Pertolongan Pertama Ketika Gigi Anak Patah

Menyimpan gigi anak yang patah atau copot ke dalam susu bisa menyelamatkan gigi anak.

Pertolongan Pertama Ketika Gigi Anak Patah

Banyak orang tua berpikir, menjaga kesehatan mulut dan gigi anak baru bisa dimulai saat mereka memasuki usia sekolah. Padahal kesehatan mulut dan gigi juga memegang peranan penting dalam tumbuh kembang anak. Karena sebenarnya, gigi susu berfungsi mempertahankan ruang dan memberikan tempat untuk gigi permanen. Artinya, jika kebersihan mulut dan gigi tidak terjaga sejak gigi susu anak mulai tumbuh kembang anak menjadi tidak optimal.

“Selain mempertahankan ruang dan memberikan tempat untuk gigi permanen, gigi susu juga akan memengaruhi kecakapan anak dalam berbicara, khususnya melafalkan huruf T, J, F dan V. Bahkan gigi susu yang tidak terawat bisa memengaruhi perkembangan wajah anak. Alhasil secara jangka panjang kondisi ini bisa menimbulkan dampak psikologis pada anak,” papar drg. Avianti Hartadi, Sp KGA pada webinar yang digelar RS Pondok Indah – Bintaro Jaya beberapa waktu lalu. Lalu sebenarnya pada usia berapa gigi susu anak mulai tumbuh? Menurut drg. Avianti, pertumbuhan gigi anak terjadi dalam rentang usia 6-18 bulan. Momen tumbuh gigi pertamanya bisa beda-beda, ada yang usia 6 bulan sudah terlihat ada yang sampai 10 bulan belum terlihat satu gigi susu pun yang tumbuh. “Orang tua harus waspada kalau sampai usia 18 bulan, belum ada satu gigi pun yang tumbuh. Jika ini yang terjadi sebaiknya segera membawa anak ke dokter gigi,” tegas drg. Avianti yang merupakan anggota dari Divisi Seksi Ilmiah, Ikatan Dokter Gigi Anak Indonesia ini.

Inilah Pertolongan Pertama pada Gigi Susu yang Patah atau Copot Agar Anak Tidak Ompong

Sedangkan untuk waktu pergantian dari gigi susu ke gigi permanen, disebutkan drg. Avianti, biasanya mulai terjadi pada usia 6 tahun. Untuk gigi susu yang tanggal dengan sendiri, tidak perlu ada perlakuan khusus pada gigi tanggal tersebut. Tapi terkadang ada situasi yang tidak bisa dihindari yang bisa menimbulkan risiko patah atau copotnya gigi susu karena trauma atau terbentur. Hal pertama yang harus dilakukan orang tua adalah memeriksa apakah terjadi pendarahan atau tidak. Jika terdapat pendarahan, tekanlah area tersebut dengan kasa atau kain bersih. Tapi pastikan tangan Anda juga bersih sebelum melakukan hal ini. Jika pendarahan mulai berhenti, kompreslah area tersebut dengan es batu. Selain untuk menghentikan pendarahan, ini juga bisa untuk mengurangi rasa nyeri akibat trauma yang dialami. Tapi jika pendarahan tak kunjung berhenti, segeralah bawa anak ke dokter gigi. Jika ditanya kepada para orang tua apa yang mereka lakukan terhadap gigi susu yang patah atau copot karena trauma, maka sebagian besar menjawab akan membuang langsung gigi tersebut dan tidak merasa ada urgensitas untuk membawa anak ke dokter gigi. Karena situasi ini dianggap sebagai hal yang wajar terjadi pada anak-anak.

Padahal menurut drg. Avianti, jika saja para orang tua tahu pertolongan pertamanya maka sangat mungkin gigi yang patah atau copot itu terselamatkan. Karena pada dasarnya gigi susu yang patah atau copot itu masih dalam kondisi bagus jadi masih bisa dimanfaatkan, hanya saja perlu dilakukan tindakan cepat untuk mencegah akar gigi jangan sampai “mati”. Lantas, bagaimanakah pertolongan pertamanya? “Simpan gigi di dalam gelas yang berisi susu, karena nutrisi susu baik untuk membuat gigi tetap dalam kondisi yang baik,” jawab drg. Avianti. Ini harus dilakukan segera, tidak boleh lebih dari 30 menit. Setelah memastikan kondisi anak aman dan gigi yang copot atau patah sudah disimpan di dalam gelas berisi susu, segeralah bawa anak ke spesialis gigi anak. “Dokter akan melakukan pemeriksaan dan memasang kembali gigi ke dalam soketnya,” imbuh drg. Avianti. Apakah tetap perlu ke dokter gigi jika patahan gigi tidak berhasil ditemukan? Menurut drg. Avianti, tetap perlu karena dokter akan memeriksa keutuhan soket gigi dan memastikan apakah ada sisa-sisa gigi di dalamnya. Jika ada, maka dokter akan menggambil sisa akar giginya.

Pentingnya Menjaga Kesehatan Gigi Anak Selama Pandemi

Angka kejadian karies pada anak menurut drg. Avianti sangat tinggi. Ia menyebutkan persentasenya bisa mencapai 93 persen anak berusia 5-6 tahun mengalami karies gigi. Dan seringkali anak tidak bisa memahami rasa nyeri gigi yang dialaminya, hingga reaksi yang paling sederhana yang dilakukannya adalah dengan “mogok makan” akibat tidak nyaman setiap kali mengunyah. Ini tentu akan mempengaruhi pola makan anak. “Kalau tidak ditangani, karies gigi akan menyebabkan gigi berlubang yang kalau dibiarkan bisa berlanjut sampai ke dentin. Kalau sudah sampai dentin, maka setiap kali anak makan makanan yang asam, panas atau dingin akan merasa nyeri sekali. Dan ini sudah pasti membuat anak jadi sangat rewel.”

Karies gigi paling sering disebabkan oleh sisa makanan yang menempel di gigi yang membuat tingkat keasaman gigi yang berujung pada pembentukan karies dan gigi berlubang. Padahal cara mencegahnya sangat mudah yaitu menjaga kebersihan mulut dan gigi dengan rajin menyikat gigi. “Khusus pada anak-anak, yang juga menjadi tantangan adalah membuatnya bisa membatasi konsumsi makan makanan manis.” Apalagi, sambung dr. Avianti, pada pandemi seperti sekarang seluruh kegiatan anak berpusat di rumah yang tentu menimbulkan rasa bosan pada mereka. “Biasanya untuk mengatasi rasa bosan, mereka akan banyak makan makanan manis. Karena itu, orang tua selain membiasakan anak untuk rajin sikat gigi juga harus menyediakan makanan-makanan sehat di rumah seperti buah. Sehingga akses anak terhadap makanan yang sehat untuk giginya lebih mudah,” pungkas drg. Avianti.