Tanya Pakar: Perlukah Membuka Rekening Bank Atas Nama Anak?

Dukung anak untuk menabung sejak dini. Salah satu caranya, bisa dengan membukakan rekening bank atas nama si kecil.

Membuka rekening bank atas nama anak

Jika Anda kerap mengajak anak pergi ke ATM atau bank, secara tidak langsung, Anda mengenalkannya pada konsep menabung dan pengelolaan keuangan. Mungkin tak semua anak memiliki pengalaman pergi ke ATM atau bank. Anak-anak lain mungkin mulai memahami konsep menabung ketika mereka sudah cukup umur untuk memasukkan uang koin ke dalam celengannya. Dengan semangat, si kecil meminta uang koin pada Anda, lalu memasukkannya ke dalam celengannya sambil tersenyum lebar. Menabung di celengan sungguh pelajaran yang berharga sekaligus berkesan baginya. Semakin besar, anak-anak semakin memahami peran uang dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya, ketika si kecil memiliki keinginan untuk membeli mainan yang didambakan, atau saat mendapat hadiah uang dari kakek-neneknya pada hari raya dan hari ulang tahunnya. Setelah si kecil mendapatkan hadiah uang pertamanya, ia akan membutuhkan ‘tempat’ untuk menyimpan uangnya tersebut. Begitu pula ketika ia menginginkan suatu benda dan Anda memintanya untuk menabung sedikit demi sedikit untuk mewujudkan impiannya. Masuk akal memang bila Anda membuka rekening bank atas nama anak dan mulai mengajarkan si kecil dasar-dasar pengelolaan uang.

Tetapi, benarkah rekening bank atas namanya sendiri diperlukan oleh si kecil? Pada Parentstory, Eko Endarto, CFP, RFA, financial planner dan CEO Finansia Consulting, menjelaskan, bahwa perlu atau tidaknya anak dibuatkan rekening bank atas nama dirinya bergantung pada usia anak. “Ketika anak sudah masuk pada usia yang dianggap bisa bertanggung jawab, memiliki rekening atas namanya sendiri bisa dilakukan. Usia sekitar 10-11 tahun saya kira sudah bisa, walaupun mungkin bentuknya masih menjadi rekening tambahan dari rekening orang tua,” jelas perencana keuangan yang aktif di Instagram dengan nama akun @ekoendarto ini. Saat ini, beberapa bank di Indonesia memang sudah menyediakan tabungan khusus anak, yang nama rekeningnya dibuat atas nama anak. Apakah ada perbedaannya dengan tabungan untuk orang dewasa?

“Sama saja, namun biasanya berbeda pada bunga dan fasilitas penarikan. Kalau tabungan anak biasanya bunga lebih tinggi, tapi dengan fasilitas terbatas, seperti tidak bisa tarik tunai di ATM, tidak bisa transfer, atau penarikan online. Ada juga rekening anak yang harus diendapkan minimal 6 sampai 1 tahun ke depan (tidak bisa diambil dalam jangka waktu tertentu),” jelas Eko.

Anak akan belajar mengelola keuangannya

Menurut Eko Endarto, di usia 10 hingga 11 tahun, anak sudah bisa diberi tanggung jawab. Dalam hal ini, artinya bertanggung jawab pada pengelolaan uang mereka. “Saat sudah bisa diberi tanggung jawab, anak akan mengerti harta yang menjadi aset mereka dan pastinya harus bertanggung jawab dengan asetnya. Tabungan dan rekening adalah aset atau harta pertama mereka.” Di usia ini, anak juga sudah lebih memahami angka, nilai uang, serta konsep menabung. Anak telah paham bahwa nilai uang tidak hanya berupa uang tunai saja, namun juga dalam bentuk lain. Misalnya, dalam bentuk rekening tabungan yang jumlah uangnya tertera pada buku tabungan, atau dalam bentuk kartu debit dan dompet digital. Pada era digital seperti saat ini, penting bagi anak belajar konsep uang dalam bentuk lain selain uang tunai. Dengan membukakan rekening bank atas nama anak, maka anak dapat mulai mempelajari hal tersebut.

Selain itu menurut Eko, manfaat lainnya adalah, Anda dapat mengajarkan tanggung jawab pada anak dengan aset pribadinya dan pengelolaan harta yang dimilikinya. Secara otomatis, anak juga akan belajar mengelola keuangannya serta dapat belajar menentukan rencana keuangannya. Contohnya, jika anak mendapat uang saku harian dari Anda, dan sedang menginginkan suatu benda, maka Anda dapat mendorongnya untuk belajar menyisihkan uang sakunya. Lalu, menabungkannya ke rekening bank miliknya agar dapat membeli benda impiannya tersebut. Anda juga dapat mengajarkan anak untuk menabung dengan menyetorkan uang ke bank secara rutin, misalnya dua minggu sekali atau satu bulan sekali. Bila Anda ingin memulai menabung di rekening bank anak sejak ia berusia bayi atau balita, menurut Eko, boleh-boleh saja. “Tapi, itu semata untuk kepentingan orang tua, bukan anak. Karena saat balita mereka belum mengerti tentang tanggung jawab kepemilikan mereka, apalagi kalau itu bentuknya rekening,” pungkas Eko.