Trik Menyiapkan MPASI untuk Ibu Bekerja

Dengan menerapkan berbagai trik dari para pakar ini, ibu bekerja akan semakin mudah dalam menyiapkan MPASI rumahan untuk sang buah hati.

Trik Jitu Ala Pakar Dalam Menyiapkan MPASI Homemade Bagi Ibu Bekerja

Ketika si kecil memulai MPASI di usia sekitar 6 bulan, beralih ke makanan padat, tentu akan menghadirkan ‘tantangan’ baru untuk orangtua. Terutama bagi ibu yang bekerja full time di luar rumah. Menjadi ibu adalah full time job. Jadi, kalau Anda memiliki pekerjaan penuh waktu lainnya di luar rumah, ditambah setumpuk tugas rumah tangga, rasanya to-do list seperti tak habis-habis. Bagaimana mungkin ada waktu untuk menyiapkan MPASI lagi? Tak perlu khawatir, dengan mengikuti trik jitu ini MPASI rumahan dari para pakar ini, Anda akan lebih mudah menyiapkannya untuk anak. Simak penjelasannya berikut ini.

1. Mengukus Bahan Makanan

Kiat pertama ini diambil dari situs resmi dr. I Gusti Ayu Nyoman Partiwi, Sp.A-MARS, yang akrab dipanggil dr. Tiwi, dokter spesialis anak terkemuka dan penulis buku panduan MPASI berjudul ‘Sehat-Lezat: Olah Saji’. Dijelaskan di klinikdrtiwi.com, mengukus merupakan cara terbaik untuk mempertahankan cita rasa dan kandungan nutrisi bahan makanan, terutama kandungan vitamin B dan C. Bila bahan pangan MPASI tak mudah lunak dengan cara dikukus, Anda dapat merebusnya. Namun, agar kandungan nutrisi bahan makanan tersebut dapat dipertahankan, rebuslah dengan sedikit air dan dalam waktu yang tak terlalu lama. Cara lain yang dapat dilakukan adalah memanggang atau menggunakan microwave. Sebaiknya, pada masa MPASI, kita tidak memberikan makanan yang digoreng pada bayi.

Bisa dibilang, mengukus sangat mudah dilakukan dan tak membutuhkan banyak peralatan. Apalagi sekarang terdapat alat-alat pengolah MPASI yang sudah disertai dengan fitur mengukus, sehingga Anda hanya perlu memijit tombolnya saja, dan voila, makanan anak pun tersedia. Untuk anak yang baru memulai makan, Anda perlu mempertimbangkan tekstur yang ideal, yaitu dalam bentuk puree. Karena itu, menurut dr. Tiwi, buah atau sayuran yang sudah dimasak hingga lunak dapat dihaluskan dengan saringan, blender atau food processor. Jika terlalu kental, Anda dapat mengencerkannya dengan tambahan sedikit ASI atau ASIP (ASI perah), air sisa merebus, atau air matang. Sebaliknya, jika terlalu encer, Anda dapat menambahkan sedikit bubur beras.

2. Dibekukan

Saat mengolah MPASI anak, Anda dapat menyiapkan agak banyak, misalnya dalam 4 hingga 5 porsi makan, sehingga dapat menjadi menu makannya selama 3 hari. Agar makanan lebih tahan lama, Anda dapat menyimpan makanan yang sudah matang. Dr. Tiwi menambahkan, ada dua cara dalam proses penyimpanan MPASI anak. Pertama, mendinginkannya (di kulkas bawah) yang dapat tahan selama 24 jam. Kedua, membekukannya di freezer yang bisa bertahan selama beberapa bulan.

Cara membekukannya dengan memasukkan MPASI yang sudah matang ke wadah makan kedap udara, sehingga tidak terkontaminasi bakteri dan lainnya. Misalnya, labu kuning yang sudah dikukus dan dihaluskan, masukkan ke wadah makanan atau ice cube tray yang memiliki penutup, lalu tutup dengan rapat, lalu simpan dalam freezer. Sekitar 3-4 jam sebelum waktu makan anak, pindahkan makanan dari freezer ke kulkas bawah, lalu keluarkan hingga makanan mencapai suhu ruangan dan cair secara perlahan. Ini juga bisa diterapkan pada air kaldu protein hewani atau sayur. Anda dapat memanaskannya sebagai kuah makanan atau bahan pangan lainnya. 

3. Sesuaikan Bahan Makanan Dengan Menu Keluarga

Ini merupakan kiat dari Jennifer Shu, MD, dokter spesialis anak di Atlanta dan tim penulis buku berjudul ‘Heading Home with Your Newborn: From Birth to Reality’ dan ‘Food Fights: Winning the Nutritional Challenges of Parenthood Armed with Insight, Humor, and a Bottle of Ketchup’. Menurut Jennifer, selama pola makan keluarga menerapkan pola makan sehat, Anda dapat menggunakan bahan makanan yang sama untuk anak. Misalnya, ketika menu keluarga Anda hari itu adalah sup ayam-brokoli-wortel, sisihkan sedikit untuk porsi makan anak setelah sup matang dan belum diberi gula serta garam. Lalu, haluskan dengan food processor, tambahkan kuah sup atau ASIP bila terlalu padat. Dengan begini Anda tidak menghabiskan banyak waktu untuk mengolah makanan.

4. Susun Jadwal Menu Makan Mingguan

Anda bisa menulis daftar bahan makanan apa saja yang akan diberikan pada anak di hari-hari awal pemberian MPASI. Selain memudahkan Anda dalam proses persiapannya, dapat memberikan informasi pula seputar reaksi anak pada MPASI. Setelah anak mengonsumsinya, Anda bisa bertanya pada pengasuh anak yang memberikan makan anak bagaimana reaksi pada makanannya. Lalu, Anda dapat memberikan tanda pada makanan yang disukai anak dan yang tidak, atau yang menimbulkan kondisi tertentu pada anak. Misalnya, membuatnya sembelit atau lainnya.

Menurut penjelasan dokter spesialis anak dan Konsultan Laktasi BJ Medical Center, Central Park, dr. Wiyarni Pambudi, SpA, IBCLC, pada blogwiyarni.wordpress.com, supaya reaksi bayi terhadap MPASI mudah dipantau, Anda dapat mencoba satu jenis bahan makanan selama 3-4 hari. Setelah itu, baru beralih ke menu lain. Wiyarni juga menyarankan untuk orangtua mengatur jadwal makan dan jenis menu MPASI yang disajikan. Namun, seberapa banyak jumlah MPASI yang akan dihabiskan, biar si bayi yang menentukan. Hal ini diperlukan agar bayi menikmati sesi makannya.

Langkah Aman Menyimpan MPASI

Pada situs resmi IDAI (Ikatan Dokter Anak Indonesia), idai.or.id, Unit Kerja Koordinasi Nutrisi dan Penyakit Metabolik IDAI, menuliskan langkah-langkah menyimpan MPASI yang aman. Intip penjelasannya berikut ini:

  • Bakteri penyebab kontaminasi dapat tumbuh di makanan-makanan seperti daging, ikan, telur, susu, kedelai, juga nasi, pasta, dan sayur-sayuran. Karena itu, makanan-makanan tersebut harus disimpan dalam lemari pendingin (kulkas) dengan suhu kurang dari 5 derajat celcius.
  • Simpan MPASI yang sudah matang dalam keadaan tertutup rapat dan pastikan letaknya terpisah dari bahan makanan mentah, seperti daging dan ikan.
  • Simpan bahan makanan mentah dengan tertutup rapat.
  • Seluruh makanan harus disimpan dengan petunjuk penyimpanan yang tertulis pada kemasan, dan tidak boleh digunakan setelah melewati tanggal kedaluwarsa. 
0 Komentar