Pentingnya Vaksinasi HPV Sejak Dini

Vaksinasi HPV adalah pencegahan primer yang bisa menyelamatkan anak perempuan dari kanker serviks!

Pentingnya Vaksinasi HPV Sejak Dini

Kanker serviks adalah salah satu jenis kanker yang bisa dicegah dengan vaksinasi. Tapi ironinya angka pasien kanker serviks yang meninggal di dunia terus saja naik. Data Globocan mencatat setiap 2 menit, 1 perempuan meninggal karena kanker serviks. Bagaimana datanya di Indonesia? Globocan mencatat, Indonesia menjadi negara dengan insiden kanker serviks tertinggi di Asia, dan lebih dari 50% diantaranya meninggal dunia.

Semua orang berisiko terinfeksi HPV.

Human Papilloma Virus (HPV) adalah penyebab kanker serviks. Virus ini termasuk virus umum yang bisa ditemukan di mana-mana. HPV terdiri lebih dari 130 tipe dengan keganasan berbeda. Selain menyebabkan kanker serviks, HPV juga menyebabkan kanker lain seperti kanker penis, kanker anus, kanker tenggorokan, dan sebagainya. Sedangkan tipe HPV yang tidak ganas menyebabkan kutil kelamin atau kutil di kulit. Center for Disease Control (CDC) Amerika Serikat menyebutkan baik laki-laki maupun perempuan seumur hidupnya memiliki risiko 70-80% terinfeksi HPV. Artinya 8 dari 10 orang akan terinveksi HPV selama periode hidupnya.

Lalu bagaimanakah HPV bisa ditularkan? Dr. Kristoforus Hendra Djaya, SpPD., vaksinolog dari In Harmony Clinic menjawab, 85% penularan HPV adalah melalui hubungan seksual dan 15% melalui kontak langsung seperti pemakaian handuk bersama, kuku yang terkontaminasi HPV, atau transisi vertikal dari ibu ke anak.


Adapun pencegahan kanker serviks ada dua, yaitu pencegahan primer dengan vaksinasi HPV dan pencegahan sekunder, yaitu skrining dan deteksi dini. “Pencegahan yang paling efektif adalah dengan vaksinasi HPV yang diberikan 2x pada anak-anak atau 3x pada orang dewasa,” jelas Kristoforus pada diskusi yang diselenggarakan Forum Ngobras beberapa waktu lalu.

CDC menegaskan efikasi vaksin HPV mencapai 90-99%. “99% ini bisa tercapai jika diberikan pada anak-anak sebelum mereka berhubungan seksual. Sedangkan vaksinasi yang dilakukan bagi mereka yang sudah berhubungan seksual efeikasinya 90%,” jelas Kristoforus. Vaksin HPV sebenarnya bukan vaksin baru. Kristo menyebutkan vaksin ini sudah digunakan sejak lebih dari 10 tahun lalu. Sayangnya, di masyarakat kita masih banyak yang menganggap ini vaksin baru. “Artinya, masih ada yang skeptisme terhadap vaksin HPV ini, kurang percaya, dan lebih banyak lagi yang kurang peduli.”

Cara kerja vaksin HPV memproteksi anak-anak dari kanker serviks.

Virus HPV masuk ketika ada celah luka pada lapisan kulit atau epitel di serviks. Celah luka berupa sobekan kecil ini biasanya terjadi saat berhubungan seksual. “Inilah yang jadi ‘pintu masuk’ HPV untuk untuk menginvasi seluruh jaringan serviks sampai ke dalam sel serviks lalu menggandakan diri. Sel lama-lama berubah menjadi kanker.”


Sayangnya virus ini hanya masuk ke epitel dan tidak masuk ke pembuluh darah sehingga tidak dikenali sistem imun tubuh. “Inilah gunanya vaksin, untuk mengenali virus dan membentuk antibodi,” jelas Kristoforus. Itulah sebabnya perlindungan optimal dilakukan dengan vaksinasi untuk melindungi sel yang belum terinfeksi dan memberikan kekebalan. Sedangkan pencegahan sekunder, seperti skrining fungsinya adalah untuk menangkap virus yang sudah menginfeksi epitel serviks. Karena itu, lanjut Kristo, bagi yang sudah melakukan hubungan seksual, tidak bisa hanya vaksin HPV atau skrining tetapi harus dua-duanya.

Lalu, bagaimanakah keamanan dari vaksin HPV?

WHO Global Advisory Commitee on Vaccine Safety menegaskan, vaksin HPV sangat aman, dan sampai 2015 sudah 205 juta dosis vaksin HPV digunakan di seluruh dunia. Dari sekian banyak vaksin HPV yang sudah digunakan itu, tidak ada efek samping serius yang ditemukan. Hal lain yang membuat vaksin HPV aman adalah karena dibuat dari virus like particle (VLP) atau partikel mirip virus. Karena isinya VLP maka vaksin HPV tidak menggandung materi DNA sehingga tidak menyebabkan penyakit atau kanker maupun penyakit lain yang bisa ditimbulkan HPV seperti kutil kelamin (kondiloma). Sementara itu, ditemui pada diskusi yang berbeda, Prof. dr. Andrijono, SpOG(K), menyebutkan Himpunan Onkologi Ginekologi Indonesia (HOGI) mendorong pemerintah memasukkan vaksin HPV dalam program nasional. HOGI menganjurkan, vaksin diberikan untuk usia 9-55 tahun, namun lebih efektif untuk anak usia 9-13 tahun, sebelum si anak terpapar HPV.

Adapun pemberian vaksin HPV pada anak usia 9-13 tahun, cukup diberikan dua kali dengan rentang jarak 6-12 bulan dari dosis pertama. Sedangkan pada usia dewasa, vaksin diberikan dalam tiga dosis (bulan 0, 2, dan 6). Di negara-negara yang sudah menjalankan program vaksin HPV secara nasional, angka kejadian kanker serviks turun signifikan. Contohnya, Australia yang angka kejadian HPV turun sampai 50% setelah menjalankan program vaksinasi 10 tahun. Kanada dan Swedia juga mengalami penurunan kasus kanker serviks 80-84%. “Hasil vaksinasi sudah bisa dilihat dalam 5 tahun sejak program dijalankan. Salah satu indikasi vaksinasi efektif bisa dilihat dari insiden kutil kelamin, yang disebabkan HPV tipe tertentu, yang ikut turun,” pungkas Andrijono.