai momentum untuk mengenal lebih dalam akan gejala awal kanker payudara, dan lakukan deteksi secara mandiri di rumah.

Gejala Kanker Payudara

Baik di negara maju maupun berkembang, kanker payudara masih menjadi jenis kanker yang paling banyak dialami perempuan. Yayasan Kanker Indonesia (YKI) pada situs resminya, yayasankankerindonesia.org, menjelaskan, bahwa angka kasus penderita kanker payudara kian meningkat setiap tahunnya yang dipengaruhi beragam faktor. Mulai dari angka ekspektasi kelahiran yang tinggi, meningkatnya urbanisasi, hingga adaptasi gaya hidup yang tidak sehat.

Walaupun kanker payudara bisa terjadi di negara mana saja, tetapi menurut YKI, kasus penderita kanker payudara lebih banyak terjadi di negara berkembang, dengan pendapatan ekonomi masyarakat yang cenderung rendah. Kondisi tersebut pula yang memengaruhi faktor memburuknya kanker, karena kecenderungan masyarakat di negara berkembang yang baru memeriksakan kondisinya dan mengetahui bahwa mereka mengidap kanker saat kondisi sudah pada stadium akhir.

Linda Agum Gumelar selaku Ketua Yayasan Kanker Payudara Indonesia (YKPI), mengungkapkan, bahwa jumlah pengidap kanker payudara di Indonesia semakin tinggi setiap tahunnya. “Menurut Direktur Utama RS Kanker Dharmais, 56% dari jumlah pasien pengidap kanker di RS Kanker Dharmais adalah pengidap kanker payudara, dan 70% pasien pengidap kanker payudara di RS Dharmais merupakan pasien stadium lanjut,” tutur Linda. Perlu diketahui, kanker payudara tidak hanya menyerang perempuan. “Di YKPI sendiri ada dua orang laki-laki yang terdiagnosa kanker payudara,” ungkap Linda pada kegiatan Sosialisasi Deteksi Dini Kanker Payudara yang diadakan oleh Perista Lemhannas RI bekerjasama dengan Yayasan Kanker Payudara Indonesia (YKPI), pada akhir Januari 2020 lalu di Gedung Trigatra, Lemhannas RI, Jakarta.

Stadium Awal, Tanpa Gejala

Di kesempatan yang sama, dr. Martha Roida Manurung, mengemukakan, bahwa kanker payudara stadium awal biasanya tidak mempunyai gejala dan keluhan yang spesifik. Dokter dari RS Kanker Dharmais Jakarta ini mengatakan, “Pasien tidak akan tahu kalau dia sebenarnya sudah terkena kanker karena dia tidak merasakan apa-apa. Di sinilah peran deteksi dini untuk menemukan kelainan awal.” Ia juga mengungkapkan, bahwa yang lebih berbahaya adalah, saat kanker tersebut bisa menyebar ke bagian lain. “Seringkali di tempat asalnya, yaitu payudara tidak menimbulkan keluhan, tapi justru ketika dia sudah menyebar ke paru-paru, tulang, dan menimbulkan masalah, baru pasien datang untuk berobat,” jelasnya.

Meski biasanya tanpa gejala di stadium awal, namun ada beberapa gejala umum dari kanker payudara, seperti yang dikemukakan oleh WebMD, perusahaan di Amerika Serikat yang dikenal sebagai situs berita dan segala informasi berkaitan dengan kesehatan serta kesejahteraan manusia, berikut ini:

  • Benjolan di payudara atau ketiak yang tidak kunjung hilang. Ini seringkali merupakan gejala pertama dari kanker payudara. Dokter Anda biasanya dapat melihat benjolan pada mamogram jauh sebelum Anda dapat melihat atau merasakannya.
  • Pembengkakan di ketiak atau di dekat tulang selangka (tulang yang terdapat di bagian bahu yang menghubungkan tulang dada dan tulang bahu). Ini bisa berarti kanker payudara telah menyebar ke kelenjar getah bening di daerah tersebut. Pembengkakan dapat dimulai sebelum Anda merasakan benjolan, jadi beri tahu dokter jika Anda menyadarinya.
  • Nyeri dan sensitif pada sentuhan. Meskipun benjolan biasanya tidak terasa sakit, beberapa mungkin menyebabkan perasaan seperti tertusuk sesuatu.
  • Area datar atau berlekuk di payudara Anda. Ini bisa terjadi karena tumor yang tidak dapat Anda lihat atau rasakan.
  • Perubahan payudara, seperti: perbedaan ukuran, kontur (garis bentuk), tekstur, atau suhu payudara Anda.
  • Perubahan pada puting Anda, seperti: tertarik ke dalam, berlesung pipit, seperti luka bakar, terasa gatal, dan terjadi luka.
  • Keluarnya cairan dari puting yang tidak biasa. Bisa jadi cairan tersebut bening, berdarah, atau warna lain.
  • Muncul area yang terasa keras, seperti marmer di bawah kulit Anda, dan terasa berbeda dari bagian payudara lainnya.

Badan Kesehatan Dunia (WHO), merekomendasikan metode skrining mamografi sebagai salah satu metode untuk mendiagnosa kanker payudara sejak dini. Pasalnya, metode pemindaian menggunakan sinar-x dosis rendah ini terbukti efektif dalam mencegah perkembangan kanker ke stadium lebih lanjut. Mamografi dapat mendeteksi adanya benjolan di payudara pada waktu 2 tahun sebelum seseorang benar-benar merasakannya. Selain itu, pemindaian lebih lanjut juga bisa menentukan, apakah benjolan yang dimiliki berpotensi menjadi sel kanker. Tetapi, YKI menyarankan, sebelum Anda memutuskan untuk melakukan pemindaian mamografi atau mammography screening, Anda dapat mendeteksi gejala kanker payudara sendiri tanpa harus keluar rumah. Di Indonesia, cara mudah ini kerap dikenal dengan istilah SADARI atau perikSA payuDAra sendiRI.

Periksa Payudara Sendiri

Di acara kegiatan Sosialisasi Deteksi Dini Kanker Payudara, Linda mengimbau semua perempuan untuk melakukan SADARI guna mendeteksi kanker payudara sejak dini. Ia menegaskan pula, bahwa siapa saja yang terdiagnosa kanker payudara, baik yang jinak maupun stadium lanjut, dimohon untuk segera memeriksakan diri ke dokter dan menjalani pengobatan secara klinis. Berikut ini adalah 6 langkah yang bisa Anda ikuti saat melakukan SADARI 7-10 hari setelah menstruasi dari Yayasan Kanker Indonesia:

1. Berdiri Tegak

Posisikan tubuh Anda dalam posisi berdiri tegak, lalu amati apakah ada perubahan pada bentuk dan permukaan kulit payudara, pembengkakan dan/atau perubahan pada puting? Ataukah bentuk payudara kanan dan kiri tidak simetris? Namun, jangan cemas, hal tersebut merupakan sesuatu yang normal.

2. Angkat Kedua Lengan

Masih dalam posisi yang sama, angkat kedua lengan Anda ke atas. Lalu, tekuk siku Anda dan posisikan tangan di belakang kepala. Dorong siku ke depan, lalu cermati payudara. Kemudian, dorong siku ke belakang dan cermati bentuk maupun ukuran payudara.

3. Posisikan Kedua Tangan pada Pinggang

Berikutnya, condongkan bahu ke depan sehingga payudara menggantung, dan dorong kedua siku ke depan, lalu kencangkan (kontraksikan) otot dada Anda.

4. Angkat Lengan Kiri ke Atas

Kemudian, tekuk siku sehingga tangan kiri memegang bagian atas punggung. Dengan menggunakan ujung jari tangan kanan, raba dan tekan area payudara, serta cermati seluruh bagian payudara kiri hingga ke area ketiak. Lakukan gerakan atas-bawah, gerakan lingkaran serta gerakan lurus dari arah tepi payudara ke puting, dan sebaliknya. Ulangi gerakan yang sama pada payudara kanan Anda.

5. Cubit Kedua Puting

Cermati bila ada cairan yang keluar dari puting. Berkonsultasilah ke dokter seandainya hal itu terjadi.

6. Gunakan Bantal

Pada posisi berbaring, letakkan bantal di bawah pundak kanan. Lalu, angkat lengan ke atas. Cermati payudara kanan dan lakukan tiga pola gerakan seperti sebelumnya. Dengan menggunakan ujung jari-jari, tekan-tekan seluruh bagian payudara hingga ke sekitar ketiak.

Temukan pilihan aktivitas, kelas, dan kegiatan edukatif untuk anak dan orang tua, serta beragam artikel menarik seputar kesehatan, parenting, dan gaya hidup keluarga modern. Download aplikasi Parentstory sekarang di App Store dan Google Play Store.