Perlukah Membentuk Ambisi Anak Sejak Dini?

Membentuk anak ambisius yang punya tujuan baik untuk dirinya dan orang lain.

Perlukah Membentuk Ambisi Anak Sejak Dini?

Ketika bicara tentang pembentukan karakter anak, jarang sekali orang tua bertanya, “Apakah perlu mengenalkan konsep ambisi sejak dini?” Menurut Psikolog Saskhya Aulia Prima, M.Psi., kata ‘ambisi’ sering kali dikesankan sebagai hal yang tidak positif. “Padahal kita perlu punya ambisi untuk menjalankan kehidupan sehari-hari,” jelasnya pada Media Briefing: Cerebrofort #MindMappingAnakMasa Depan yang digelar secara daring beberapa waktu lalu.

Anak Visioner Butuh Punya Ambisi atau Motivasi

Saskhya kemudian menyebutkan di dunia psikologis, ambisi sama dengan dorongan, motivasi atau drive yang diperlukan seseorang untuk melakukan sesuatu serta mewujudkan cita-citanya. Jadi sangat penting untuk mengenalkan anak tentang konsep ambisi sejak dini. Apalagi ketika nanti anak-anak dewasa, dunia masa depan akan begitu kompleks dengan persaingan yang ketat. Karena itu menurutnya, orang tua perlu membentuk karakter anak visioner agar anak tidak terbawa arus pergaulan dan bisa menciptakan masa depannya sendiri untuk bisa bertahan serta sukses. Apalagi karakter anak visioner menurut Saskhya harus punya motivasi yang tinggi untuk mewujudkan goals atau cita-citanya. “Adapun karakter dari anak visioner adalah, punya goal setting, berdaya juang tinggi, optimis, serta kreatif. Semuanya akan terbentuk ketika anak selalu punya motivasi,” ucap co-founder Rumah Konsultasi Tiga Generasi ini.

Namun yang juga penting dari proses membentuk ambisi anak, menurut Saskhya adalah melengkapinya dengan nilai peduli terhadap orang lain. Peduli serta melakukan hal yang bermanfaat untuk orang lain juga merupakan bagian dari karakter anak visioner. Dengan begini anak juga akan belajar bahwa tidak semuanya adalah tentang dirinya sendiri. “Jadi mereka tidak menjadi orang yang ambisius dan menghalalkan segala cara. Tapi juga punya tujuan yang baik untuk dirinya dan orang lain,” tegas Saskhya.

Begini Caranya Membentuk Anak Visioner yang Punya Ambisi Positif

Lantas, bagaimanakah orang tua bisa melatih anak punya ambisi atau motivasi? “Dari hal-hal yang kecil dan sederhana,” jawab Saskhya. Ia lantas menyebutkan sebenarnya melatih anak punya motivasi bisa dilakukan sejak anak usia taman kanak-kanak atau toddler. Biasakan anak untuk mengerjakan kegiatan-kegiatannya sendiri. “Kadang orang tua gatal untuk membuat bagus prakarya anaknya dari sekolah. Jangan lakukan ini. Biarkan dia membuatnya sendiri,” Saskhya mengingatkan. Hal sederhana ini akan membuat anak terbiasa untuk memiliki serta menyelesaikan goals-nya sendiri. Tak hanya itu, anak jadi memiliki daya juang yang tinggi karena selalu terpacu untuk menyelesaikan tugasnya sendiri. Lalu latih anak untuk bisa mengambil keputusan atau decision making. Ini tidak hanya membentuk rasa percaya diri anak tapi juga melatih anak untuk menemukan solusi atas tantangan atau masalah yang dihadapi. Alhasil kemampuan anak berpikir kreatif juga akan terasah dan menjadi lebih optimis dalam menghadapi segala tantangan.

Saskhya lantas bercerita, ia pernah menghadapi klien yang sudah berusia 14 tahun tapi masih tidak bisa mengambil keputusan atau decision making, bahkan untuk hal yang sederhana. “Ia tidak bisa memilih mau es krim rasa stroberi atau coklat. Kenapa? Karena dia tidak pernah diberi kesempatan untuk punya motivasi atau ambisi sendiri,” Itu mengapa Saskhya kembali menekankan, bahwa ambisi dan motivasi dalam rentang waktu tertentu akan membantu anak untuk tetap maju apapun kondisinya. Adapun tools atau alat bantu yang bisa digunakan untuk membantu orang tua dalam melatih ambisi anak, Saskhya menyarankan untuk menggunakan mind mapping. Ia lantas memberikan contoh mind mapping yang dapat dibuat. Ajak anak membuat perencanaan sendiri dengan cara yang menyenangkan, misalnya dengan melibatkan mereka saat memilih menu makanan hari ini. “Biarkan mereka mengeluarkan pendapatnya mulai dari pemilihan bahan, penyusunan alat masak, bahkan sampai memasaknya.” Atau bisa juga melalui permainan. Saskhya menyontohkan dengan mengajak anak bermain dengan goal tertentu. “Misalnya membuat mainan yang target akhirnya adalah membuat sebuah kota atau bagunan tertentu.”

Lalu untuk membentuk kedisiplinan anak, Saskhya menyarankan bisa dilakukan dengan membiasakan anak menyiapkan kebutuhan atau buku-buku sekolahnya sendiri. “Untuk anak yang lebih muda, ini bisa dilatih dengan cara membiasakan mereka melakukan kegiatan rawat diri sendiri.” Sedangkan untuk melatih empati dan kepedulian anak terhadap lingkungannya, menurut Saskhya bisa dilakukan dengan cara meminta anak menuliskan 1-3 hal perbuatan baik yang dilakukannya sebelum tidur setiap harinya. Atau bisa juga dengan menuliskan apa yang membuatnya bahagia atau tersenyum hari ini. Untuk anak yang masih belum bisa menulis, Saskhya menyarankan bisa dilakukan dengan membuat emoticon atau ikon emosi. Dengan bantuan papan, tempelkan emoticon tersenyum dan minta anak menyebutkan hal yang membuatnya senang serta merasa bersyukur. “Jadi tetap ada value yang disampaikan pada anak bahwa ambisi tidak hanya tentang dirinya sendiri tapi juga harus bermanfaat bagi orang lain,” pungkas Saskhya

Temukan pilihan aktivitas, kelas, dan kegiatan edukatif untuk anak dan orang tua, serta beragam artikel menarik seputar kesehatan, parenting, dan gaya hidup keluarga modern. Download aplikasi Parentstory sekarang di App Store dan Google Play Store.