Saat Anak Mulai Berbohong, Apa yang Harus Dilakukan?

Menjelaskan pentingnya kejujuran pada anak sesuai dengan usianya.

Saat Anak Berbohong

Kita pasti paham betul bahwa orang tua adalah “guru” pertama anak-anak untuk segala hal, tidak terkecuali tentang kejujuran. Dan kejujuran sendiri adalah elemen esensial ketika berinteraksi dengan orang lain. Kejujuran bahkan disebut sebagai etika penting dalam interaksi sosial. “Semua anak-anak pasti pernah berbohong. Mengajarkan kejujuran pada anak sejak dini sebenarnya adalah skil penting dalam berinteraksi. Ketika anak terbiasa untuk berkata jujur, ia akan mengerti bagaimana menghadapi situasi sehingga tidak perlu menghindarinya dengan berkata bohong. Ini artinya, anak akan terbiasa berkata jujur dalam setiap keadaan,” jelas Victoria Talwar, Ph.D., Profesor dari Departemen of Educational and Counseling Psychology di McGill University.

Menariknya lagi, menurut American Academy of Child & Adolescent Psychiatry, anak-anak dan orang dewasa ternyata berbohong untuk alasan yang sama, yaitu keluar dari masalah, mencapai ambisi pribadi, membentuk citra diri, serta biar terlihat sopan. Pada anak-anak, berkata jujur adalah proses yang harus dipelajari dan kemampuan ini akan terus dilatih sesuai dengan perkembangan usianya. Itu mengapa orang tua perlu memahami bagaimana menghadapi anak sesuai usianya, ketika berkata bohong. Karena setiap tahapan usia anak memiliki perkembangan mental dan emosional yang berbeda-beda. Berikut panduannya:

Usia Batita dan Pra-sekolah (2-4 Tahun)

Pada fase usia ini, kemampuan berbicara anak-anak masih belum matang, karena itu mereka masih belum paham akan konsep kejujuran. Apalagi di usia ini, anak-anak masih belajar untuk membedakan mana yang realita, imajinasi, keinginan, rasa takut, dan harapan. Alhasil, dorongan emosional yang kuat masih sering membuat mereka kebingungan untuk mendeskripsikannya. Elizabeth Berger, Psikiater anak dan penulis buku Raising Kids with Character kemudian memberikan contoh. Ketika adik memperlakukan kakaknya dengan tidak baik, ini akan mendorong kakak untuk ‘mengadu’ pada orang tuanya. “Adik memakan kue saya! Padahal ini tidak terjadi, dan dia hanya ingin mengadu saja.”

Ingatlah, sambung Berger, anak usia prasekolah masih belajar untuk mengekspresikan independensinya sehingga ketika ia berhadapan dengan situasi yang penuh perbedaan akan menjadi sangat emosional baginya. Untuk mengatasinya, orang tua sebaiknya melakukan pendekatan diplomasi sambil mempertanyakan kejujurannya. “Benarkah adik melakukan itu? Tapi kok remahan kuenya malah ada di pipi kamu?”

Berger sangat menekankan, pada rentang usia ini, anak-anak masih terlalu kecil untuk dihukum karena berbohong. Orang tua hanya perlu memancing anak untuk berkata jujur. Sependapat dengan Berger, Talwar menyebutkan anak-anak tetap harus diberi penjelasan apa itu berbohong dan mengapa ini bukanlah sifat yang baik.

Anak Usia Sekolah (5-8 Tahun)

Percaya atau tidak tapi pada rentang usia ini, anak-anak cenderung lebih suka berbohong yang sebenarnya ia menguji apakah dia bisa menghindar dari hal-hal yang tidak disukainya misalnya ke sekolah atau mengerjakan tugas. Yang jarang sekali disadari oleh orang tua adalah, anak-anak pada usia ini sering sekali dibebani dengan begitu banyak tanggung jawab. “Alhasil dia memilih untuk berbohong untuk mengurangi beban itu. Tapi untungnya, ekspresi wajah mereka sangat mudah ditebak ketika sedang berbohong,” jelas Berger.

Jika anak berkata bohong, bicaralah secara terbuka kepada anak mengapa dia melakukannya. Kenalkan kembali tentang konsep kejujuran bisa melalui buku bacaan seperti Be Honest and Tell the Truth karya Cheri J. Meiners. Jangan lupa untuk memuji dengan tulus ketika anak berkata jujur. Sementara itu Talwar juga mengingatkan para orang tua agar konsisten berkata jujur, karena pada usia ini anak-anak adalah pengamat yang jeli. “Misalnya ketika ada orang yang menelepon menjadi kita tapi kita tidak ingin berbicara, jangan minta anak untuk mengatakan kalau Anda sedang tidak ada di rumah. Ini akan membuat anak berpikiran bahwa berbohong bisa dilakukan selama menguntungkan diri sendiri.”

Anak Pra Remaja (9-12 Tahun)

Pada usia ini, anak-anak cenderung mulai membentuk identitas diri maka citra diri yang digambarkan biasanya positif seperti rajin, dapat dipercaya, dan punya banyak teman. Tapi proses membentuk citra diri ini juga membuat mereka lebih sensitif ketika melakukan kesalahan, termasuk saat berbohong. Artinya, orang tua perlu melakukan satu sesi percakapan khusus tentang kejujuran dan apa pentingnya berkata jujur.

Tapi terkadang anak harus “sedikit berbohong” atau melakukan sedikit white lie. Situasi yang paling sering terjadi adalah ketika berinteraksi dengan keluarga besar. Misalnya ketika berkunjung ke rumah keluarga lalu ditawari makanan, tapi ternyata anak masih belum mau makan. Ajarkan pada anak bahwa sebagai tuan rumah, mereka pasti senang jika tamunya menikmati makanan dan minuman yang disajikan. “Makanlah sedikit dan jangan lupa ucapkan terima kasih,” saran Talwar. Dan di atas semua itu, Talwar menekankan pentingnya orang tua menyontohkan tentang kejujuran kepada anak. Walau memang terkadang interaksi sosial dengan keluarga atau tetangga membuat kita harus “sedikit berbohong” tapi kalau anak terbiasa berkata jujur maka dia akan mengerti bagaimana menemukan cara penyampaian yang bijak pada situasi-situasi sulit.

“Pada prinsipnya, anak-anak yang punya hubungan baik serta selalu nyaman untuk bercerita apa saja kepada orang tuanya ternyata memiliki kecenderungan untuk selalu berkata jujur. Tapi ingat juga, bahwa mengajari mereka tentang kejujuran sejak dini tidak menjamin dia akan selalu berkata jujur. Jangan langsung menghakimi, coba cari tahu apa yang menyebabkan anak berbohong sehingga Anda bisa menemukan cara terbaik untuk menghadapinya,” pungkas Talwar.