Tanya-Jawab dengan Pakar Soal Protokol Kesehatan di Masa New Normal

Peraturan di masa PSBB memang sudah dilonggarkan, namun Anda harus tetap waspada dan menerapkan protokol kesehatan seperti yang dijelaskan pakar berikut.

Protokol Kesehatan di Masa New Normal

Sejak fase new normal mulai diterapkan di Indonesia, terutama di Jabodetabek, masyarakat dapat kembali beraktivitas di luar rumah. Anda dapat bekerja ke kantor, berbelanja di mal, dan berolahraga di luar rumah. Meski begitu, Anda tetap harus mematuhi sejumlah protokol kesehatan. Pada sesi tayangan langsung di Instagram Parentstory bertema ‘Ask the Expert: Current Situation VS New Normal’ yang dipandu oleh news anchor Annisa Pagih, dr. Jaka Pradipta, Sp.P, mengungkapkan sejumlah protokol kesehatan yang dapat Anda dan keluarga terapkan setiap hari. Berikut rangkuman tanya-jawab bersama dokter spesialis paru dan pernapasan ini.

Q: Anak-anak belum mampu menjelaskan kondisinya dengan lengkap jika mengalami gejala-gejala penyakit Covid-19. Jadi, apa tanda-tanda darurat yang perlu diperhatikan pada anak?

A: “Imunitas anak-anak belum bagus, sehingga kalau ada paparan debu sedikit saja dapat menjadi pilek. Hal ini sebenarnya biasa terjadi pada anak-anak. Apalagi ada banyak virus selain corona. Ketika itu hanya batuk pilek biasa, tidak usah khawatir. Saat anak mulai ada demam, tinggi, di atas 38 derajat celcius. Kemudian ditambah sesak napas, terlihat dari suara grok-grok atau dadanya terlihat tidak nyaman saat bernafas, terlihat berat saat bernafas, segera pergi ke dokter spesialis anak untuk diperiksa. Anak akan menjalani pemeriksaan rontgen, cek darah, dan lain-lain.”

Q: Apa perbedaan dari gejala Covid-19 dengan penyakit asma?

A: “Kalau asma pada orang dewasa, pasti ada riwayat. Tapi, bila terjadi pada anak-anak memang beda, karena itu dokter harus memeriksa dengan detail. Bila anak menunjukkan gejala-gejala Covid-19, segeralah bawa ke rumah sakit terdekat. Lakukan pemeriksaan darah dan rontgen. Pastikan kondisi anak saat itu. Jangan terlalu santai, tapi jangan terlalu panik juga. Yang terpenting waspada. Kita lihat 2 sampai 3 hari apakah ada perbaikan pada anak, bila tidak harus berobat. Kalau demamnya tinggi terus, segera berobat. Nafasnya mulai tidak enak juga harus berobat.”

Q: Apa yang harus diperhatikan ketika membeli masker kain dan menggunakannya?

A: “Masker kain tersedia dalam berbagai macam jenis. Yang pertama, pilihlah masker yang terdiri dari beberapa lapis. Dua atau tiga lapis dan dapat ditambah tisu, itu sudah yang terbaik. Pilih juga bahan yang nyaman karena ada bahan-bahan yang membuat sesak napas. Itu berarti maskernya salah. Ukurannya juga penting. Apakah itu terlalu sempit untuk kita dan anak sampai membuat sulit bicara dan bernapas, atau memang bahannya yang terlalu tebal sehingga menyebabkan sesak? Misalnya, kita cuma pergi sebentar dan pakai masker itu hanya sebentar, tapi sudah merasa tidak nyaman, ya sebaiknya jangan pakai masker itu lagi. Kedua, selalu ganti masker setiap 4 sampai 6 jam. Di atas 6 jam, masker sudah terlalu kotor. Jangan pernah pegang bagian luar masker. Sebab, di area tersebut banyak kuman. Ketika memakai dan melepas masker, sesudahnya langsung cuci tangan.”

Q: Untuk anak berusia di bawah 2 tahun, perlukah pakai masker atau tidak boleh pakai?

A: “Betul, anak di bawah usia 2 tahun tidak boleh pakai masker. Karena, kita tidak bisa mengonfirmasikan pada anak apakah dia nyaman atau tidak ketika memakai masker. Yang ditakutkan, anak akan sesak napas karena tertekan masker sehingga kekurangan oksigen, tapi tidak mampu menjelaskannya. Anak usia di bawah 2 tahun juga susah diedukasi. Misalnya, saat dia merasa tidak nyaman, lalu pegang masker bagian luar karena berusaha melepaskannya, malah bikin tangannya kotor, terus pegang wajah. Kata kuncinya, anak di bawah 2 tahun sebaiknya tidak keluar rumah. Atau pun jika harus keluar rumah, carilah tempat yang tidak ramai. Hindari kerumunan. Kalau memang harus ke keramaian, pakaikan masker yang tidak terlalu kencang, setelah itu langsung dibuka lagi jika sudah tidak berada di keramaian.”

Q: Bagaimana agar anak-anak mau menggunakan masker?

A: Untuk membuat anak-anak mau menggunakan masker adalah dengan memberikannya masker yang menarik dan berbahan bagus, sehingga anak-anak menjadi nyaman dan tak melepaskannya, bila memang terpaksa harus berada di luar rumah.”

Q: Bagaimana memilih hand sanitizer yang efektif dalam membersihkan tangan?

A: “Pilih hand sanitizer yang memiliki kadar alkohol 65-70%, di bawah itu efektivitasnya tidak bagus. Pilih juga yang tidak membuat iritasi tangan, dan mengandung komposisi yang baik. Sebenarnya kalau untuk mematikan virus corona, bahan-bahan yang terkandung di sabun cuci tangan sudah paling baik, sudah bisa menghancurkan dinding virus. Alkohol bisa, tapi tidak sebaik sabun. Kalau hand sanitizer tidak mengandung alkohol, cari tahu apa bahan yang digunakan untuk bisa membersihkan tangan. Umumnya, hand sanitizer itu mengandung alkohol karena itu paling mudah dicampur dengan bahan lainnya.”

Q: Saat sedang mengantre di dokter atau rumah sakit, apa saja protokol kesehatan untuk pengantar dan pasien?

A: “Pakai masker, bawa hand sanitizer, dan jaga jarak. Untuk anak berusia di atas 2 tahun, juga memakai masker, awasi anak agar menjaga jarak dengan orang lain dan tidak memegang barang-barang apa pun. Pilih rumah sakit yang bebas Covid-19, atau rumah sakit yang protokol kesehatannya bagus dan aman.”

Q: Ketika akan mempekerjakan asisten rumah tangga atau pengasuh anak yang baru, harus bagaimana?

A: “Yang paling utama, ketika karyawan itu datang dari daerahnya ke lingkungan kita, harus segera lapor ke RT setempat atau puskesmas untuk dicatat. Kadang-kadang puskesmas suka ada program, orang-orang yang baru datang dari daerah lain akan diberikan tes Swab secara gratis. Yang penting lapor dulu. Kalau tidak ada program gratis tersebut, kita bisa lakukan tiga hal ini:

  1. Isolasi mandiri selama 2 minggu. Minta calon pegawai tersebut untuk tidak kontak atau bertemu dengan orang lain, dan dicatat semua gejalanya selama 2 minggu. Kalau selama 2 minggu tidak ada keluhan, maka diperbolehkan untuk bekerja. Kekuranganya apa? Membuang waktu, kemudian tidak manusiawi karena kita seperti sedang ‘mengurung’ dia. Karena itu, kalau ada uang lebih, sebaiknya lakukan tes pada orang tersebut. 
  2. Jika mau memberikan Rapid Test pada calon karyawan itu, harus dilakukan sebanyak dua kali. kekurangannya apa selama 1 minggu jeda dari pemeriksaan pertama ke tes yang kedua? Kita membuang-buang waktu, tapi lebih murah. Mungkin biayanya sekitar 600 ribu rupiah. 
  3. Memeriksakan calon karyawan menggunakan Swab Test. Tes ini bisa dikerjakan hanya dalam waktu 1 hari. Kapan pemeriksaannya dilakukan? Pada hari ke-3 atau ke-14 dari hari pertama ia datang. Tes Swab ini cukup satu kali pemeriksaan saja kalau hanya untuk skrining, tapi harganya mahal. Misalkan, orang tersebut ada gejala, kita harus cek lab, cek darah, dan lain-lainnya.”

Q: Apakah perlu pakai masker ketika berolahraga?

A: “Yang pertama, kalau kita mau olahraga di era new normal ini pilihlah tempat yang tidak ramai. Hindari yang ramai, kata kuncinya itu. Olahraga kita tidak akan maksimal kalau tempat olahraganya ramai. Kalau tempatnya ramai, ya jangan berolahraga. Kenapa? Karena kita sulit melepas masker. Kalau di tempat sepi yang terbuka, ventilasi bagus, sebenarnya tidak apa-apa mau lepas masker. Sebab, virus corona tidak berterbangan di udara. Virus itu bisa menyebar kalau ada orang yang ngomong, batuk, atau bersin di sebelah kita. Jadi, kita boleh lepas masker asal tidak ada orang lain di sekitar kita. Ketika kita sudah mulai sesak napas, lepaskan maskernya. Tapi kalau olahraganya ringan, jalan santai, ya pakailah maskernya.”