Pandemi Corona: Tips Tetap Fokus Bekerja dari Rumah Meski Anak Minta Perhatian

Ingin bisa memenuhi target kantor sambil menyenangkan anak saat bekerja dari rumah? Yuk, intip dulu 5 tips ini!

Pandemik Corona: Tips Tetap Fokus Bekerja dari Rumah Meski Anak Minta Perhatian

Dengan terus bertambahnya angka pasien positif Covid-19 di Indonesia maka untuk menekan penularannya, Presiden Joko Widodo (Jokowi) menghimbau seluruh masyarakat bekerja dan beribadah di rumah atau social distancing. Mengapa social distancing atau menjaga jarak ketika bertemu dengan orang dan menghindari keramaian jadi penting dilakukan? Dalam situsnya WHO menjelaskan, dengan menjaga jarak dengan orang lain maka risiko menghirup virus yang terjatuh pada saat seseorang batuk atau bersin bisa dihindari. Adapun jarak antar orang ketika bertemu yang dianjurkan WHO adalah minimal satu meter.

Himbauan presiden kemudian direspon oleh perusahaan dengan meminta para pegawainya untuk work from home atau bekerja dari rumah. Himbauan ini bisa menjadi impian semua orang tua karena terbebas dari ritual macet-macetan di jalan, tapi sekaligus juga mendatangkan rasa waswas. Mengapa? Karena bekerja dari rumah juga berarti harus bisa memenuhi 2 target penting, yaitu menyelesaikan pekerjaan sambil mengurus anak. Apalagi seringnya anak-anak ketika tahu orang tuanya tidak pergi ke kantor tiba-tiba jadi berenergi untuk melakukan apa saja demi mendapat perhatian dari ayah dan ibunya.

Dan, pada situasi pandemik seperti sekarang, bisa jadi fokusnya bukan hanya pekerjaan dan anak, tapi juga tetap waspada pada status penyebaran wabah. Lalu, bagaimana membuat diri tetap fokus sambil memenuhi keinginan anak untuk diperhatikan serta tetap tenang dalam situasi serba tidak pasti? Tenang. Jangan khawatir, Parentstory temani Anda menghadapi situasi ini bersama-sama. Berikut tips lengkapnya:

Tentukan ekspektasi dan bekerjasamalah dengan pasangan

Jangan memaksa diri untuk selalu sempurna, karena situasi saat ini bukanlah kondisi normal Anda bekerja. Pertama di luar rumah sedang ada wabah penyakit yang membuat Anda sedikit lebih waspada untuk setiap perubahan situasi yang terjadi. Kedua, bekerja di rumah juga berarti siap untuk “diganggu” oleh anak kapan saja. Karena itu, buatlah ekspektasi yang wajar untuk diri Anda sendiri dan libatkan pasangan dalam memenuhi ekspektasi itu. Maka, komunikasi menjadi penting.

Jika memungkinkan, bekerjalah secara bergantian dengan pasangan. Misalkan saat pasangan menyiapkan sarapan, Anda bisa mulai bekerja. Lalu, ketika tiba giliran Anda yang harus mengurus kebutuhan rumah dan anak, maka pasangan bisa fokus bekerja. Dan, maksimalkanlah untuk fokus bekerja ketika tiba giliran anak tidur siang.

Bebas stres berkat perencanaan

Satu hal yang membuat banyak orang menjadi panik, ketika pemerintah mengumumkan pandemik Covid-19 sudah menjadi darurat nasional non-alam adalah, tidak ada acuan yang jelas kapan penyebaran virus akan berakhir. Apalagi ada risiko penutupan daerah atau lockdown jika penyebaran virus terus meluas. Karena itu, penting untuk memiliki perencanaan setiap hari. Buatlah jadwal harian setiap malamnya, mulai dari bangun tidur sampai istirahat malam hari. Beraktivitaslah sewajarnya. Ini artinya, bangunlah sama seperti hari-hari biasanya. Jangan lupa untuk memasukkan target pekerjaan dalam jadwal harian ini, mulai dari rapat virtual secara daring, konfirmasi klien, sampai memenuhi target harian dari kantor.

Khusus untuk kebutuhan anak, jadwalkan juga jam berapa ia harus makan utama, makan camilan, bermain, mandi, dan sebagainya. Jangan lupa untuk menuliskan menu makanan untuk satu hari itu. Perencanaan ini ibarat sistem yang akan membantu Anda memenuhi semua target harian. Plus, Anda jadi punya gambaran bagaimana hari esok harus dihadapi.

Buatlah “zona merah” agar tetap fokus

Teresa Douglas, ­salah satu penulis buku Secrets of the Remote Workforce, menyebutkan penting untuk memiliki “zona merah” ketika bekerja di rumah. Hal ini untuk menekankan pada anak-anak bahwa orang tuanya harus tetap fokus saat bekerja di rumah. “Jangan merasa bersalah untuk menempelkan tanda ‘sedang rapat’ di pintu kamar kerja Anda. Batasan ini penting agar anak mengetahui meski orang tuanya ada di rumah, tapi pada jam-jam tertentu mereka harus fokus bekerja,” ucap Douglas.

Jika di rumah atau apartemen tidak memungkinkan untuk memiliki ruang khusus untuk bekerja, siasati dengan menjadikan ruang tamu atau kamar sebagai “zona merah”. Dan ketika Anda tengah melakukan rapat virtual, jangan segan untuk menginformasikan kepada lawan bicara bahwa anak Anda juga sedang berada di sekitar Anda. Jadi, jika ada anak yang tiba-tiba masuk ke kamar atau bertingkah mencari perhatian, mintalah pengertian mereka untuk terlebih dahulu memberikan pengertian pada anak, sehingga Anda bisa kembali rapat virtual.

Jangan lupa untuk istirahat

Hal yang paling menyenangkan dari bekerja di rumah adalah, Anda bisa menikmati makan siang bersama anak-anak. Jadi, nikmatilah momen tersebut. Ketika istirahat, letakkan ponsel Anda dan berinteraksilah dengan anak-anak sehingga mereka tetap merasa kehadiran Anda di rumah, meski lebih banyak waktu dihabiskan dengan fokus bekerja. Di samping itu, banyak penelitian membuktikan, para pekerja yang menjauhkan diri dari ponsel serta media sosial ketika jam istirahat kerja ternyata bisa kembali bekerja lebih fokus.

Jangan memperpanjang jam kerja

Situasi pandemik juga membuat anak-anak tidak dapat pergi ke sekolah. Hal ini bisa jadi membuat anak-anak jenuh karena harus terus di rumah dan tidak bertemu dengan teman-temannya. Jadi, berkomitmenlah untuk berhenti bekerja ketika waktunya selesai. Karena setelah jam kerja berakhir, maka waktunya fokus kepada anak-anak. Mengingat banyak sekolah memindahkan kegiatan belajar mengajar langsung menjadi daring, maka tanyakan bagaimana anak menghadapi perubahan situasi ini. Tetap ciptakan percakapan yang positif agar anak tidak terbawa situasi panik menghadapi pandemik.