Mitos dan Fakta di Balik Vaksin Anak

Banyak sekali informasi mengenai fakta dan mitos seputar vaksin pada anak, berikut penjelasan dr. Caessar Pronocitro, Sp.A, M.Sc, pada Parentstory Festival 2020.

mitos vaksin

Hingga saat ini, masih banyak informasi mengenai mitos seputar vaksin pada anak. Sayangnya, karena mitos ini masih beredar di kalangan masyarakat, orang tua tidak memberikan haknya kepada anak untuk memberikan vaksin di dalam tumbuh kembangnya. Untuk itu, Parentstory menggelar sesi Instagram Live yang membahas seputar mitos dan fakta vaksin pada anak bersama dr. Caessar Pronocitro, Sp.A, M.Sc, yang dipandu oleh Kirana Soedjadi selaku Lead Performance Social Media Parentstory. Pada sesi Instagram Live ini, dr. Caessar memaparkan berbagai macam mitos dan fakta yang kerap dipertanyakan oleh para orang tua.

Mitos: Vaksin Influenza Dianggap sebagai Penyakit yang Ringan

Fakta: Banyak sekali terjadi kesalahpahaman di masyarakat mengenai vaksin influenza. Sebenarnya vaksin influenza bukan untuk mencegah penyakit batuk dan pilek terhadap balita dan anak-anak pada umumnya. Namun, vaksin Influenza digunakan untuk mencegah penyakit infeksi saluran pernafasan yang berat di saluran nafas atas yang dapat menimbulkan sesak nafas pada anak, hingga menimbulkan demam tinggi.

Mitos: Vaksin Campak Dapat Menyebabkan Autisme

Fakta: Beragam penelitian dilakukan oleh para pakar kesehatan, dan mengungkapkan, bahwa tak ada kaitan antara MMR dengan autisme. Berbagai kajian American Academy of Pediatrics, Institute of Medicine, Centers for Disease Control and Prevention (CDC), juga menyimpulkan bahwa tidak ada bukti hubungan antara imunisasi MMR dengan timbulnya autisme pada anak.

Mitos: Vaksin Mengandung Bahan Merkuri yang Berbahaya

Fakta : Thimerosal adalah sebuah senyawa organik yang mengandung merkuri dan dipergunakan untuk pencegahan kontaminasi pada vaksin. Menurut penelitian, senyawa Thimerosal dipergunakan sebanyak 0,01 persen atau sama dengan 50 mikrogram merkuri dan tidak berbahaya untuk tubuh. Tetapi saat ini, pemerintah dan produsen vaksin sudah beralih kepada bahan-bahan alternatif, seperti Venol dan Benzethonium Chloride yang aman dari bahan merkuri.

Mitos: Vaksin Dapat Menyebabkan Autoimun

Fakta: Penyakit Autoimun disebabkan respon imunitas yang berupa reaksi yang berlebihan terhadap benda yang tidak asing, tetapi di dalam tubuh berubah menjadi benda yang asing. Penyakit autoimun terjadi karena beberapa faktor antara lain faktor genetik, faktor lingkungan, dan faktor nutrisi. Selain itu, autoimun justru bisa disebabkan karena orang tua tidak memberikan vaksin pada si kecil.

Mitos: Vaksin Bisa Menyebabkan Kanker

Fakta: Setelah dilakukan penelitian yang mendalam, dokter di seluruh dunia tidak menemukan bahwa vaksin bisa membuat anak kanker. Kanker disebabkan akibat dari pola gaya hidup, lingkungan, dan genetik.