Panduan Berkontrasepsi di Masa Pandemi

Pastikan menerapkan protokol kesehatan selama konsultasi dan pemasangan kontrasepsi di masa pandemi.

Penggunaan Kontrasepsi saat Pandemi Covid-19

Jauh sebelum pandemi Covid-19 terjadi, program keluarga berencana (KB) dan kesehatan reproduksi sudah memiliki tantangannya sendiri. Dua di antara sekian banyak tantangannya adalah, masih tingginya kehamilan yang tidak direncanakan dan tingginya tingkat putus pakai kontrasepsi. Dan selama pandemi, program Keluarga Berencana (KB) terancam gagal, hal ini pun diamini oleh Deputi Bidang Keluarga Berencana dan Kesehatan Reproduksi BKKBN dr. Eni Gustina, MPH.

Tunda Kehamilan Sampai Pandemi Berakhir

Ia menyebutkan, yang menjadi penyebab gagalnya program KB selama pandemi adalah, karena terbatasnya akses masyarakat ke fasilitas kesehatan yang menyediakan pelayanan KB. Masyarakat tidak merasa percaya diri pergi ke fasilitas kesehatan karena selama pandemi, fasilitas kesehatan diprioritaskan untuk menangani pasien Covid-19. Alhasil, masyarakat menjadi enggan mendatangi fasilitas kesehatan karena takut tertular Covid-19. Faktanya memang terjadi penurunan penggunaan kontrasepsi. BKKBN, sambung dr. Eni, mencatat sejak pandemi dari Maret 2020 hingga sekarang, penurunan penggunaan kontrasepsi berdampak pada 420 ribu kehamilan tidak direncanakan. Bahkan hal ini juga terjadi secara global. Dr. Melania Hidayat, MPH., UNFPA Assistant Representative pada peringatan Hari Kontrasepsi Sedunia yang digelar DKT Indonesia beberapa waktu lalu menyebutkan, setidaknya ada sebanyak 47 juta perempuan kehilangan akses pelayanan kontrasepsi. Ini kemudian menyebabkan 11,4 juta kehamilan tidak direncanakan terjadi secara global selama 2020-2021. Karena itu perlu kerjasama banyak pihak untuk mengembalikan target pelaksanaan program KB kembali ke jalurnya.

Lalu pertanyaan penting pun muncul, apakah aman untuk melakukan pemeriksaan serta pemasangan kontrasepsi di masa pandemi? Aman, selama menerapkan protokol kesehatan secara tepat. Dr. Eni kemudian menyebutkan prosedur pelayanan KB yang sebaiknya diketahui dan diterapkan bersama.

  1. Hubungi fasilitas kesehatan untuk membuat pendaftaran konsultasi serta pemasangan kontrasepsi. Tujuannya, agar Anda tidak menunggu terlalu lama di fasilitas kesehatan sehingga risiko kontak dengan banyak orang bisa diminimalisir.
  2. Jangan lupa untuk selalu menggunakan masker selama berada di fasilitas kesehatan atau tempat pelayanan kontrasepsi. 
  3. Saat di ruang tunggu, pastikan Anda selalu menjaga jarak minimal 2 meter dengan orang lain.
  4. Usahakan mencuci tangan sesering mungkin dengan sabun atau cairan pembersih tangan, sesaat sampai di fasilitas kesehatan dan setelah selesai menjalani konsultasi atau pemasangan kontrasepsi.
  5. Saat di ruang konsultasi, pastikan tenaga kesehatan menggunakan alat pelindung diri (APD) lengkap dan face shield. Pastikan juga jarak Anda dengan tenaga kesehatan adalah 2 meter saat berkonsultasi.
  6. Jika mengalami keluhan, hubungi petugas kesehatan terlebih dahulu melalui telepon untuk mendapatkan pertolongan pertama.

“Pada intinya adalah, tetap rencanakan setiap kehamilan. Bahkan Ketua BKKBN sudah menghimbau agar menunda kehamilan selama pandemi. Karena apa? Meski sejauh ini disebutkan kalau virus penyebab Covid-19 tidak dapat menularkan dari ibu ke janin, tapi semuanya masih dalam penelitian. Kami berharap masyarakat semua akan lebih sadar mencegah penularan Covid-19, menjaga kesehatan, dan menunda kehamilan.” Demikian dr. Eni memaparkan.

Panduan untuk Akseptor KB di Masa Pandemi

Himbauan untuk menunda kehamilan sampai pandemi berakhir juga datang dari Kementerian Kesehatan. Bahkan Kementerian Kesehatan pun mengeluarkan rekomendasi pelayanan KB dan kesehatan reproduksi, khususnya pada akseptor KB agar tidak terjadi putus pakai kontrasepsi pada situasi pandemi seperti sekarang.

  1. Bagi akseptor IUD/implan yang sudah habis masa pakainya, jika tidak memungkinkan untuk mengunjungi fasilitas kesehatan maka gunakanlah kondom yang dapat diperoleh dengan menghubungi petugas PLKB atau kader melalui sambungan telepon. Apabila tidak tersedia, bisa menggunakan sistem kalender atau senggama putus.
  2. Bagi akseptor suntik, diharapkan datang ke petugas kesehatan sesuai jadwalnya. Tapi ingat, untuk membuat perjanjian terlebih dahulu sehingga tidak perlu menunggu terlalu lama di fasilitas kesehatan.
  3. Bagi akseptor pil, diharapkan dapat menghubungi petugas PLKB atau kader untuk mendapatkan pil KB serta memastikan ketersediaan kontrasepsi.
  4. Ibu yang melahirkan sebaiknya langsung menggunakan KB Pasca Persalinan.