Toxic Parents, Ini 5 Tandanya!

Orang tua harus mampu menerima kekurangannya sehingga bisa mengekspresikan emosi yang seimbang ketika berinteraksi dengan anak.

Toxic Parenting

Setiap orang tua pasti memiliki niat mendisiplinkan serta mendidik anaknya untuk tujuan jangka panjang, tapi tidak banyak yang menyadari kalau caranya merupakan bentuk dari toxic parenting yang berdampak negatif terhadap psikologis anak secara jangka panjang. Dampak dari toxic parenting ini bisa berlangsung lama, hingga anak tumbuh dewasa yang kemudian terbawa sampai menjadi orang tua. Inilah yang kemudian membuat toxic parenting menjadi siklus yang berulang. “Karena itu, orang tua perlu tahu apa itu toxic parenting serta bagaimana menghindarinya agar tidak mengganggu tumbuh kembang anak.” Demikian Ayunda Wardhani, Vice President of Marketing dari Parentstory membuka diskusi Parentstory di Instagram Live bersama Anggita Hapsari, M.Psi., Psikolog dari Lyfe Generation.

Apakah Itu Toxic Parenting?

Secara harfiah, Anggita menjawab, toxic adalah racun yang bisa menyebabkan orang sakit bahkan sampai meninggal, dan parenting adalah pola pengasuhan. Maka toxic parenting adalah perilaku orang tua yang memiliki dampak psikologis, baik ringan, menengah, maupun berat terhadap tumbuh kembang anaknya. “Jadi pengasuhan yang dilakukan orang tua, baik sadar maupun tidak sadar dilakukan secara terus menerus hingga menimbulkan dampak psikologis pada anak,” papar Anggita. Adapun perilaku yang masuk kategori toxic parenting adalah ketika orang tua memberikan penilaian dan perlakuan yang “buruk” pada anak-anak. Anggita lalu memberikan contoh ketika mau pergi ke rumah kakek-nenek, orang tua mengatakan ini kepada anaknya. “Kak, pakai baju yang warna pink saja ya, karena bajunya baru jadi masih terlihat bagus. Kalau kakak pakai baju yang lama, nanti dibilang Oma, jelek loh. Atau, rambutnya dikuncir dong, Kak, biar Oma senang sama kakak.”

Perkataan itu bisa saja terdengar biasa saja tapi menurut Anggita, kalau dilakukan secara terus menerus maka anak secara tidak sadar membentuk konsep bahwa ia perlu mencari pujian dari orang lain. Alhasil, anak berpikir bahwa penghargaan atas keberadaan dirinya hanya bisa didapat dari orang lain. Lantas, apa dampaknya secara jangka panjang? “Anak menjadi seseorang yang perfeksionis tapi karena tuntutan dari luar. Ia menjadi terbiasa untuk melakukan sesuatu yang dapat menyenangkan banyak orang, bukan untuk dirinya sendiri,” jawab Anggita. Perkataan lain yang juga sering dan tidak sadar disampaikan orang tua kepada anak yang bisa berdampak pada psikologis anak adalah, “Cium dulu, biar Mama masakin makanannya. Atau, bereskan mainannya dong. Kalau tidak dibereskan, mama nggak sayang ya.” Padahal menyayangi dan memasakkan anak makanan adalah bagian dari nurturing atau mengasuh anak, hal yang merupakan kewajiban orang tua tanpa meminta “reward” dari anak.

Menurut Anggita, jika anak sering mendengar pesan seperti ini maka menjadi terinternalisasi dalam diri anak bahwa sayangnya orang tua karena kondisi tertentu. Padahal seharusnya orang tua menunjukkan bahwa rasa sayang orang tua adalah tak bersyarat atau unconditional love. “Dengan begini, orang tua menjadi satu-satunya tempat perlindungan yang aman untuk anak. Karena keberadaan orang tua ada di rumah. Kalau di rumah saja anak tidak mendapatkan rasa aman dari orang tua, maka dia akan mendapatkannya dari mana lagi?”

Inilah Ciri dari Toxic Parenting

  1. Bersifat self centered, orang tua mau anaknya terlihat baik untuk mendapatkan pujian dari orang lain. Bukan karena orang tua sayang kepada anaknya.
  2. Non verbal abuse yang bentuknya adalah interaksi antara orang tua dengan anak yang bersifat sambil lalu. “Misalnya ketika anak ingin menunjukkan sesuatu, orang tua merespon sekenanya saja,” kata Anggita seraya menyebutkan kalau bentuk dari toxic parenting bukan hanya perkataan tapi juga bahasa tubuh. 
  3. Controlling behaviour yang ditunjukkan dengan orang tua terlalu mengendalikan sikap anak sehingga anak tidak memiliki kebebasan untuk mengeksplorasi sendiri. “Disiplin boleh, tapi bukan berarti tidak melibatkan anak dalam prosesnya. Misalnya ketika mendaftarkan anak untuk ikut les, tanyakan juga apakah dia menyukai atau tidak.”
  4. Lack of body risk atau tidak menghargai apa yang menjadi kebutuhan psikis anak. Misalnya mengajak anak pergi ketika jam tidurnya tanpa memikirkan kesiapan anak. “Ini menunjukkan orang tua hanya menekankan kalau anak harus bisa tanpa memfasilitasinya,” jelas Anggita.
  5. Terlalu sering mengkritik anak. Misalnya ketika anak terjatuh hingga ada memar atau benjol di kepalanya, orang tua menyalahkan anak. “Padahal seharusnya orang tualah yang mengondisikan tempat agar anak selalu aman saat bereksplorasi,” tegas Anggita.

Ciptakan Bonding dan Secure Attachment yang Kuat dengan Anak agar Terhindar dari Toxic Parenting.

Meski begitu, Anggita juga menyebutkan, kalau menjadi orang tua bukan berarti tidak bisa mengekspresikan emosi kepada anak. Hanya saja semuanya harus ditampilkan dengan seimbang. Itu mengapa, ia menekankan, betapa orang tua penting untuk mengetahui apa yang menjadi kekurangannya. “Sehingga, orang tua bisa lebih menyeimbangkan emosinya ketika berinteraksi dengan anak.” Setelah orang tua mengetahui kekurangannya, maka ikatan emosional atau bonding yang tercipta berdasarkan ketulusan cinta orang tua terhadap anak. Alhasil anak merasakan interaksi atau kelekatan yang ada dengan orang tuanya merupakan ruang aman untuk dirinya. “Secure attachment inilah yang membuat anak selalu percaya pada respon yang diberikan orang tua kepadanya pastilah bertujuan untuk melindungi dirinya,” pungkas Anggita. 

Temukan pilihan aktivitas, kelas, dan kegiatan edukatif untuk anak dan orang tua, serta beragam artikel menarik seputar kesehatan, parenting, dan gaya hidup keluarga modern. Download aplikasi Parentstory sekarang di App Store dan Google Play Store.