Pentingnya Mengajarkan Makna Silaturahmi Sejak Dini

Mengajarkan anak untuk bersilaturahmi pada momen-momen penting seperti Idul Fitri akan menciptakan ikatan yang kuat dengan kerabatnya.

Pentingnya Mengajarkan Makna Silaturahmi Sejak Dini

Kita pasti sering mendengar pepatah bijak yang mengatakan, “Silaturahmi memperpanjang usia.” Kutipan ini sebenarnya bersumber dari hadis yang diriwayatkan al-Bukhari. Tapi ternyata, bukan hanya dari sisi religius saja yang menekankan pentingnya menjalin tali silaturahmi. University of Science and Technology menyebutkan, silaturahmi akan memberikan manfaat positif bagi psikologis seseorang.

Itu mengapa sangat penting untuk mengajarkan makna silaturahmi sejak dini kepada anak. Karena dunia psikologis juga menyebutkan, anak yang memiliki kedekatan emosional dengan keluarga cenderung lebih stabil menjalani proses tumbuh kembangnya. Karena kedekatan dengan keluarga besar membuat anak merasa memiliki sumber kasih sayang yang berlimpah.

Inilah 5 manfaat membiasakan anak menjalin silaturahmi dengan keluarga besar

Menurut Bryan Zitzman, AKA, setidaknya ada 5 hal positif yang terbentuk pada diri anak ketika ia terbiasa terlibat dalam acara keluarga besar. Menurutnya, interaksi yang terjadi saat momen-momen penting seperti hari raya, pernikahan, atau bahkan arisan akan membuat anak belajar tentang nilai-nilai yang dimiliki keluarga dengan cara yang menyenangkan. Tapi secara spesifik, Bryan yang adalah terapis pernikahan dan keluarga ini menyebutkan, setidaknya ada 5 manfaat silaturahmi yang bermanfaat positif bagi psikologis anak, yaitu:

1. Anak belajar tentang ikatan keluarga.

Di era media sosial seperti sekarang, semua orang rasanya begitu mudah terhubung dengan seluruh anggota keluarga yang tersebar di seluruh dunia. Teknologi memang bisa saling menghubungkan. Setiap anggota keluarga bisa mengikuti pertumbuhan keponakan atau cucunya melalui unggahan foto atau video yang dilakukan di laman media sosial. Lalu dengan sigap semuanya bisa merespon dengan memberi tanda suka, mengomentari, atau bahkan membagikannya di laman media sosialnya. Meski media sosial menghubungkan seluruh anggota keluarga, tapi menurut Bryan, interaksi yang terjadi tidak akan mampu membentuk ikatan antar anggota keluarga. Hal ini berbeda jika pertemuannya dilakukan secara langsung seperti saat momen hari raya, anak bisa belajar secara langsung bagaimana setiap anggota keluarga saling berinteraksi. Interaksi ril inilah yang akan membentuk ikatan keluarga yang kuat dalam memori otak anak.

2. Anak mengenali nilai-nilai yang diwariskan secara turun menurun dalam keluarga.

Pada momen penting seperti hari raya, pernikahan, kelahiran atau kematian, keluarga biasanya memiliki ritual khusus yang harus dilakukan. Proses ini akan membuat anak belajar tentang nilai-nilai yang dianut oleh keluarga besarnya.

3. Mengajarkan anak tentang merayakan kebahagiaan bersama anggota keluarga.

Pada beberapa keluarga, pencapaian akan sesuatu hal akan terasa lebih sempurna jika dirayakan bersama keluarga besar. Misalnya menempati rumah baru, syukuran kehamilan, syukuran melahirkan, atau bahkan pernikahan adalah momen-momen pencapaian yang biasanya dirayakan dengan melibatkan seluruh anggota keluarga. Momen ini akan mengajarkan setiap pencapaian akan terasa lebih indah jika dirayakan bersama anggota keluarga.

4. Memberikan contoh pada anak tentang pentingnya peran keluarga.

Orang tua adalah “guru” bagi anak-anaknya, maka jangan heran jika anak lebih cepat meniru segala hal yang dilakukan orang tua ketimbang melakukan apa yang diperintah. Konsep ini akan sangat memudahkan tugas orang tua ketika ingin mengajarkan anak tentang pentingnya peran keluarga. Setiap interaksi yang terjadi dalam acara keluarga adalah momen untuknya belajar tentang ikatan antara setiap anggota keluarga. Bahkan menurut Bryan ketika kita dengan sukarela menawarkan diri menjadi tuan rumah dalam angenda pertemuan keluarga besar, anak dapat belajar betapa kehadiran keluarga besar harus disambut dengan rasa bahagia. Bagaimana Anda menyiapkan makanan dan menyiapkan rumah adalah aksi kecil untuk mengajarkan anak tentang pentingnya kehadiran keluarga besar di rumah. Nilai tambahnya, sambung Bryan, anak akan semakin mengerti bagaimana hubungan antar keluarga, termasuk dirinya. Bahkan bisa jadi mereka belajar hal positif dari tante, om, kakek, nenek atau sepupunya.

5. Menambah kenangan indah pada memori otak anak.

Acara keluarga bisa jadi menjadi sumber momen bahagia untuk Anda dan anak-anak. Berbagi tawa, berbincang banyak hal dengan hangat dan berfoto bersama adalah hal-hal sederhana yang bisa jadi memori positif yang menguatkan hubungan keluarga. Dan memori positif akan tinggal dalam otak untuk jangka waktu yang lama. Bagi anak, kenangan indah ini juga menjadi kumpulan memori yang akan selalu mengingatkan anak betapa dirinya selalu diterima dan dicintai oleh keluarganya.

Bersilaturahmi di saat pandemi

Melihat segala manfaat positif dari mengenalkan makna silaturahmi sejak dini, Anda mungkin semakin merindukan keluarga besar. Apalagi sebentar lagi hari raya Idul Fitri akan segera tiba, momen yang paling ditunggu-tunggu seluruh keluarga besar. Namun pandemi Covid-19 yang tengah terjadi membuat kita harus merayakannya di rumah saja.

Apakah ini berarti kita tidak bisa saling bermaaf-maafan dengan keluarga besar? Jangan langsung patah semangat, saat ini banyak aplikasi telepon video yang bisa dimanfaatkan seperti Zoom atau Google Meets. Ajaklah keluarga besar untuk bertemu secara daring, Bahkan Anda bisa menampilkan seluruh anggota keluarga yang ikut dalam video call untuk berfoto bersama. Foto ini tentu akan memberikan kenangan tersendiri bagi kita kelak tentang bagaimana keluarga tetap menjaga tradisi bersilaturahmi di masa pandemi.

0 Komentar