Banner Promo Image
Menangkan iPhone 11 dengan bergabung di Parentstory!
Daftar Sekarang

MPASI Ideal: Menu Tunggal, 4 Bintang, atau Lengkap?

Anda tak perlu lagi bingung memilih menu MPASI yang terbaik untuk si buah hati. Simak penjelasan dr. Dimple Gobind Nagrani, SpA, seputar menu MPASI ideal.

MPASI Ideal bagi Anak

Menu MPASI (makanan pendamping ASI) terus mengalami perubahan tren. Kalau dulu trennya adalah menu Tunggal, lalu menjadi menu 4 Bintang atau 4 Kuadran, dan kini, menu Lengkap. Pertanyaannya, mengapa hal tersebut dapat terjadi? Menurut dr. Dimple Gobind Nagrani, SpA, MPASI Tunggal tidak lagi disarankan para pakar kesehatan karena anak membutuhkan berbagai macam nutrisi. Mulai dari karbohidrat, protein hewani dan nabati, lemak, buah, serta sayur. Nah, menu Tunggal tidak dapat memenuhi segala nutrisi tersebut. “Biasanya di Indonesia, MPASI Tunggal yang paling sering diberikan adalah pisang. Sangat sering diberikan orang tua kepada anaknya sebagai menu MPASI pertama. Padahal, anak butuh protein untuk perkembangan otot, butuh lemak untuk perkembangan otak, butuh karbohidrat untuk energi. Dua buah pisang besar hanya bisa mencukupi kebutuhan karbohidrat anak, protein dan lemaknya tidak tercukupi,” ungkapnya pada sesi tayangan langsung di Instagram Parentstory bertema ‘Ask the Expert -- MPASI Ideal: Menu Tunggal, 4 Bintang atau Lengkap?’ beberapa waktu lalu.

Penuhi Tiga Komponen Besar MPASI

Adapun tiga komponen besar dalam MPASI yang perlu didapatkan anak adalah, karbohidrat, protein, dan lemak. Ketiganya sama-sama penting, harus diberikan pada anak, dan dipastikan asupannya cukup setiap hari. Lalu, apakah pemberian menu Tunggal dilarang sama sekali di masa MPASI? “Boleh saja, tapi hanya diberikan pada saat snack time. Misalnya, mau memberikan camilan buah. Saat makan berat, harus ada komponen karbohidrat, protein, lemak, kemudian sayur dan buah untuk diperkenalkan. Banyak sekali penelitian merujuk pada keuntungan dari menu Tunggal itu hampir tidak ada. Sudah anaknya kekurangan makronutrien (karbo, protein, lemak), risiko alergi anak juga tidak menurun,” jawab dokter spesialis anak yang praktik di RS Bunda Menteng, RS Hermina Kemayoran, dan founder dari Happy Kids Childcare and Clinic ini. Mungkin sebagian besar orang tua milenial sepakat dengan penjelasan dari dr. Dimple tersebut. Namun, bila membahas menu 4 Bintang, mungkin Anda masih mendukung menu MPASI ini, dan bahkan memberikannya pada bayi Anda hingga kini. Mengapa menu itu mengalami pergeseran hingga berubah menjadi menu 4 Kuadran atau menu Lengkap?  “Kalau membicarakan menu 4 Bintang itu sering membuat orang tua bingung. Komponen MPASI yang mau dibintangin yang mana? Dari IDAI, memang disarankan MPASI 4 Kuadran. Nah, yang sering bikin orang tua bingung, masih ada kata-kata 4 itu, maksudnya apa?” tutur dr. Dimple.

Kebanyakan orang tua, terutama ibu, akan beranggapan bahwa menu 4 Bintang adalah menu yang terdiri dari karbohidrat, protein hewani, protein nabati, sayur serta buah, dan tanpa lemak. Atau sebaliknya, karbohidrat, protein hewani dan nabati, dan lemak, tanpa sayur. Menurut Dimple, hal inilah yang kerap membuat orang tua bingung. “Angka 4 sering membingungkan orang tua, 4 Bintang buat Ibu A dan buat Ibu B itu ternyata komponennya berbeda. Jadi, sebenarnya sekarang dari IDAI masih menyebutnya sebagai 4 Kuadran, atau menu MPASI Lengkap itu ada tiga komponen utama. Yaitu, karbohidrat, protein, dan lemak. Yang diutamakan proteinnya adalah yang hewani. Mengapa? Karena zat besi yang terdapat dalam protein hewani ini jauh lebih mudah diserap tubuh dibandingkan protein nabati. Kemudian, ditambahkan buah dan sayur, dalam jumlah sedikit, karena kita tidak mau seratnya terlalu banyak hingga memenuhi lambung anak yang ukurannya masih kecil sekali.”

Berikan Bahan Pangan yang Mudah Didapatkan

Pada acara Live Instagram tersebut, Ayunda Wardhani Shandini, VP of Marketing Parentstory, selaku host, menanyakan pada dr. Dimple, lemak seperti apa yang mudah didapatkan oleh para orang tua? “Saya sering mendapatkan berbagai lemak yang mahal di pasaran. Sounds very complicated. Padahal, yang saya tahu, dari hasil konsultasi dengan dokter anak saya, santan pun termasuk lemak. Olive oil biasa pun tidak apa-apa,” ucap Ayunda. Dimple pun sepakat dengan hal tersebut. Menurutnya, proses pembuatan dan penyajian MPASI seharusnya tidak merepotkan orang tua. “Saya setuju sekali! Yang tidak enak dari masa kini adalah terlalu banyak informasi, sehingga orang tua jadi terlalu panik, merasa MPASI kok repot sekali. Memang banyak sekali penelitian seputar MPASI, tapi yuk dipelajari saja. Penelitian-penelitian itu sebenarnya untuk mempermudah kita dalam memilih MPASI yang tepat buat si kecil, bukan mempersulit.”

Kalau tak ada atau tak bisa membeli ikan salmon, ikan kembung pun dapat disajikan sebagai menu MPASI bayi, karena memiliki gizi serupa. Hal tersebut dikemukan pula oleh WHO (Badan Pangan Dunia). Menurut dr. Dimple, WHO menganjurkan orang tua untuk menyesuaikan menu MPASI bayi berdasarkan pada tempat tinggalnya. Yang ada di sekitar Anda dan keluarga, yang mudah didapatkan. Contohnya, dalam pemberian karbohidrat, Anda dapat memberikan makanan pokok rakyat Indonesia, seperti nasi. Tetapi, Dimple mengingatkan, bukan hanya nasi, umbi-umbian pun boleh diberikan pada bayi. “Kalau mau memberikan variasi pada anak yang sudah lebih besar sedikit, sekitar 9 bulan misalnya, karbohidratnya bisa diganti pasta, mie telur, bihun, atau roti.”

Pastikan Proses Makan Berjalan Menyenangkan

Setelah mengetahui menu ideal MPASI dari penjelasan dr. Dimple, mungkin yang ada di benak Anda adalah mengenai porsi yang tepat diberikan pada anak. Kebanyakan orang tua telah memahami bahwa porsi diberikan mengikuti usia anak. Semakin besar usianya, semakin banyak pula porsinya. Secara teori memang seperti itu. Dimple menjelaskan, bahwa untuk anak usia 6 bulan, idealnya diberikan MPASI sekitar 60-90 ml. Kemudian akan bertambah porsinya menjadi 90-120 ml pada usia sekitar 9-12 bulan. Namun, teori tersebut tidak bisa menjadi patokan bagi semua bayi.

“Semua itu juga tergantung pada tekstur yang orang tua berikan. Contohnya, pada anak usia 9 bulan yang sudah bisa makan nasi tim, porsi makannya sebanyak 90-100 ml. Kemudian, ada anak lain yang berusia 9 bulan juga, yang baru bisa makan bubur dan belum bisa makan nasi tim. Dia bisa makan bubur sebanyak 150 ml. Nah, 150 ml ini kan berarti kandungan airnya lebih tinggi karena memang teksturnya belum naik, masih cair. Berarti cukup dong anak yang A, yang makan hanya 90 atau 100 ml, tapi sudah makan nasi tim? Airnya sudah tidak terlalu banyak, kecukupan kalorinya sudah terpenuhi dari makanan padat itu,” jelas dr. Dimple. Karena itu, Dimple menyarankan setiap orang tua untuk tidak memiliki ekspektasi yang terlalu tinggi, sehingga akhirnya jadi memaksa anak makan, yang bisa membuatnya trauma terhadap proses dan kegiatan makan. Yang utama adalah, membuat proses makan menjadi sebuah kegiatan menyenangkan sekaligus waktu bonding antara orang tua dan anak, waktu untuk mengenal anak lebih dekat lagi. “Dari pada berlomba-lomba untuk memberikan MPASI yang paling hits untuk si kecil, lebih baik kita memastikan anak pintar makan, dengan selalu berada di sisinya secara fisik dan mental. Jangan sampai kita menyuapi anak, tapi pikiran kita ada di mana-mana. Karena ini akan membuat kita jadi tidak menyadari tanda-tanda apa yang diperlihatkan si kecil, apa yang membuat dia happy atau sebaliknya.”

Temukan pilihan aktivitas, kelas, dan kegiatan edukatif untuk anak dan orang tua, serta beragam artikel menarik seputar kesehatan, parenting, dan gaya hidup keluarga modern. Download aplikasi Parentstory sekarang di App Store dan Google Play Store.