Seputar Bayi dan Ibu Baru, Ini Mitos serta Faktanya!

Begitu banyak mitos tentang bayi dan ibu baru yang sering beredar dan diterima oleh orang tua baru, namun tak terbukti kebenarannya. Cari tahu penjelasannya di sini.

Mitos dan Fakta Bayi

Bagi orang tua baru, nasihat yang diberikan oleh pendahulunya tentu sangat dinantikan serta dapat membantu memberikan pengetahuan bagi para ayah dan ibu baru. Sayangnya, sebagian besar di antaranya benar-benar salah dan hanyalah mitos. Untuk membantu para orang tua baru dalam menyaring informasi seputar bayi dan ibu baru, Parentstory mempersembahkan tayangan langsung (IG Live) Ask the Expert: Mitos dan Fakta Seputar Bayi dan Ibu Baru’ bersama dr. Melia Yunita, MSc, Sp.A.

Pada acara yang ditayangkan secara langsung di akun Instagram Parentstory, digali secara mendalam tentang pola pengasuhan yang tepat, yang memang telah terbukti kebenarannya. Bukan pola asuh yang hanya mitos. Sangat penting bagi para orang tua baru, terutama ibu, untuk mengetahui fakta di balik mitos-mitos seputar bayi dan ibu yang beredar sebelum mempraktikkannya. “Di Indonesia ini budayanya beragam dan memang banyak sekali mitos-mitos yang beredar dari suatu daerah lokal. Mitos yang turun temurun, dari kepercayaan, dari nenek ke ibu terus ke anaknya. Kalau mitosnya termasuk hal yang tidak membahayakan bayi, itu mungkin masih tidak apa-apa. Tapi, pada saat perjalanannya kadang ada hal-hal justru yang membahayakan kondisi bayi,” ungkap dokter spesialis anak yang berpraktik di Eka Hospital Cibubur ini.

Untuk itu, Parentstory memberikan berbagai mitos-mitos paling umum seputar bayi dan ibu baru dari para ibu yang bergabung di Parentstory Community kepada dr. Melia Yunita. Lalu, kemudian dijawab oleh dr. Melia, apakah hal tersebut hanyalah mitos atau fakta? Seperti berikut ini.

Mitos 1: Ada perbedaan dari ASI di payudara kiri dan kanan. Bedanya, ASI di payudara kiri adalah sumber minum untuk bayi, sementara yang kanan merupakan sumber makan bayi.

Fakta: Payudara kanan dan kiri sama-sama berisi ASI dengan nutrisi yang juga sama.

Penjelasan dr. Melia: “Kalau ibu baru mempercayai mitos itu, takutnya ibu baru jadi berpikir bahwa anak ‘makan’ sebentar di payudara kanan, lalu setelahnya ‘minum’ dulu di payudara kiri. Ini kurang tepat. Karena kalau menyusu dari satu payudara, ya sebaiknya diselesaikan dulu sampai benar-benar selesai. Sehingga, bayi mendapatkan foremilk dan juga dapat hindmilk. Dari awal menyusui hingga selesai, kira-kira sekitar 15-20 menit. Setelahnya, baru pindah ke payudara satunya. Itu pun juga sama (durasinya), 15-20 menit. Kalau ibu baru memercayai mitos itu, takutnya tidak efektif karena bayi jadi tidak dapat foremilk dan hindmilk. Jadi, ini mitos yang salah. Payudara manapun, kalau namanya ASI, ya sama saja. Tidak ada bedanya.”

Mitos 2: Bila ibu makan pedas, ASI akan ikut pedas hingga membuat bayi diare. Atau, jika ibu minum minuman dingin, maka ASI-nya ikut dingin sehingga bayi menjadi flu.

Fakta: Apa pun suhu air minum ibu, tidak akan berpengaruh pada suhu ASI. Sementara itu, zat Capsaicin pada cabai, mungkin dalam jumlah sedikit akan masuk ke ASI.

Penjelasan dr. Melia: “Kalau ibu minum minuman dingin, akan masuk ke pencernaan ibunya, jadi suhu yang diminum oleh para ibu apa pun tidak akan memengaruhi suhu ASI-nya. Tidak akan bikin bayinya jadi pilek. Soal makan pedas, kalau tidak berlebihan, memang ada zat Capsaicin pada cabai yang mungkin dalam jumlah sedikit akan tertransfer ke ASI. Tetapi, itu hanya sedikit sekali, tidak akan membuat bayi diare. Begitu juga pada ibu yang mengonsumsi kopi. Konsumsi kopi kalau hanya 1 cangkir sekali, tidak akan masalah, sekitar 300 mg untuk ibu menyusui. Tapi coba observasi juga bayinya. Apakah ada efeknya? Karena secara ilmu medis, tidak ada efeknya pada bayi. Jadi, busui boleh minum apa saja asal sewajarnya, tidak berlebihan. Apapun yang berlebihan kan tidak bagus.”

Mitos 3: ASI pertama setelah melahirkan atau asi yang lama tidak diperah harus dibuang dulu karena sudah basi.

Fakta: Tetesan ASI di awal-awal kelahiran justru bagus sekali karena mengandung kolostrum.

Penjelasan dr. Melia: “Sayang banget dibuang, jangan, ya! Mungkin maksud mitos itu karena kadang pada saat ibu selesai melahirkan, ASI berwarna kuning, kadang itu dianggap ASI basi yang tidak boleh diberikan ke bayi. Padahal, itu bagus sekali karena mengandung kolostrum dengan banyak kandungan zat imun yang sangat penting buat bayi. Antibodi-antibodi yg penting itu ada di kolostrum. Itu harus dikasih ke bayinya, jangan dibuang. Kalau ASI perah (ASIP) yang terlalu lama disimpan di suhu ruang, ya itu benar bisa basi. ASIP segarnya itu batasnya 4 jam di suhu ruang. Tapi, suhu di negara kita itu panas sekali karena negara tropis. Jadi, kalau menurutku maksimal 2 jam untuk lebih amannya. Lebih dari itu tidak boleh diberikan ke bayi karena ada risiko terkontaminasi bakteri.”

Mitos 4: Bayi yang baru lahir harus dibedong dengan ketat supaya kakinya tidak berbentuk ‘O’. Newborn juga perlu dipakaikan gurita agar perutnya tidaknya buncit.

Fakta: Kaki bayi yang normal memang sedikit berbentuk ‘O’ dan gurita tidak memiliki manfaat pada bayi, malah dapat memicu infeksi.

Penjelasan dr. Melia: “Bedong itu sudah dari dulu dipakai oleh bayi-bayi di indonesia. Tapi, ternyata tidak ada gunanya karena membuat bayi justru malah tidak bisa bergerak. Kaki bayi yang berbentuk agak O itu memang posisi fungsional, posisi normal bayi, ya memang begitu. Akan otomatis berbentuk seperti itu, bukan kelainan. Jadi biarkan saja, bayi malah kalau dibedong terlalu ketat sampai kakinya lurus, malah akan mengganggu perkembangan motorik dan sensoriknya. Kalau soal gurita, kalau memang tujuannya karena dingin, lebih baik bayi dipakaikan kaos dalam atau baju lengan panjang. Karena, kalau gurita terlalu kencang dipakaikan pada bayi, akan membuat kulit lembab, jadi malah keringetan dan bisa memunculkan miliaria. Nanti malah infeksi. Takutnya menghambat gerakan napas bayinya. Sebenarnya gurita itu mitos, tidak perlu digunakan lagi. Tidak boleh bayi dipakaikan gurita. Secara normal, secara fisiologis, kalau kita lihat bayi dari samping, itu permukaan dada dengan perutnya itu memang lebih tinggi perutnya. Banyak banget pasien saya datang mengeluhkan perut bayinya buncit dan kembung. Kalau ditepuk bunyinya: bung, bung, bung. Lho, memang emang bunyinya akan seperti itu. Karena perut, usus dan saluran pencernaan berisi udara.”

Cari Tahu Kebenaran Mitos Sebelum Menjalankannya!

Selain mitos-mitos yang sudah dikemukakan di atas, ada pula mitos lainnya seputar trik mengobati bayi. Seperti, mata bayi yang penuh kotoran bisa disembuhkan dengan diteteskan ASI, kalau bayi cegukan bisa ditempelkan kertas pada dahinya, dan bila tersedak dapat dibantu dengan ditiup ubun-ubunnya. Apakah ini benar? Cari tahu jawabannya dengan menonton tayangan langsung Mitos & Fakta Seputar Bayi dan Ibu Baru di Instagram Parentstory! “Pesan saya untuk seluruh Parents yang menonton, setiap mendapat apa pun yang kita merasa enggak yakin ini mitos atau fakta, coba konsultasikan dengan dokter anaknya atau tenaga kesehatan yang terpercaya. Jangan cuma dengar dari orang lain, misalnya tetangga, lalu langsung diikuti, karena belum tentu semuanya benar,” pungkas dr. Melia. Dr. Melia bahkan memberi kemudahan untuk para orang tua bertanya padanya ketika ia sedang membuka sesi Q&A atau tanya-jawab di akun Instagramnya, yaitu @dr.lia_pediatrics. Parentstory pun selalu berupaya memberikan informasi dan fakta-fakta yang akurat untuk para orang tua dengan selalu menghadirkan berbagai narasumber kompeten di setiap acaranya.