Menerapkan Aturan Gadget pada Anak Saat Orang Tua Bekerja

Salah satu yang sulit diawasi adalah penggunaan gadget pada anak selama ayah dan ibunya bekerja. Bisakah pengasuh anak menerapkan aturan yang sudah dibuat orang tua?

Menerapkan Aturan Gadget pada Anak Saat Orang Tua Bekerja

Ayah dan ibu yang bekerja seringkali sulit mengontrol penggunaan gadget pada buah hatinya karena meninggalkan anak di rumah bersama pengasuh selama jam kerja. Meskipun orang tua telah membuat kesepakatan pada anak dan menjelaskan aturan mainnya pada pengasuh anak, kenyataannya terkadang tidak seperti yang diharapkan. Ada kalanya anak mencari cara apa pun untuk ‘melanggar’ aturan atau kesepakatan, sehingga pengasuh anak ‘kalah’. Belum lagi jika sang anak diasuh oleh kakek-neneknya, orang tua Anda, yang lebih longgar dalam hal aturan. Ada kalanya pula, kakek dan nenek sudah merasa kelelahan dan butuh waktu istirahat sehingga menganggap gadget bisa membuat anak asyik sendiri. Lalu, apa yang harus dilakukan orang tua?

Ajarkan Pengasuh Anak

Pada Parentstory yang mengikuti salah satu kulwap (kuliah WhatsApp) yang diselenggarakan oleh forum parenting @latihati, psikolog Toge Aprilianto, M.Psi, menjelaskan cara mengatasinya. Menurut psikolog yang akrab dipanggil OmGe ini, pengasuh dipekerjakan orang tua untuk menjaga anak, bukan untuk mengajarkan. Sehingga, orang tua tidak bisa berharap banyak pada pengasuh untuk mengajarkan anak, termasuk mengajarkan aturan bermain gadget. Tetapi, jika pengasuh anak mau diajarkan oleh orang tua, ajarkanlah sebisa mungkin. Semampu si pengasuh.

Anda bisa mengajarkan pengasuh anak, dalam hal ini bisa kakek-nenek atau asisten rumah tangga, dan nanny, tentang apa saja dampak negatif dari pemakaian gadget yang berlebihan pada anak. Ketika pengasuh sudah memahaminya, diharapkan ia akan lebih ketat pada aturan yang sudah dibuat, sehingga tidak mudah ‘kalah’ dengan bujuk rayu anak. Selain itu, dengan memahami dampak negatif dari gadget, pengasuh juga akan lebih mudah memberi pengertian pada anak kenapa ia harus menaati aturan main. Misalnya, dengan menjelaskan bahwa terlalu lama menatap layar gadget akan membuat mata anak sakit dan sebagainya.  Ketika pengasuh anak sudah paham, beri pengertian pula bahwa gadget adalah milik orang tua yang dititipkan atau dipinjamkan kepada pengasuh anak selama orang tua bekerja. “Jadi kalau anak mau pakai, dia perlu pinjam ke pengasuh yang punya wewenang untuk setuju atau tidak setuju memberikan gadget pada anak,” jelas OmGe.

Bicarakan dengan Kakek-Nenek

Jika anak diasuh oleh asisten rumah tangga atau nanny, mungkin akan lebih mudah bagi orang tua untuk lebih tegas meminta pengasuh anak menerapkan aturan main gadget yang sudah dibuat. Namun, hal ini akan lebih sulit dilakukan bila anak diasuh oleh kakek-neneknya. Meskipun Anda ingin menjelaskan batasan-batasan pola asuh anak pada orang tua atau mertua Anda, tapi mungkin Anda khawatir hal tersebut dapat merusak hubungan. Bisa mengganggu keharmonisan antara Anda dengan orang tua atau mertua. Jill Spiegel, penulis terkenal di Amerika Serikat, yang salah satu bukunya menuliskan cara efektif berkomunikasi dengan orang lain, menyarankan Anda untuk mulai melakukan pembicaraan yang serius pada pengasuh anak, dalam hal ini kakek-nenek, jika tindakan mereka sudah mengganggu kemampuan Anda sebagai orang tua. Atau, membuat Anda merasa bersalah pada pola asuh Anda.

Saran dari Jill adalah, mencari waktu yang tepat untuk bicara dengan orang tua Anda. Duduklah dengan tenang ketika anak sedang tidak berada di sekitar kalian. Lalu, jelaskan pada orang tua atau mertua Anda, bahwa meskipun Anda tahu tindakan mereka dilandasi rasa kasih sayang, tapi sangat penting bagi Anda dan pasangan untuk mendapat dukungan dari mereka. Dukungan untuk terus menerapkan pola asuh pada anak yang Anda dan pasangan ingin terapkan pada anak. Dukungan untuk menerapkan aturan-aturan rumah tangga pada anak. Jill mengingatkan, pastikan Anda berbicara pada orang tua dengan rasa hormat dan sayang, bukan konfrontasi. Jika berbicara langsung tidak berhasil, Jill merekomendasikan Anda untuk mencoba berbicara secara tertulis. Misalnya, melalui aplikasi WhatsApp, surat, atau e-mail. Anda dapat mencoba menulis surat atau pesan yang menjelaskan rasa frustasi Anda serta pasangan, dan bagaimana Anda berharap orang tua bisa memahami situasi tersebut.


Kenalkan Aturan Ini pada Pengasuh Anak

Pada Oktober 2016 lalu, para ahli yang tergabung dalam American Academy of Pediatrics (AAP) merilis rekomendasi terbaru soal penggunaan televisi, internet dan game bagi anak-anak. Beberapa rekomendasi dari AAP yang penting untuk diperhatikan dan diterapkan sebagai bagian dari aturan screen time adalah sebagai berikut: 

  • Anak di bawah usia 18 bulan sebaiknya tidak diperbolehkan menggunakan media digital selain untuk video call
  • Orang tua dari anak berusia 18-24 bulan yang ingin memperkenalkan media digital harus memilih program anak-anak yang berkualitas, dan mendampingi saat menonton agar mereka memahami apa yang ditonton. 
  • Penggunaan media digital bagi anak yang berusia 2-5 tahun dibatasi hanya 1 jam per hari untuk program berkualitas, dan tetap perlu didampingi orang tua agar dapat memahami tontonan dan mempraktikkannya dalam keseharian anak. 
  • Bagi anak berusia 6 tahun atau lebih, perlu ada batasan yang konsisten. Baik itu soal durasi penggunaan media dan tipe media. 
  • Orang tua juga harus memastikan media tidak mengganggu kebutuhan tidur, aktivitas fisik, dan kebiasaan lain yang penting untuk kesehatan anak. 
  • Orang tua wajib menentukan waktu bebas screen time, misal saat makan atau ketika berada di dalam mobil. 
  • Ayah dan ibu perlu juga menentukan lokasi bebas media digital di rumah. Misalnya di kamar tidur atau di meja makan. 
  • Komunikasi juga perlu terus dilakukan dengan anak, terutama soal keamanan menggunakan internet. Termasuk cara memperlakukan orang lain dengan hormat, baik di dunia maya maupun dunia nyata.