Trik Parenting Positif: Beda Time-out dengan Time-in

Time-out merupakan taktik disiplin yang paling populer. Namun ternyata, time-out juga menjadi salah satu metode yang kerap disalahgunakan.

Metode Time-Out dan Time-In

Sebagian orang tua mungkin sudah akrab dengan istilah time-out. Metode ini biasanya menempatkan anak sendirian di suatu tempat, bisa duduk di kursi atau berdiri di sudut rumah, dalam jangka waktu tertentu. Seringkali, lokasi time-out adalah ruang yang sama dan memang digunakan sebagai tempat anak menjalankan time-out. Dilansir dari situs wikipedia.org, time-out merupakan bentuk modifikasi perilaku yang melibatkan pemisahan sementara seseorang dari lingkungan, akibat melakukan sikap yang tidak baik atau berulah. Tujuannya adalah untuk menjauhkan anak, agar ia bisa tenang dan memikirkan kembali tindakan buruknya. Dengan kata lain, membuatnya jera. Metode pendisiplinan ini sangat populer di budaya barat. Sederhananya, time-out seharusnya menjadi jeda singkat dalam interaksi pengasuh anak (bisa orang tua atau orang lainnya) dengan anak. Tujuannya adalah membuat anak belajar dan memiliki kesempatan untuk mempraktikkan keterampilan menenangkan diri.

Tidak Dilakukan dengan Tepat

Namun, belakangan ditemukan banyak kesalahan pada orang tua ketika menerapkan metode pendisiplinan anak ini. Sebuah studi yang dirilis di jurnal kesehatan Academic Pediatrics pada Maret 2017, menyatakan, bahwa 85% orang tua dari anak-anak berusia 15 bulan hingga 10 tahun menggunakan metode time-out secara tidak tepat. Menurut Andrew Riley, penulis utama penelitian dan psikolog anak di Oregon Health & Science University, Amerika Serikat, kesalahan terbesar yang dibuat orang tua adalah terus berbicara pada anak dan memberi penjelasan selama masa time-out. Beberapa orang tua malah memarahi anak di waktu time-out. Pasalnya, time-out harus menjadi situasi yang membosankan, dan penjelasan orang tua seharusnya menunggu sampai waktu time-out selesai. Kesalahan orang tua lainnya dalam menerapkan time-out pada anak, diungkapkan oleh profesor pediatri Edward Christophersen, Ph.D., dari Children's Mercy Hospital di Kansas City, Amerika Serikat, menurutnya, time-out bukanlah kursi, juga bukan sudut, dan tidak dilakukan dalam waktu yang lama. Sebab, bukannya bisa menenangkan diri dan mengevaluasi kesalahannya, ini malah membuat anak menjadi kesal, bahkan marah pada orang tuanya. Profesor yang membantu merintis teknik ini pada tahun 1970-an, mengatakan, kesalahan lain yang dibuat orang tua adalah bersikeras bahwa ada tambahan waktu time-out selama satu menit untuk setiap tahun usia anak. Padahal, semakin cepat anak menenangkan diri dan dapat bertanggung jawab atas emosinya, lalu bergabung kembali dengan anggota keluarganya yang lain, maka semakin baik.

Time-In Lebih Baik?

Meski time-out sangat populer dan dapat memberikan dampak yang baik pada anak jika dilakukan dengan tepat, namun beberapa ahli parenting menolak metode tersebut karena terlalu keras untuk anak-anak. Tapi, apa pilihan metode pendisiplinan anak lainnya? Bagaimana orang tua bisa membesarkan anak-anak yang baik, bahagia, dan kooperatif tanpa menggunakan metode time-out?

Dr. Laura Markham, pendiri Aha! Parenting, penulis buku dan pakar peaceful parenting, menuliskan pada buku-bukunya, bahwa ia tidak setuju jika orang tua menerapkan metode disiplin time-out pada anak. Laura menyarankan hal sebaliknya, daripada anak diminta untuk menjauh, lebih baik orang tua mendekati anak. Metode ini disebut dengan istilah time-in. Sebagai permulaan, menurut Laura, daripada memiliki kursi atau lokasi time-out di rumah, lebih baik Anda memiliki kursi atau spot yang nyaman di rumah, di mana Anda dapat ‘terhubung’ dengan anak setiap saat. Terutama, ketika anak sedang bad mood atau berulah. Daripada mengasingkan anak, lebih baik memeluknya. Setelah beberapa saat, ketika anak sudah tenang, Anda dapat membicarakannya dengan anak. Tanyakan alasan mengapa dia bersikap buruk dan mengajarkannya untuk mengenali serta mengatur emosinya.

Bantu Anak Belajar Mengatur Emosi

Menurut Laura, salah satu cara utama untuk memastikan anak-anak kita bahagia dan sukses dalam hidup adalah, mengajarkan mereka untuk disiplin dan cara mengatur emosi mereka. Masalahnya, Laura menjelaskan, bahwa time-out tidak mengajarkan anak-anak dalam mengatur emosi atau belajar disiplin diri. Sebaliknya, malah membuat anak ‘terputus’ dari orang tua atau pengasuhnya, menempatkan anak pada posisi defensif, memicu perasaan sendirian, dan membuat anak merasa orang tuanya tidak memahami perasaannya. Lebih dari itu, time-out akan membuat si kecil tidak ingin meminta bantuan orang tuanya di saat ia membutuhkan pertolongan. Devi Raissa, M.Psi, menjelaskan pada tulisannya di rainbowcastleid.com, bahwa sebenarnya yang anak butuhkan saat ia sedang emosi adalah, koneksi kembali dengan orang tuanya. Dan, koneksi tersebut bisa didapatkan lewat time-in. Menurut Devi, ketika anak menjalankan time-in, banyak sekali yang akan dipelajarinya. Misalnya, anak menjadi paham bahwa orang tuanya menerimanya apa adanya, kapan saja, bahkan di saat ia sedang berulah. Anak juga bisa saja jadi meniru sikap tenang orang tuanya. Si kecil pun dapat menjadi sadar bahwa sikapnya tidak baik, yakin kalau orang tuanya akan selalu ada untuknya, dalam kondisi dan situasi apa pun.

Time-In adalah P3K

Beberapa pakar parenting dan banyak orang tua memang menganggap time-in sedikit merepotkan. Mungkin akan kurang efektif pada keluarga yang memiliki banyak anak. Pasalnya, para pakar parenting menganjurkan, ada beberapa hal yang perlu dilakukan orang tua setelah time-in. Misalnya, menjelaskan jenis-jenis emosi pada anak, berdiskusi apa yang sebaiknya dilakukan saat marah, cara menenangkan diri dan sebagainya. Namun menurut Devi, orang tua dapat memperlakukan metode time-in seperti P3K (pertolongan pertama pada kecelakaan) ketika seseorang terluka. Time-in merupakan metode yang sebaiknya dilakukan pertama kali saat anak berulah. Jika Anda ingin tetap menerapkan metode time-out, pastikan Anda melakukannya dengan tepat. Salah satu caranya adalah, segera setelah time-out selesai, orang tua harus melakukan time-in, yaitu memuji perilaku anak, berbicara dengannya dan menjadikan ini sebagai pengalaman positif dengan menunjukkan kepada anak apa yang dapat ia lakukan dengan benar pada waktu berikutnya.

Temukan pilihan aktivitas, kelas, dan kegiatan edukatif untuk anak dan orang tua, serta beragam artikel menarik seputar kesehatan, parenting, dan gaya hidup keluarga modern. Download aplikasi Parentstory sekarang di App Store dan Google Play Store.