Pentingnya Mengajarkan Anak untuk Menerima Kekalahan dengan Bijak

Inilah mengapa anak-anak sulit menerima kekalahan.

Ajarkan Anak untuk Menerima Kekalahan dengan Bijak

Tahukah Anda, ketika anak berusia 5 tahun, mereka tengah belajar tentang rules atau peraturan ketika bermain. Butuh banyak energi dan emosi bagi mereka untuk mengingat aturan-aturan tersebut. Bahkan menurut Sally Beville Hunter, Ph.D., bagi anak usia 5 tahun, bermain sesuai aturan adalah segala-galanya. Alhasil, mereka pun belajar tentang ekspektasi memenangkan kompetisi apabila mengikuti semua aturan yang diterapkan dalam satu permainan. “Jadi mereka akan menjadi sangat emosional ketika ternyata mereka kalah, karena merasa kesalahan ada di dalam diri mereka,” jelas Hunter yang merupakan Asisten Profesor Anak dan Keluarga di University of Tennessee.

Hunter lantas memberi contoh yang lebih konkret. Pada pertandingan sepakbola anak-anak TK, mereka masih belum mengerti tentang strategi bermain, berbagi peran, dan kerjasama. Yang mereka tahu adalah, bagaimana menggiring bola sampai ke gawang lawan, karena di dalam aturannya, inilah yang akan membuat mereka mendapat skor dan memenangkan pertandingan. “Inilah mengapa umumnya anak-anak akan sangat kecewa ketika sadar kalau mereka menggiring bola ke gawang yang salah,” papar Hunter seperti dilansir dari The New York Times.

Pada usia 5 tahun, anak belajar tentang meregulasi diri.

Sepaham dengan Hunter, Chris Moore, Ph.D., juga menyebutkan pada saat anak berusia 5 tahun ia tengah memasuki tahap meregulasi diri. “Jiwa kompetitif mulai muncul tapi masih sangat emosional. Jadi mereka belum mengerti tentang berkompetisi dengan empati.” Demikian dijelaskan Moore yang merupakan Profesor di Psychology and Neuroscience pada Dalhousie University.

Moore banyak melakukan penelitian tentang rasa keadilan pada anak usia preschool atau 5-7 tahun. Ia lantas bercerita tentang sebuah eksperimen yang pernah dilakukan pada anak-anak tentang menentukan pilihan. Dalam eksperimen ini ada 2 skenario yang dilakukan. Skenario pertama, anak diberikan satu stiker dan teman-temannya juga mendapatkan satu stiker. Lalu skenario kedua, anak diberikan dua stiker dan temannya yang lain mendapatkan tiga stiker. “Hasilnya mereka akan memilih skenario yang pertama, meski secara jumlah skenario kedua membuat mereka menerima stiker lebih banyak. Tapi mereka akan memilih mendapat satu stiker saja ketimbang temannya mendapat stiker lebih banyak darinya.”

Orang tua tidak perlu merasa kecewa ketika anak seolah tidak mau mengalah dan selalu ingin terlihat menjadi pemenang. Ditekankan oleh Moore, semua anak-anak mengalami fase ini dan yang harus dilakukan oleh orang tua adalah membantu mereka untuk bisa meregulasi dirinya.

Yang harus dilakukan orang tua agar anak bisa belajar menerima kekalahan.

Salah satu cara untuk membantu anak meregulasi emosinya menurut Becky Kennedy, Ph.D adalah menjelaskan bahwa dalam permainan, ada yang menang dan ada yang kalah. “Dengan menjelaskan seperti ini maka anak akan belajar untuk meregulasi atau mempersiapkan dirinya terlebih dahulu,” jelas Kennedy yang adalah seorang Psikilog Klinis yang berdomisili di New York ini. Ia lantas mencontohkan cara menjelaskan menang dan kalah dalam permainan. “Jadi nanti kita akan bertanding satu games. Dalam setiap pertandingan akan selalu ada yang menang dan yang kalah. Dan sangat wajar kalau kalah, kita merasa kecewa. Aku juga merasakan begitu, kok.” Menurut Kennedy dengan menceritakan kalau orang tua juga merasakan emosi kekecewaan yang sama ketika kalah, bisa membuat anak tidak terlalu menyalahkan dirinya. Plus, anak bisa memahami merasa kecewa saat kalah ternyata dialami oleh semua orang, termasuk orang tuanya sendiri.

Tapi lengkapi juga pembelajaran tentang rasa kecewa saat kalah bertanding dengan cara untuk mengatasinya. “Cara aku mengatasi kekecewaan adalah dengan menenangkan diri. Tarik napas dalam-dalam lalu hembuskan dengan perlahan, sambil mengatakan pada diriku bahwa setidaknya aku sudah mencoba melakukan yang terbaik.” Atau jika yang akan bertanding adalah Anda dengan anak Anda, bisa juga untuk memberikan gambaran konkret tentang mengatasi kekecewaan. Karena menurut Prof. Kennedy, kuncinya bukan sekadar membuat anak mengerti ada pihak yang menang dan yang kalah tapi juga bagaimana bersikap kepada lawan apabila kita menjadi pihak yang kalah. “Seandainya Aku yang menang, apakah kamu akan protes?” Demikian Prof. Kennedy menyontohkan.

Pertanyaan ini akan membantu orang tua untuk mengetahui sejauh mana anak-anak memahami tentang kompetisi dan menerima kekalahan. Tapi Prof. Kennedy juga mengingatkan, meskipun Anda sudah menjelaskan tentang pertandingan, menang dan kalah, bukan berarti anak bisa dengan cepat meregulasi dirinya ketika menerima kekalahan. Biasanya, sambung Prof. Kennedy, pada saat anak berusia 7 tahun dan sudah sekolah dasar, ketahanan emosi mereka semakin teruji saat menghadapi kekalahan atau kesalahan. Karena tekanan dari teman-teman sekelas mulai terlihat, dia bisa jadi diolok-olok temannya ketika kalah atau berbuat salah. Dan ini tentunya membuat mereka menjadi malu.

Malu adalah ekspresi yang wajar tapi yang utama adalah tetap bisa membuat anak punya semangat untuk mencoba kembali. Ini tak hanya akan membuat emosinya menjadi lebih matang, tapi menciptakan daya juang yang tinggi pada anak. “Jangan paksa anak-anak untuk dengan cepat menerima kekalahan, karena kita saja yang dewasa masih sering tidak bisa menerima kekalahan. Ini adalah jiwa kompetisi yang ada di dalam setiap individu,” pungkas Prof. Moore.