Strategi Perencanaan Finansial Keluarga Baru di Masa Pandemi

Di masa ketidakpastian ini, perencanaan finansial keluarga merupakan hal penting yang perlu dilakukan oleh orang tua. Pakar finansial Prita Ghozie membagikan kiat-kiatnya.

Strategi Perencanaan Finansial Keluarga Baru di Masa Pandemi

Salah satu webinar di Parentstory Festival yang menarik adalah pembahasan seputar keuangan keluarga. Di masa pandemi yang penuh ketidakpastian seperti saat ini, dibutuhkan sekali pengelolaan keuangan rumah tangga Anda agar pendapatan serta pengeluaran keluarga tetap berjalan lancar. Webinar ‘Strategi Perencanaan Finansial Keluarga Baru di Masa Pandemi’ bersama CEO dan Prinicipal Consultant Zap Finance, Prita Hapsari Ghozie, SE, MCom, GCertFP, CFP, QWP, dibuka dengan pemaparan materi tentang strategi finansial di masa pandemi. Lalu, di sesi berikutnya, Prita Ghozie akan menjawab pertanyaan dari para peserta webinar.

“Tahun 2020 benar-benar mengajarkan kita akan arti pentingnya merencanakan keuangan. Tetapi, sebelum mulai membuat perencanaan keuangan, sangat penting untuk orang tua, pasangan suami dan istri, memiliki satu suara, supaya memiliki misi yang sama dalam mengelola keuangan keluarga,” ucap pakar finansial terkemuka ini.

Menurut ibu dari 2 anak remaja ini, ketika pasangan memulai keluarga baru, pada dasarnya akan ‘restart everything’. Ini artinya, apa pun yang sudah Anda lakukan di masa sebelum berkeluarga akan berbeda dengan setelah Anda menikah atau memiliki anak. Kalau sebelumnya Anda merasa nyaman menjalankan perencanaan keuangan tertentu, maka akan sangat wajar ketika sudah mempunyai keluarga, hal tersebut akan menjadi berantakan. Tidak usah khawatir, Prita menambahkan, "Hal pertama yang perlu diubah adalah pola pikir Anda."

Mengubah ‘Money Mindset’

Sebelum menjadi orang tua, meski sudah menikah, pola pikir Anda terhadap keuangan adalah kebutuhan diri sendiri karena belum memiliki tanggungan. Sehingga, ketika sudah memiliki anak, pola pikir tersebut harus diubah. Prita mengungkapkan 9 tanda bahwa Anda telah siap menjadi orang tua dari sisi finansial.

  • Memiliki anggaran keuangan yang jelas. Bila Anda belum ingin mendiskusikan soal ini dengan pasangan, berarti Anda belum siap menjadi orang tua.
  • Paham cara menghasilkan uang. Terkadang ibu baru dihadapkan pada dua pilihan: apakah kembali kerja atau menunda dulu karena ingin fokus merawat anak. Sebenarnya tidak ada masalah, yang penting menurut Prita adalah ibu tetap harus bisa berkarya dan tahu cara menghasilkan uang. “Ini penting banget untuk seseorang yang memiliki anak,” tegas Prita.
  • Punya sedikit hutang atau cicilan. Prita mengatakan, “Kalau kita tidak mampu mengelola diri kita, biasanya pinjaman kita banyak, dan digunakan untuk hal-hal di luar urusan utama. Jadi, kalau misalnya kita saat ini masih saja tergoda dengan kemudahan-kemudahan cicilan padahal itu bukan untuk urusan yang esensial, berarti kita belum siap menjadi orang tua.”
  • Mematuhi anggaran keuangan yang dibuat. “Penting sekali untuk bisa punya budget dan mematuhi budget yang kita buat sendiri,” tutur Prita.
  • Memahami situasi keuangan rumah tangga Anda. Menurut Prita, banyak pasangan yang dalam penyangkalan dengan situasi keuangan keluarganya, dan masih masih tergantung dengan orang tuanya. “Bila Anda belum siap secara finansial untuk menjadi orang tua. Bagaimana untuk membuat diri kita siap? Kita itu harus berani untuk memiliki rumah atau tempat tinggal sendiri dan tidak lagi bergantung pada bantuan orang tua,” ucapnya.
  • Tidak lagi bergantung pada bantuan orang tua atau kakek-nenek dari si kecil. Dengan kata lain, sudah mandiri secara finansial
  • Tahu cara hidup hemat. Bila terjadi suatu masalah, Anda bisa untuk hidup dengan lebih hemat.
  • Paham pentingnya menabung.
  • Mengerti prioritas rumah tangga. Paham bahwa ada hal yang harus diutamakan, dan ada yang tidak.

“Kadang, ada orang tua yang belum siap secara finansial, tapi sudah terlanjur jadi orang tua aja. Kalau Anda sudah memiliki pola pikir seperti poin-poin di atas, itu bagus sekali. Sebagai parent berarti kalian sudah siap untuk memasuki apa yang harus dilakukan berikutnya,” ucap Prita sambil melanjutkan materinya.

Merancang Anggaran Rumah Tangga

Ketika Anda menjadi orang tua, pengeluaran Anda tentu akan bertambah banyak. Dari sisi pendidikan saja, menurut Prita, satu anak akan menaikkan budget orang tua sampai dengan 20%. Misalnya, sebelum jadi orang tua pengeluaran Anda per bulan adalah Rp10.000.000, kemudian hadirlah anak, dan pengeluaran akan naik sebanyak 20%, jadi Rp12.000.000. Lalu, pemasukan Anda seperti apa? Artinya, kalau seorang ibu berhenti bekerja, maka pastikan Anda dan pasangan mampu memenuhi kebutuhan rumah tangga hanya dengan single income. “Soalnya tidak mungkin dihemat, namanya tambah keluarga, pasti akan bertambah pula pengeluarannya,” ungkap Prita. 

Perlu Anda ketahui, pengeluaran paling besar bagi sebuah keluarga adalah untuk makan dan tempat tinggal. Prita menegaskan, “Parents tidak usah heran kalau pengeluaran di bagian ini tidak bisa dihemat. Karena memang pengeluaran terbesar itu ada di makanan dan rumah tinggal. Urutan biaya dari membesarkan anak adalah sebagai berikut:

  • Kebutuhan untuk hidup, yaitu makan dan tempat tinggal.
  • Pendidikan.
  • Peralatan rumah tangga beserta perawatannya.
  • Rekreasi.
  • Transportasi. Semisal, kendaraan pribadi.
  • Pakaian dan mainan anak.
  • Imunisasi, susu dan peralatan anak, serta popok sekali pakai.

Lakukan Ini untuk Merancang Anggaran Rumah Tangga

1. Mencatat pengeluaran bulanan

  • Mengenali karakteristik pengeluaran keluarga Anda. Setiap keluarga memiliki karakter/kepribadiannya masing-masing.
  • Mengetahui latte factor Anda. Latte factor mengacu pada pengeluaran kecil yang sifatnya rutin, tetapi sebenarnya tidak terlalu penting dan bisa ditiadakan. Dengan mencatat pengeluaran bulanan, Anda dapat memahami latte factor Anda.
  • Perencanaan keuangan yang lebih baik. Dengan memahami latte factor, kemudian Anda akan mampu merencanakan keuangan lebih baik lagi.

2. Mengelola Pengeluaran Bulanan

Bila Anda telah mengetahui pengeluaran bulanan rumah tangga Anda, maka harapannya adalah Anda dapat mengelolanya dengan baik. Prita mengibaratkan anggaran rumah tangga seperti sebuah ember, dan Anda bisa mencari tahu di mana kebocoran ‘ember’ Anda. Jika sudah mengetahuinya, Anda bisa menghentikan bocor di ember tersebut.

3. Memahami Rutinitas Pengeluaran

Pengeluaran sebuah keluarga bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan, tetapi juga kewajiban. Sebagai orang tua baru atau keluarga muda, menurut Prita, godaannya banyak sekali. Apalagi pada saat Anda mau mengisi rumah misalnya, atau ketika anak baru lahir. “Dengan mengaturnya, Anda bisa memahami apa pengeluaran yang wajib, yang butuh, dan yang hanya ingin. Anda boleh punya keinginan, ini bisa menjadi motivasi dalam bekerja, tapi ingat Anda harus memenuhi kebutuhan wajib dulu,” tegasnya.

Cara Mengatur Anggaran untuk Mencapai Tujuan ala Prita

Ini adalah trik yang paling ideal menurut Prita, yaitu membaginya ke dalam 7 pos keuangan:

  1. Biaya hidup dan cicilan: 60%
  2. Gaya hidup dan hiburan: 10%
  3. Investasi masa depan: 10%
  4. Premi asuransi: 5%
  5. Dana darurat: 5%
  6. Zakat, sedekah, & sosial: 5%
  7. Menabung pembelian besar: 5%

Prita menjelaskan, “Ketujuh pos ini belum tentu bisa langsung dipenuhi, itulah kenapa ini merupakan kondisi yang ideal. Kalau kita benar-benar baru memulai, maka biasanya yang akan dikorbankan adalah pembelian asuransi, investasi, dan menabung.”

Anggaran Keuangan ‘Sandwich Generation’

Sebagian orang tua milenial saat ini mungkin termasuk dalam sandwich generation. Agar tidak kebablasan dalam mengatur anggaran keuangan, terutama bagi sandwich generation, inilah trik yang diberikan Prita, yaitu mengkomunikasikan dengan pasangan dan keluarga beberapa hal ini:

  • Pos kehidupan. Tanggungan Anda akan hidup orang tua atau keluarga besar masuk ke dalam pos living, yaitu pos sebesar 60% tadi.
  • Dana darurat. Sebaiknya sebesar 12 kali pengeluaran rutin keluarga Anda tiap bulan.
  • Proteksi kesehatan. Terutama kalau Anda memiliki orang tua yang masih disokong.
  • Investasi. Sebenarnya ini bukan untuk Anda, namun untuk anak-anak Anda, supaya mereka tidak menjadi generasi sandwich berikutnya.

“Meski sulit, tetapi ini adalah urutan-urutannya. Tidak bisa melakukannya dalam waktu bersamaan, mesti bertahap. Dengan tahapan yang seperti ini,” tutur Prita.  

Fokus pada ‘Family Goals’

Bila sudah berhasil membuat anggaran keluarga, Anda bisa fokus pada family goals keluarga Anda sendiri. Tidak perlu mengikuti family goals keluarga lain. Tentukan tujuan keuangan keluarga Anda karena setiap keluarga berbeda. Untuk orang tua milenial, biasanya adalah 6 tujuan keuangan ini:

  • Dana darurat
  • Dana membeli rumah
  • Dana persiapan anak
  • Dana pendidikan anak
  • Dana liburan keluarga
  • Dana pensiun

Dana yang ditebalkan adalah dana yang sangat penting untuk menjadi prioritas. Prita berpesan, untuk mengalokasikan pendapatan Anda untuk tiga prioritas tersebut. “Nanti seiring berjalannya waktu, baru penuhi dana lainnya. Semua akan indah pada waktunya, tapi selama Anda punya financial plan, ya. Kita harus sabar, semua butuh proses. Satu demi satu. Terutama di masa pandemi ini, kita mesti lebih berhati-hati,” pungkas Prita.