Tips Mengatasi Stres pada Anak

Stres pada anak mengakibatkan berkurangnya nafsu makan, hingga menarik diri dari kehidupan bersosialisasi. Psikolog anak Anggita Hapsari, M.Psi berbagi tips dalam mengatasinya!

Situasi pandemi yang tak menentu seperti saat ini tentu membuat stres setiap orang, tak terkecuali anak-anak. Kebanyakan para orang tua bahkan tidak mengetahui, bahwa anak-anak bisa juga mengalami stres. Sayangnya, kondisi anak yang mengalami stres cukup sulit dikenali, karena anak seringkali tidak sadar bahwa dirinya tengah mengalami stres yang bisa saja berujung pada depresi. Melalui rangkaian Parentstory Festival, Parenntstory menggelar Instagram Live bersama dengan LYFE Generation, yang menghadirkan Psikolog Anggita Hapsari, M.Psi, dan memaparkan ciri dan pencetus stres pada anak, hingga kiat-kiat penanganan khusus pada anak yang sudah mengalami stres, terutama di masa pandemi seperti saat ini. Menurut Anggita, anak-anak stres itu bisa terjadi sejak bayi, sebab mereka melihat mimik muka, tatapan muka, mendengarkan bicara orang tua dengan nada tinggi, disertai dengan pukulan. Hal ini yang kemudian membuat anak terpapar stres sejak kecil.

Mengenal Ciri-Ciri Stres pada Anak Sesuai dengan Usianya

Sebagai orang tua, Anda wajib peka terhadap gejala stres pada anak sesuai dengan usianya saat ini. Berikut ini ciri-ciri stres yang kerap terjadi pada anak, berdasar pada tahapan usianya:

  • Usia 0 - 1 tahun: Ciri-ciri dimulai bayi dapat dilihat dari menangis secara terus menerus, murung, tidak ingin  makan, tidak ingin minum susu dengan frekuensi yang intens, serta kebiasaan-kebiasaan yang aneh seperti lebih sulit untuk tidur. 
  • Usia 1 - 3 tahun: Perilaku yang berubah secara drastis, seperti murung, tidak ingin bermain, marah berkelanjutan, tantrum yang tidak sewajarnya dan berkelanjutan, ekspresi muka yang datar, tidak ada raut kesenangan, dan tidak ingin bermain dengan siapapun. 
  • Usia 3 - 5 tahun: Pada usia 3 - 5 tahun, kebanyakan anak sudah bisa berbicara. “Pada usia 3 - 5 tahun ini menunjukan gejala yang sama, yaitu murung. Tetapi karena sudah fasih berbicara, terkadang ia sering melakukan komplain secara terus menerus terhadap orang tua, dan suka menangis secara berlebihan,” tutur Anggita Hapsari. 
  • Usia 6 - 8 tahun: Hal yang biasa dilakukan pada anak usia 6 hingga 8 tahun adalah, suka bersembunyi di kolong tempat tidur, meja, dan di lemari. Mereka akan cenderung menarik diri dari segala hal.

Dalam hal ini, orang tua harus bisa lebih memahami dan peka terhadap anak, terutama saat mereka tengah mengungkapkan emosinya. Selain itu, Anggita juga menyebutkan gejala-gejala yang sudah fatal akibat orang tua yang tidak peka terhadap kondisi anak-anak yang stres. Seperti misalnya, anak merasakan nightmare atau terbangun dari tidur di malam hari, mimpi buruk, menangis dengan keras, hingga berteriak kencang dalam frekuensi yang intens. Kejadian tersebut dialami oleh anak secara terus menerus. Selanjutnya, anak mulai tidak tertarik bersosialisasi dengan lingkungan, serta tidak ada rasa ingin bersekolah.

Kiat Menangani Stres pada Anak di Masa Pandemi

“Bermain merupakan salah satu bentuk komunikasi, curhat, dan ekspresi keluh kesah pada anak usia balita,” tutur Anggita. Meski harus selalu di rumah saja, namun beberapa aktivitas sederhana ternyata mampu membantu anak dalam menangkal stres, seperti bermain bola, menyiram tanaman, belajar menanam hidroponik, atau mewarnai. Bagi anak berusia 6 tahun atau sudah bersekolah, untuk menghindari stres pada anak, coba lakukan beberapa aktivitas bersama, seperti membaca buku bersama, mendengarkan curhat si kecil, menonton acara favorit, bersepeda di lingkungan rumah, atau bisa juga dengan menyusun puzzle. Lebih lanjut, Anggita memberikan pesan bagi para orang tua, "Luangkanlah waktu sehari minimal 30 menit bersama dengan anak. Manfaatkan waktu dengan anak sebaik mungkin karena kehadiran orang tua merupakan cara yang ampuh mengusir stres pada anak."

"Dan untuk para orang tua, jangan lupa untuk beristirahat saat merasa lelah. Tenangkan pikiran dan jangan terlalu menuntut diri terlalu tinggi. Sayangi diri sendiri terlebih dahulu. Cobalah untuk berdamai dengan kondisi saat ini. Penuhi diri dengan hal-hal positif, karena ini akan berdampak pada pola asuh terhadap anak," pungkas Anggita.