Banner Promo Image
Menangkan iPhone 11 dengan bergabung di Parentstory!
Daftar Sekarang

Sadar Berkontrasepsi Saat Pandemi

Diperkirakan, ada 420.000 kehamilan tidak direncanakan akibat menurunnya penggunaan kontrasepsi selama pandemi Covid-19.

Sadar Berkontrasepsi Saat Pandemi

Pandemi Covid-19 Sebabkan Banyak Kehamilan Tidak Direncanakan.

Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) menyebutkan, sejak pandemi Covid-19 terjadi, yaitu dari Maret 2020 hingga sekarang, ada penurunan penggunaan kontrasepsi dan berdampak pada 420 ribu kehamilan tidak direncanakan. “Program KB terancam gagal selama pandemi karena beberapa hal, di antaranya, terbatasnya akses masyarakat ke fasilitas kesehatan untuk mendapatkan pelayanan KB karena takut akan penularan Covid-19,” jelas dr. Eni Gustina, MPH., Deputi Bidang Keluarga Berencana dan Kesehatan Reproduksi BKKBN pada peringatan Hari Kontrasepsi Sedunia yang digelar DKT Indonesia beberapa waktu lalu.

Pandemi memang berdampak besar pada penurunan pelayanan kontrasepsi, dan ini tidak hanya terjadi di Indonesia, tapi hampir di seluruh dunia. United Nation Population Fund (UNFA) memperkirakan, ada lebih dari 47 juta perempuan kehilangan akses pelayanan kontrasepsi, yang menghasilkan 7 juta kehamilan tidak direncanakan, akibat kurangnya akses terhadap pelayanan kontrasepsi selama pandemi Covid-19. “Setidaknya, akan ada peningkatan terhadap kehamilan tidak direncanakan secara global sebesar 11,4 juta selama 2020-2021, apabila memproyeksikannya dengan skenario terbaik. Tapi apabila pandemi semakin memburuk, maka setidaknya 20,4 juta kehamilan tidak direncanakan akan terjadi selama pandemi ini.” Demikian Dr. Melania Hidayat, MPH, UNFPA Assistant Representative menjelaskan.

Lantas, apa pentingnya menciptakan kesadaran berkontrasepsi, terlebih pada situasi pandemi? Melania menjawab, visi dari hari Kontrasepsi Sedunia yang diperingati setiap 26 September ini adalah, memastikan setiap orang bebas memilih alat kontrasepsi sesuai kebutuhannya. “Sehingga memastikan setiap kehamilan itu diinginkan atau direncanakan,” jawab Melania dengan tegas. Karena itu, setiap individu harus memiliki kemampuan untuk memutuskan segala sesuatu tentang kesehatan reproduksi mereka, berdasarkan pengetahuan yang tepat. Itulah mengapa hari Kontrasepsi Sedunia menjadi momen kampanye global untuk mengedukasi tentang hubungan seksual yang aman serta terlindungi.

Adapun target kampanye Hari Kontrasepsi Sedunia tahun ini, secara spesifik disebutkan Melania adalah kepada pemuda. “Definisi pemuda, banyak. Tapi kalau dikategorikan berdasarkan umur, maka yang berada di bawah 30 tahun.” Mengapa pemuda dipilih? Saat ini jumlah pemuda yang berusia di bawah 30 tahun sekitar 3,5 milyar dan merekalah yang nantinya menjadi pemimpin di masa depan. “Kalau kesehatan reproduksi mereka tidak baik, kalau pemahaman mereka tentang kesehatan tidak baik, maka bisa dibayangkan akan seperti apa dunia kita di masa datang,” tegas Melania.

Ketika para pasangan muda memiliki pemahaman yang tepat tentang pentingnya merencanakan kehamilan, maka angka kematian ibu bisa ditekan secara maksimal. Melania kemudian menyebutkan, di Indonesia, angka kematian ibu adalah 305 per 100.000 kelahiran hidup atau 2 kematian ibu per jam. “Suksesnya KB di Indonesia berhasil mencegah kematian ibu sampai 40%. Keberhasilan ini harus dipertahankan, karena pada prinsipnya pada situasi apapun, pelayanan KB tetap diperlukan. Tapi sayangnya, sering kali diabaikan atau neglected padahal implikasi dari tidak berjalannya KB ini banyak sekali.”

Strategi BKKBN untuk menekan angka putus kontrasepsi selama pandemi.

Sebelum pandemi Covid-19 terjadi, program KB di Indonesia sebenarnya sudah menghadapi tantangannya sendiri, mulai dari tingginya angka kematian ibu dan bayi, menurunnya partisipasi masyarakat terhadap penggunaan kontrasepsi modern, banyaknya mitos tentang kontrasepsi yang beredar di masyarakat, tingginya angka kehamilan remaja umur 15-19 tahun, hingga tingginya tingkat putus pakai kontrasepsi. Lantas, strategi apa yang disiapkan untuk mengatasi hal ini?

Dr. Eni menjawab, BKKBN telah membuat serangkaian aplikasi yang memudahkan tenaga kesehatan bertemu langsung dengan aseptor. “BKKBN memiliki aplikasi Klik KB yang memudahkan komunikasi antar tenaga kesehatan dengan masyarakat.” Adapun fitur yang ada di dalam aplikasi ini adalah penjelasan mengenai pilihan alat kontrasepsi, direktori klinik pemasangan kontrasepsi, hingga alarm pengingat penggunaan alat kontrasepsi. “Harapannya, ini dapat mencegah terjadinya putus pakai kontrasepsi, khususnya selama pandemi ini yang diperkirakan ada sekitar 10% aseptor kontrasepsi yang putus pakai.”

Selain aplikasi, BKKBN juga memiliki situs yang ditujukan untuk mengukur kesiapan seseorang membangun keluarga. Di dalam situs siapnikah.org, seseorang dapat mengukur kesiapannya dalam 10 dimensi, yaitu kesiapan usia, fisik, finansial, mental, emosi, sosial, moral, interpersonal, keterampilan hidup, hingga intelektual. Tidak hanya edukasi secara daring, BKKBN melalui petugas lapangan keluarga berencana (PLKB) yang berjumlah sekitar 24 ribu, mendistribusikan alat kontrasepsi kepada masyarakat dengan pengawasan langsung dari tenaga kesehatan dan puskesmas. Semua strategi ini tentu bertujuan untuk membuat setiap kehamilan direncanakan, sehingga laju pertumbuhan penduduk, pemberdayaan perempuan, serta kualitas hidup baik secara ekonomi maupun kesehatan tetap dapat meningkat.

“Kami mengimbau, agar selama pandemi untuk menunda kehamilan, karena pertimbangan kesehatan perempuan saat hamil dan kondisi fasilitas kesehatan selama pandemi,” ucapnya seraya menjelaskan hamil semasa pandemi tentu harus meningkatkan daya tahan tubuh agar terhindar dari penularan Covid-19. Karena jika sampai positif Covid-19 dalam keadaan hamil, tentu akan menjalani serangkaian pengobatan yang sampai saat ini belum bisa dipastikan bagaimana efek sampingnya terhadap perkembangan janin.