Stimulasi Kemampuan Sosial Anak Down Syndrome Sambil Bermain

Untuk anak down syndrome, pilihlah permainan dengan kapasitas sesuai kognisi dan usia mental anak.

Bermain dengan Anak Down Syndrome

Bagi anak-anak, bermain bukanlah sekadar sesi bergembira semata, tapi juga belajar banyak hal. Demikian halnya pada anak-anak Down syndrome. Melalui permainan, anak-anak akan mengeksplorasi banyak hal. Saat bermain akan terbentuk koneksi antara anak dengan orang-orang yang berinteraksi dengannya.

Kenali Kapasitas Kognisi dan Usia Mental Anak

“Saat bermain, khususnya ketika bermain bersama-sama, maka ada kecakapan sosial yang dibangun dalam suasana bermain. Jadi, baik anak dengan Down syndrome maupun anak-anak pada umumnya, bermain itu sebenarnya adalah proses anak belajar dengan cara yang menyenangkan,” ucap Astrid WEN, M.Psi., Psikolog Anak yang juga pendiri PION Clinician. Selain itu, fungsi lain dari bermain, menurut Astrid adalah, membangun kesehatan fisik dan mental yang baik. Karena ketika bermain, ada suasana bahagia yang tercipta yang otomatis membuat otak memproduksi cairan kimiawi otak atau hormon bahagia. Ini akan menurunkan level stres pada anak, serta membentuk konsep diri yang lebih positif tentang dirinya karena merasa orang-orang di sekitarnya suka bermain bersamanya. “Jadi, bermain yang menyenangkan sudah pasti baik untuk kesehatan mental anak,” jelas Astrid yang merupakan terapis theraplay pertama di Indonesia. Theraplay sendiri adalah intervensi psikologis untuk membentuk atau menguatkan hubungan antara anak dan orang tua melalui kegiatan bermain.

Astrid kemudian bercerita, pernah dilakukan sebuah penelitian pada anak-anak Down syndrome usia pra sekolah. Mereka diamati bagaimana kondisi serta respon mereka ketika bermain. Pada umumnya, anak-anak Down syndrome tidak lancar berbicara dibandingkan anak seusianya. Lalu, mereka juga memiliki keterbatasan untuk fokus. Karena itu, ketika ingin mengoptimalkan stimulasi anak Down syndrome melalui permainan, Astrid menegaskan pentingnya mengetahui level kognitif serta usia mental anak. Pada anak Down syndrome yang berusia 6 tahun, bisa jadi usia mentalnya baru 4 atau 5 tahun. Ini akan menjadi acuan orang tua dalam menyesuaikan permainan yang cocok untuk anaknya.  “Jadi, kalau usia mentalnya lebih rendah dibanding usia biologisnya, maka hindari memberikan instruksi verbal yang kompleks ketika bermain atau melakukan permainan dengan aturan yang banyak,” papar Astrid yang dihubungi Parentstory melalui sambungan telepon. Jika dipaksakan, anak malah akan stres dan tujuan bermain untuk mengoptimalkan stimulasi kepada anak jadi tidak tercapai. 

Lalu, amati juga model eksplorasi yang disukai oleh anak. Apakah anak suka mengeksplorasi menggunakan warna, musik, olahraga, atau bertemu dengan orang-orang. “Jadi harus dieksplorasi dulu anak kita ini senangnya apa? Ingat, walaupun mereka Down syndrome, tetap punya keunikan masing-masing.” Jika ternyata anak sukanya bertemu dengan orang, maka kita bisa mengajaknya bermain peran atau mengajaknya playdate. Atau kalau anak sukanya mengeksplorasi ketika kita sedang di dapur, maka bisa diberikan permainan sensori dengan menggunakan playdough atau pakai tepung biasa. Demikian Astrid menjelaskan.

Lakukan Interaksi secara Ekspresif

Lantas, berapa lamakah idealnya stimulasi melalui permainan diberikan kepada anak Down syndrome? “Sangat tergantung pada kemampuan anak untuk fokus,” jawab Astrid. Karena itu sangat penting bagi orang tua untuk mengobservasi anak sebelum memilihkan permainan yang tepat untuk mereka. “Dicatat saja mereka bisa fokus bermain selama berapa menit, lalu amati apakah fokus mereka pendek-pendek karena tidak tertarik dengan pilihan mainan yang kita berikan atau karena kelelahan.” Jika fokus anak cenderung pendek karena pilihan mainan, maka artinya orang tua harus kembali mengamati jenis eksplorasi seperti apa yang disukai. Sedangkan kalau ternyata fokus anak pendek tapi tetap tertarik untuk bermain, “Maka keesokan harinya, cobalah berikan permainan yang sama dan berharap dia akan memperpanjang level konsentrasinya.” Selain membantu mengetahui durasi bermain yang ideal untuk anak, mencatat berapa lama anak bisa fokus bermain juga akan membantu orang tua untuk menyiapkan beberapa alternatif permainan. “Jadi kita bisa tahu ketika sudah memasuki waktu dia tidak fokus, kita bisa siap-siap menggantinya dengan permainan yang baru. 

Hal yang juga penting untuk diperhatikan ketika bermain dengan anak Down syndrome menurut Astrid adalah, pendampingan orang dewasa. Orang dewasa yang mendampingi mereka bermain harus bisa membangun suasana bermain yang menyenangkan, menunjukkan ekspresi wajah dan intonasi suara yang gembira, serta selalu menatap mata mereka ketika berbicara. “Karena pada anak Down syndrome, komunikasi non verbal begitu penting untuk menciptakan interaksi,” sambung Astrid. Dalam interaksi bermain ini, orang dewasa yang mendampingi bermain juga bisa memberikan pujian ketika anak berhasil memenuhi intruksi yang diberikan. Meski bisa jadi mereka tidak langsung mengerti pujian yang disampaikan secara verbal tapi Astrid menekankan, bahasa non verbal yang tersampaikan membuat anak Down syndrome mengerti konteksnya. “Proses ini akan mengajarkan mereka untuk bisa selaras dan merasakan emosi yang kita rasakan. Dan percayalah, pada dasarnya anak-anak Down syndrome sangat mudah menularkan ekspresi bahagia karena sebenarnya mudah sekali membuat mereka senang,” pungkas Astrid.

Temukan pilihan aktivitas, kelas, dan kegiatan edukatif untuk anak dan orang tua, serta beragam artikel menarik seputar kesehatan, parenting, dan gaya hidup keluarga modern. Download aplikasi Parentstory sekarang di App Store dan Google Play Store.