Mom Reviews: 5 Jenis Breast Pump Terfavorit

Ibu baru sekaligus Head of Content Parentstory, Noel Monique, mencoba aneka model dan merek pompa ASI. Mana yang paling unggul?

Saat mempersiapkan kelahiran bayi, pompa ASI atau breast pump masuk ke daftar belanja wajib saya, dengan pertimbangan bahwa saya akan terus berusaha memberikan ASI meski sudah kembali masuk ke kantor seusai cuti melahirkan nanti. Satu bulan setelah melahirkan, saya mulai rajin pumping setiap 2 jam sekali, sehingga bisa dibayangkan, sebagian besar waktu saya habis untuk mengurus bayi dan memompa ASI. Singkat cerita, selama menjalani rutinitas tersebut saya pun penasaran dengan jenis dan merek pompa ASI lain yang ada di pasaran. Ingin bereksperimen dan agar lebih semangat pumping, akhirnya saya pun mencoba 5 jenis dan merek breast pump berbeda dan menemukan yang menjadi favorit saya.

Jika Anda berniat membeli breast pump untuk meningkatkan produksi ASI, mengosongkan payudara yang penuh, dan mulai menyimpan stok di kulkas, saya harap ulasan berikut ini dapat membantu Anda menentukan pilihan.

1. Portable double electric pump: Spectra 9+

Ini adalah jenis pompa ASI pertama yang saya coba. Modelnya yang compact dan mudah dibawa-bawa saat keluar rumah menjadi pertimbangan utama saya saat memilihnya. Meski kecil dan ringan namun hisapannya cukup kuat untuk dapat mengosongkan payudara yang penuh tanpa memakan waktu lama, terlebih pompa ini dapat terhubung ke dua selang dan botol sehingga tak perlu memompa satu-satu secara bergantian. Tapi jika Anda hanya ingin memompa satu payudara saja, hal ini tetap dapat dilakukan dengan menutup satu lubang selang.

Saat pumping, pertama saya menggunakan mode massage untuk memancing ASI, setelah 5-6 menit baru saya berganti ke mode vacuum yang memiliki 10 level hisapan. Setelah 30 menit, pompa ini juga dapat mati secara otomatis. Ada teman yang mengatakan hisapan pompa ini terlalu kencang untuknya, namun saya pribadi tidak mempermasalahkannya dan tetap mengandalkan pompa ini jika harus pumping di luar rumah.

2. Silicone breast pump: Mooimom

Jika sedang menyusui bayi saya secara langsung, saya memakai pompa silikon ini untuk menampung tetesan ASI dari payudara yang satu lagi. Selain mudah dipasang, lembut, tanpa suara, dan tanpa selang, saya pun terkejut ketika melihat cukup banyak ASI yang bisa dikumpulkan tanpa harus melakukan apa-apa. Pompa ini juga berguna ketika ASI saya tiba-tiba merembes, tapi bayi sedang tidak mau menyusu. Daripada terbuang percuma, tetesan tersebut biasanya akan saya kumpulkan dengan pompa ini.

Kalau Anda ingin mengosongkan payudara yang penuh, pompa ini juga bisa menjadi pilihan tepat. Namun, jika tujuan Anda melakukan pumping adalah untuk meningkatkan produksi ASI, maka pompa ini kurang efektif karena pompa ini hanya bersifat sebagai wadah dan baru dapat bekerja maksimal saat ada hisapan, baik dari bayi atau pompa lain, di payudara sebelahnya.

3. Manual hand breast pump: Medela Harmony Light

Saya meminjam pompa tangan ini dari seorang teman, dengan tujuan mencoba lebih mengosongkan payudara setelah bayi selesai menyusu, agar produksi kian meningkat. Yang saya dengar, pompa merek Medela terkenal dengan hisapannya yang lembut dan itu memang saya rasakan saat mencoba pompa manual ini. Namun, rupanya saya tergolong ibu yang kurang sabar saat harus memompa dengan tangan. Selain lebih lama, saya pun merasa tidak bisa memompa sambil melakukan kegiatan lain, seperti membaca buku atau mengintip smartphone saya.

Menurut saya, pompa ini cocok untuk ibu dengan payudara sensitif yang kerap merasa hisapan pompa elektrik terlalu kencang dan sakit. Dengan pompa manual, Anda dapat mengatur sendiri ritme dan kecepatan pompa. Selain itu karena tanpa baterai dan selang, pompa ini memang unggul dalam segi kepraktisan bentuk.

4. Medical grade double electric pump: Opia Diamond

Saat bayi saya berumur 2 bulan, saya memutuskan untuk tidak lagi menyusui secara langsung dan lebih memilih metode e-ping atau exclusively pumping. Hal ini pun mengharuskan saya terus rajin memompa, minimal 7-8 kali dalam sehari, untuk memenuhi kebutuhan ASI perah bayi saya. Memompa yang tadinya hanya dilakukan bila sempat atau saat payudara penuh saja, menjadi sebuah rutinitas wajib yang pantang dilanggar. Untuk e-ping, saya merasa perlu memiliki pompa yang lebih kuat, baik dari segi performa maupun kualitas. Saya pun menjatuhkan pilihan pada Opia Diamond yang tergolong pemain baru di pasaran.

Sebelumnya saya pernah menyewa Spectra S1, yang juga merupakan pompa medical grade, dan merasa mendapat hasil yang maksimal dengan pompa ini, namun rupanya Opia Diamond tak kalah cemerlang. Modelnya lebih kecil dibanding Spectra S1, dengan warna putih yang bersih dan touch screen yang modern. Opia Diamond juga memiliki dua motor, sehingga baik jika Anda melakukan single pump atau double, hisapan akan sama kuatnya.

Yang tidak saya temukan di pompa ASI lain adalah kemampuan pompa ini untuk mengatur setting kecepatan dan kekuatan hisap yang berbeda untuk payudara kiri dan kanan secara bersamaan. Jika payudara kiri Anda sedang lecet, Anda bisa menyetelnya lebih pelan, sedangkan yang kanan tetap dengan level hisapan yang biasa. Brilian! Sekarang Opia Diamond menjadi pompa andalan saya di rumah, meski sebenarnya ukuran dan bentuknya masih memungkinkan untuk dibawa pergi ke kantor, misalnya.

5. Portable single electric pump: Doopser

Saya begitu tertarik saat melihat pompa ini di media sosial. Bentuknya praktis, dengan model elektrik, namun tanpa selang. Saya langsung membayangkan betapa mudahnya memompa ASI saat bepergian atau sambil melakukan pekerjaan rumah dengan pompa ini. Setelah mencobanya, saya pun sangat merekomendasikannya untuk ibu dengan mobilitas yang tinggi. Pompa ini memiliki layar LED, mode massage dan expression dengan tingkatan level berbeda dan pelindung corong silikon agar tetap nyaman. Saya pribadi berharap layar LED-nya diposisikan terbalik agar lebih mudah terbaca saat sedang dipakai untuk memompa.

Yang juga menarik perhatian saya, karena mesin pompa juga terpasang di atas corongnya, jika botol sudah agak penuh maka bobot dari perangkat ini cukup berat sehingga saya pun harus memegangi botol agar tidak jatuh dan tetap terpasang dengan benar, walau sudah memakai hands-free bra. Meski sangat mudah dioperasikan namun karena merupakan single pump, saya tetap harus mengosongkan payudara secara bergantian. Terkadang saya mengombinasikannya dengan pompa silikon saya di sisi sebelahnya, tapi saya tetap merasa perlu memberi stimulasi hisapan pompa setelahnya. Andai Doopser menghadirkan pompa ini dalam bentuk sepasang, maka pompa ini akan semakin memiliki nilai lebih bagi saya.

Setelah mencoba berbagai jenis dan merek pompa ASI, favorit saya adalah Opia Diamond. Namun opini ini tentu dapat berbeda bagi orang lain, tergantung kebutuhan dan preferensinya. Maka jika Anda sedang bingung menentukan pilihan breast pump, tak ada salahnya mencoba untuk menyewanya terlebih dulu, baru membeli ketika menemukan satu jenis yang cocok. Tips lain dari saya, hal yang terpenting dalam memilih sebuah pompa ASI adalah sistem yang tertutup, di mana ASI tidak masuk ke dalam mesin atau perangkat pompa tapi langsung ke corong botol, kemampuan hisap yang optimal, cara mengoperasikan dan membongkar pasang perangkat secara praktis, serta kemudahan mencari spare parts pengganti jika dibutuhkan. Semoga ulasan ini dapat membantu Anda dalam menentukan pilihan. Happy pumping!

0 Komentar