Tips Bebas Panik Jadi Orang Tua Baru

Dear orang tua baru, rumus bebas panik jadi orang tua adalah jangan percayai mitos-mitos ini!

tips bebas panik jadi orang tua baru

Menjadi orang tua adalah proses belajar yang berlangsung terus menerus dengan tujuan memberikan proses tumbuh kembang anak yang optimal. Tapi proses belajar ini tidak pernah disertai dengan buku panduan atau manual book, alhasil menjadi orang tua baru juga penuh dengan pertanyaan, “Ini mitos atau fakta ya?” Untuk membantu para orang tua baru bebas dari kebingungan menghadapi semua hal yang serba pertama, Parentstory dan ZAP Health menggelar Ask The Expert: Panduan Praktis untuk Orang Tua Baru di Instagram Live beberapa waktu lalu. Dan berikut beberapa kepanikan yang seringkali dihadapi orang tua baru di momen serba pertamanya menjadi orang tua:

Panik Ketika Pertama Kali Demam

Jangan panik, karena demam bukanlah penyakit melainkan reaksi tubuh untuk melawan infeksi dari luar. “Yang harus ditekankan pada orang tua adalah, ukurlah suhu tubuh anak dengan termometer, bukan dengan tangan. Anak masuk kategori demam kalau suhu tubuhnya di atas 38 derajat Celsius,” jelas dr. Christian Nasir, Sp.A dari ZAP Health Premier.

Cara mengatasinya: 

Untuk bayi 0-6 bulan, dr. Christian menekankan untuk memerhatikan kecukupan minum ASI atau susunya. “Jangan sampai terjadi dehidrasi karena ini juga bisa memicu terjadinya demam,” imbuhnya. Kalau anak masih aktif, berarti cukup diobservasi saja selama 24 jam. “Kecuali kalau sudah disertai dengan gejala muntah dan diare berkepanjangan. Ini adalah tanda bahaya.” Ketika anak demam, dr. Christian mengingatkan agar jangan terburu-buru memberikan obat penurun demam. Obat penurun demam boleh diberikan pada bayi di atas usia 3 bulan dan diberikan ketika suhunya di atas 38 derajat Celcius. Adapun obat penurun panas yang direkomendasikan adalah berjenis parasetamol. Untuk dosis yang dianjurkan menurut dr. Christian adalah, 10mg per kilogram berat badan atau sesuai panduan yang tertera pada kemasan. Selain dengan pemberian obat, suhu tubuh juga bisa diturunkan dengan melakukan kompres. “Tapi bukan dengan air dingin ya, melainkan dengan air hangat.” Dijelaskan dr. Christian, menurunkan suhu tubuh dengan pengompresan pada prinsipnya adalah membuat pembuluh darah melebar agar panas tubuh bisa menguap. Jadi, area kompres sebaiknya di lipatan-lipatan tubuh yang memiliki pembuluh darah besar. Jangan justru menyelimuti anak dengan kain yang tebal, karena ini malah membuat panas tubuhnya tidak bisa keluar. “Untuk sekadar bikin nyaman boleh, tapi jangan sampai dibungkus dengan jaket dan selimut tebal-tebal.” Demikian dr. Christian mengingatkan.

Panik Ketika Ada Ruam di Sekitar Pipi

Banyak orang tua baru percaya, ruam kemerahan di sekitar pipi anak adalah karena terkena ASI, alhasil ibu jadi tidak percaya diri untuk mengASIHI. Menurut dr. Christian yang harus diketahui adalah, tidak semua ruam di pipi adalah tanda bahaya. Orang tua harus mengenali kemerahan di pipi anak itu masuk kategori alergi atau bukan.

Cara mengatasinya:

Ia kemudian menjelaskan pada bayi baru lahir sampai berusia 3 minggu, kadang muncul ruam kemerahan berupa bintik-bintik di sekitar dahi, pipi, dan hidung. “Ini kita sebut dengan Erythema toxicum dan ini normal.” Jadi jangan panik, karena biasanya ini akan hilang dengan sendirinya. Tapi ada juga ruam yang harus diantisipasi yaitu yang hanya terjadi di area pipi bayi saja. “Ini bisa jadi salah satu tanda dari dermatitis atopik. Ini adalah tanda alergi dari susu sapi, jadi bukan karena kena ASI, melainkan prosesnya dari dalam tubuh anak yang manifestasinya berupa ruam kemerahan.” Adapun area khas munculnya ruam akibat dermatitis atopik adalah pipi, lipatan tangan, dan lipatan kaki. Jika ini yang terjadi, maka berkonsultasilah kepada dokter anak untuk mengatasi alerginya.

Panik Ketika Anak Terjatuh

Hal yang pertama kali harus diperhatikan orang tua ketika anak jatuh adalah bagaimana posisinya ketika terjatuh. Apakah terbentur di kepala secara langsung atau tidak. “Jangan panik kalau setelah terjatuh anak masih menangis dan aktif bergerak. Kita bisa observasi saja selama 24 jam setelah terjatuh,” ucap dr. Christian menenangkan. Tapi kalau setelah jatuh, anak muntah, maka ini merupakan tanda bahaya dan anak harus segera dibawa ke rumah sakit untuk mendapatkan pemeriksaan mendetail. “Apalagi kalau muntahnya sifanya menyemprot, ini harus segera diperiksakan,” tegas dr. Christian.

Panik Ketika Harus Mempersiapkan MPASI Pertama untuk Anak

Prinsip pemberian MPASI adalah tepat waktu, adekuat, dan aman. Dijelaskan dr. Christian, tepat waktu artinya, pemberian MPASI diberikan ketika anak berusia 6 bulan dan sudah menunjukkan tanda-tanda bisa makan. Adapun tanda anak siap makan adalah, mulutnya ketika disodorkan makanan serta sudah kuat menopang lehernya. “Kalau masih jatuh-jatuh, berarti ada masalah perkembangan dan belum aman untuk diberikan MPASI,” jelasnya. Lalu pemberian MPASI harus adekuat yang artinya porsi dan tekstur yang diberikan sesuai tahapan usianya. Untuk bayi usia 6-8 bulan, ASI masih memegang peranan penting sebagai sumber nutrisi jadi kalori MPASI baru sekitar 30% saja. Adapun tekstur MPASI adalah halus. “Porsi dan tekstur anak naik secara bertahap agar oromotor anak ikut berkembang,” ucap dr. Christian seraya menyebutkan tekstur MPASI untuk usia 9-12 bulan adalah cincang kasar, dan 12 bulan ke atas adalah seperti makanan keluarga. Terakhir adalah aman yang artinya, orang tua memahami cara pengolahan MPASI yang bersih dan aman. “Serta mengetahui jenis makanan apa yang tidak dianjurkan untuk diberikan pada anak di bawah 1 tahun.”

Panik Ketika Membandingkan Tumbuh Kembang Anaknya dengan Anak Lain yang Sebaya

“Prinsipnya, tumbuh kembang anak bukanlah pertandingan. Yang harus diingat adalah pertumbuhan dan perkembangan anak sifatnya interval.” Artinya milestone atau tumbuh kembang anak terjadi pada rentang usia tertentu. Misalnya, kemampuan anak untuk bisa berjalan terjadi pada rentang usia 12-18 bulan, jadi ada anak yang memang tepat usia 12 bulan sudah bisa jalan, tapi ada yang baru bisa jalan pada usia 15 bulan. Selama masih dalam rentang usia, maka kategorinya masih aman. Dengan memahami interval usia itu, orang tua bisa mengantisipasi kapan harus ada intervensi ketika tumbuh kembang anak tidak mengalami kemajuan. Misalnya, pada usia 3 bulan seharusnya anak sudah kuat menahan lehernya. “Kalau sampai usia 4 bulan anak belum bisa melakukan ini, maka orang tua harus segera membawa anak ke dokter untuk mendapatkan intervensi dini.”

Temukan pilihan aktivitas, kelas, dan kegiatan edukatif untuk anak dan orang tua, serta beragam artikel menarik seputar kesehatan, parenting, dan gaya hidup keluarga modern. Download aplikasi Parentstory sekarang di App Store dan Google Play Store.