Serba Serbi Vaksin MMR

Vaksin satu ini kerap dihubungkan dengan meningkatnya risiko autisme pada anak. Benarkah? Mari mengenali vaksin MMR lebih dekat

Vaksin MMR untuk Anak

Perdebatan tentang dampak vaksin ini pada anak seringkali membuat para orang tua ragu untuk memvaksin buah hatinya. Padahal sudah banyak riset yang membuktikan bahwa vaksin MMR aman diberikan pada anak-anak. Agar tidak salah paham, orang tua perlu mengenali vaksin ini lebih dekat. Nah, untuk mengetahui lebih jelas dan detail, teruslah membaca fakta-fakta seputar vaksin MMR ini sampai selesai.

#1 Digunakan untuk mencegah penyakit yang sangat menular

Dilansir dari situs resmi IDAI (Ikatan Dokter Anak Indonesia), pada sebuah artikel yang ditulis oleh dokter spesialis anak Dr. dr. Hartono Gunardi, SpA(K), dijelaskan, bahwa vaksin MMR berguna untuk mencegah Measles (campak), Mumps (gondong), dan Rubella (campak jerman). Campak merupakan penyakit infeksi yang sangat menular dengan gejala demam tinggi, batuk pilek, mata merah, dan ruam merah di kulit. Bila terserang campak, komplikasi yang mungkin timbul adalah infeksi telinga, radang paru-paru, radang otak (encephalitis) yang dapat menyebabkan kejang, tuli, dan retardasi mental pada 1 hingga 2 orang dari 2,000 orang yang terkena penyakit ini.

#2 Kasus campak menurun berkat program imunisasi

Masih dari artikel yang ditulis oleh Hartono di idai.or.id, diketahui bahwa di Indonesia pada tahun 2011, tercatat 11.704 kasus campak. Jumlah ini menurun sebanyak 32% dari tahun sebelumnya berkat program imunisasi. Ini berarti, vaksin MMR terbukti memiliki manfaat bagi manusia.

#3 Gejala Mumps dan Rubella

Gejala dari penyakit Mumps atau juga biasa disebut penyakit gondong pada anak-anak adalah demam, sakit kepala, dan pembengkakan pada satu atau dua sisi pipi bagian belakang (rahang bawah). Seseorang yang menderita gondong bisa mengalami komplikasi radang selaput otak (meningitis). Pasalnya, meningitis terjadi pada 4 hingga 6 dari 100 orang penderita penyakit Mumps. Komplikasi lainnya adalah gangguan pendengaran yang biasanya permanen serta radang buah zakar (testis) yang dapat menimbulkan risiko sterilitas (mandul). Sementara itu, gejala dari penyakit campak jerman (rubella) adalah demam 2 sampai 3 hari dan bercak-bercak merah. Penyakit ini dapat menimbulkan cacat berat pada janin, yang dikenal sebagai sindrom rubela congenital, bila mengenai ibu hamil, terutama di awal kehamilan.

#4 Vaksin MMR berbeda dengan MR

Vaksin MR mencegah penyakit Campak dan Rubella, sedangkan vaksin MMR mencegah penyakit Campak, Rubella, dan Gondongan. Dilansir dari idai.or.id, bila anak telah mendapat imunisasi MMR, masih perlu mendapat imunisasi MR. Sebab, ini diperlukan untuk memastikan anak mendapatkan kekebalan penuh terhadap penyakit Campak dan Rubella. Imunisasi MR aman diberikan kepada anak yang sudah mendapat vaksin MMR.

#5 Jadwal vaksin MMR

Pada tahun 2011, IDAI merekomendasikan imunisasi MMR pertama diberikan pada anak berusia 15 bulan. Tepatnya, 6 bulan setelah imunisasi campak. MMR dosis kedua dianjurkan diberikan antara usia 5 sampai 6 tahun. Saat ini, diperkirakan sebanyak 500 juta dosis vaksin MMR telah digunakan di seluruh dunia. Badan Kesehatan Dunia (WHO) merekomendasikan imunisasi MMR dengan cakupan minimal 95% untuk membasmi penyakit tersebut.

#6 Vaksin MMR tak terbukti sebabkan autisme

Beragam penelitian dilakukan oleh para pakar kesehatan di Amerika dan Eropa dan mengungkapkan, bahwa tak ada kaitan antara MMR dengan autisme. Berbagai kajian American Academy of Pediatrics, Institute of Medicine, Centers for Disease Control and Prevention (CDC), juga menyimpulkan bahwa tidak ada bukti hubungan antara imunisasi MMR dengan timbulnya autisme pada anak.

#7 Terdapat ‘kecurangan’ pada penelitian Andrew Wakefield

Publikasi yang menyatakan adanya hubungan antara vaksin MMR dengan sindrom Autisme Spectrum Disorder (ASD) terbukti salah. Di tahun 1998, seorang mantan dokter asal Inggris bernama Andrew Jeremy Wakefield, menyimpulkan hubungan antara vaksin campak, gondok, dan rubella (MMR) dengan ASD. Studinya tersebut diterbitkan di jurnal The Lancet. Namun sayangnya, The Lancet baru mengetahui ‘kecurangan’ Andrew setelah 12 tahun jurnal tersebut berada di situs mereka.

Kecurangan tersebut diungkapkan oleh General Medical Council, badan publik yang menyimpan daftar resmi praktisi medis di Inggris. Ternyata, Andrew melanggar protokol etika saat melakukan penelitian tersebut. Sebab, anak-anak yang menjadi sampel penelitian memiliki hubungan dengan peneliti. Mereka adalah anak-anak dari rekan Andrew. Padahal, peneliti seharusnya tak boleh memiliki kedekatan dengan sampel penelitiannya.

0 Komentar