Saat Anak Berkebutuhan Khusus Memasuki Pubertas. Ini yang Harus Dipersiapkan!

Panduan mengedukasi anak berkebutuhan khusus tentang perubahan hormon yang terjadi akibat pubertas.

Saat Anak Berkebutuhan Khusus Memasuki Pubertas.

Masa akil balig atau pubertas bisa sangat membingungkan bagi semua anak, tidak terkecuali anak berkebutuhan khusus. Seperti anak-anak lainnya, anak berkebutuhan khusus juga akan mengalami “kebingungan” begitu menyadari fluktuasi hormon bisa begitu mengubah kondisi fisik serta psikis mereka. Ini bisa menjadi momen yang penuh gejolak untuk anak. Tapi, selama orang tua mengedukasi mereka agar lebih mencintai dirinya, maka anak berkebutuhan khusus dapat tumbuh menjadi individu dewasa yang bertanggung jawab. Tapi pertanyaanya kemudian adalah, bagaimana “membicarakan” perubahan fisik dan psikis yang terjadi pada masa pubertas pada anak berkebutuhan khusus? Jangan khawatir, Parentstory dampingi Anda, para orang tua, agar dapat mempersiapkan super kids Anda jauh sebelum pubertas itu terjadi.

Mulai Edukasi tentang Pubertas Sejak Dini

Membicarakan tentang pubertas tidak bisa dilakukan saat anak sudah memasukinya. Idealnya, mereka harus mengetahui tentang perubahan tubuh yang akan dihadapi jauh sebelum itu terjadi. Apalagi pada anak berkebutuhan khusus membutuhkan proses untuk dapat memahami sebuah informasi. Pada anak berkebutuhan khusus, ciri-ciri pubertas mulai tampak ketika berusia 8 atau 9 tahun, maka sebaiknya membicarakan tentang pubertas dimulai sejak usia ini. Hingga ketika ciri primer pubertas seperti mimpi basah pada anak laki-laki dan menstruasi pada anak perempuan terjadi, anak berkebutuhan khusus sudah lebih siap menghadapinya. Ketika membicarakan tentang pubertas, pilihlah waktu dan ruangan bebas distraksi sehingga anak bisa fokus mendengarkan. Percakapan bisa diawali dengan mengidentifikasi perubahan fisik yang akan mereka alami dan tanyakan bagaimana respon mereka terhadap perubahan itu.

Jelaskan Ciri Pubertas secara Sederhana

Sama seperti mengajarkan anak tentang kemampuan menjadi individu yang mandiri, menjelaskan tentang pubertas juga harus dilakukan secara bertahap dan dengan bahasa yang sederhana. Jangan berikan semua informasi pada satu waktu, karena ini justru akan membuat anak semakin sulit mengerti pesan yang akan kita sampaikan. Dr. Lindsey Waldman, MD, RD., dokter anak spesialis endokrin menyarankan agar menjelaskan tentang pubertas melalui tahapan perubahan yang akan dialami anak secara langsung, seperti tinggi badan, suara, kondisi kulit, dan emosi. Jelaskan bahwa perubahan ini terjadi secara bertahap yang pada puncaknya akan ditandai dengan menstruasi pada anak perempuan dan mimpi basah pada anak laki-laki.

Dan ketika menjelaskan tentang menstruasi, ajari bagaimana pemakaian pembalut, cara membersihkan, dan membuangnya. Hal yang juga penting diajarkan berkaitan tentang menstruasi dan mimpi basah adalah, pentingnya menjaga kebersihan tubuh. Untuk memudahkan orang tua ketika menjelaskan, gunakanlah ilustrasi gambar atau video agar anak bisa memahaminya secara konkret.

Bentuk Rasa Percaya Diri Anak Atas Perubahan Fisik yang Terjadi

Perubahan situasi yang tiba-tiba, sering kali membuat anak menjadi panik dan merasa tidak nyaman. Ketakutan juga bisa muncul, ketika mereka menyadari pubertas membuat tubuh mereka berubah begitu cepat dan signifikan. Rasa tidak percaya diri karena merasa perubahan tubuhnya tidak sama dengan anak-anak lainnya, terlebih dengan keterbatasan yang mereka miliki, bisa menjadi sumber stres baru bagi mereka. Karena itu, yakinkan anak bahwa perubahan yang terjadi dalam tubuhnya dialami oleh semua orang, dan ini normal. “Tekankan kalau setiap perubahan fisik yang terjadi dalam tubuhnya adalah sesuai dengan proporsi tubuhnya,” jelas Waldman. Hal senada juga disarankan oleh Sherri Gordon, penulis buku tentang remaja yang juga bullying prevention advocate. Gordon bahkan menyebutkan dengan menyontohkan kondisi fisik setiap orang berbeda-beda akan menyakinkan anak, bahwa dirinya tak perlu menjadi serupa dengan orang lain. Sehingga, ia bisa lebih menerima perubahan yang terjadi dalam tubuhnya dan sekaligus mencintai bahwa dirinya adalah individu yang spesial.

Ajarkan Anak untuk Berani Melawan Ketika Mendapat Perlakukan yang Melecehkan

Gordon menyebutkan, anak berkebutuhan khusus sangat rentan mengalami perundungan dan pelecehan seksual. Penelitian menunjukkan, anak berkebutuhan khusus berpotensi 3 hingga 4 kali lebih sering mengalami perundungan dari teman sebayanya. Dan sebuah studi mengungkapkan, 68% anak perempuan dan 30% anak laki-laki dengan disabilitas mengalami pelecehan seksual sebelum berusia 18 tahun. Karena itu, penting bagi orang tua untuk memiliki komunikasi yang baik dengan anak-anaknya, khususnya anak berkebutuhan khusus. Mereka harus percaya bahwa orang tua adalah tempat teraman bagi mereka untuk bercerita apapun dan mendapatkan pertolongan. Ajarkan anak untuk berani mengatakan tidak, apabila mereka menerima perlakuan yang tidak menyenangkan. Hal ini bisa dimulai dengan menghargai keputusan mereka ketika menolak memberikan pelukan atau kecupan sebagai ekspresi sayang. “Misalnya ketika kakek atau nenek mereka meminta untuk dikecup sebelum berpisah, ajarkan kalau mereka tidak harus selalu menyetujuinya. Ini adalah langkah awal untuk mengajarkan konsep tentang persetujuan atas tubuhnya sendiri,” pungkas Gordon.

Temukan pilihan aktivitas, kelas, dan kegiatan edukatif untuk anak dan orang tua, serta beragam artikel menarik seputar kesehatan, parenting, dan gaya hidup keluarga modern. Download aplikasi Parentstory sekarang di App Store dan Google Play Store.