Trik Pembagian Tugas Rumah Tangga untuk Pasangan Bekerja

Meskipun Anda merupakan pasangan yang sibuk, namun tugas rumah tangga tetap dapat dibagi secara adil.

Pembagian pekerjaan rumah tangga dengan pasangan

Ayah sibuk bekerja di kantor, Ibu juga aktif menjadi work-at-home-mom. Sementara itu, anak seperti biasa senang membongkar mainannya, lalu meninggalkannya begitu saja. Jadi, siapa yang merapikan rumah dan menyelesaikan pekerjaan rumah tangga lainnya?

Menurut Ellen Galinsky, pimpinan Families and Work Institute di New York, Amerika Serikat (AS), di dunia masa kini, bisa dibilang semua orang punya banyak kesibukan. Orang sering merasa kewalahan dengan pekerjaan dan semua tugas mereka di rumah tangga. Semua itu kerap memicu pertengkaran antara suami dan istri, atau orang tua dengan anak. Bahkan pada sebuah survey tahun 2018 di AS pada pasangan yang baru bercerai, perdebatan soal tugas rumah tangga disebut sebagai satu dari tiga alasan utama perceraian. Salah satu penyebab mengapa hal tersebut terjadi adalah adanya pembagian pekerjaan rumah tangga yang tidak adil. Menurut Daniel Carlson, PhD, asisten profesor sebuah studi untuk keluarga dan konsumen di University of Utah, Salt Lake City, AS, ibu bekerja yang sedang di rumah karena mendapat cuti melahirkan, biasanya mengerjakan tugas rumah tangga lebih banyak dibanding pasangannya. Karena umumnya, ayah cenderung lebih fokus pada pekerjaan kantor untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Lalu, harus bagaimana agar semua tugas rumah tangga dapat dibagikan ke seluruh anggota keluarga dengan adil? Contek triknya berikut ini!

1. Cari Tahu Tugas Apa Saja yang Perlu Dikerjakan dan Diskusikan

Setiap orang memiliki definisi ‘bersih’ yang berbeda, jadi hal ini mungkin perlu dibahas. Anda dan pasangan perlu memahami terlebih dahulu apa saja tugas-tugas utama yang dapat membuat rumah tangga berjalan lancar. Sambil mendiskusikannya, Anda boleh mencatat hasil diskusi sehingga pembagian tugas akan lebih mudah. Yang terpenting, berdiskusilah dengan santai dan tenang agar situasi tetap menyenangkan untuk semua anggota keluarga sehingga dapat menghindari konflik. Bila diperlukan, Anda dan keluarga bisa mencari waktu dan tempat yang baik untuk semua agar mood baik juga tetap terjaga.

2. Buat Daftar Tugas Harian dan Mingguan

Setelah mendiskusikannya dengan pasangan dan anak (bila perlu), bagilah antara tugas harian dan mingguan. Misalnya, tugas harian mencuci piring adalah tugas ayah, memasak tugas ibu, membuang sampah tugas anak sulung, dan anak bungsu bertugas membereskan mainan serta buku-bukunya setelah digunakan. Sementara tugas mingguan, misalnya mengurus pakaian kotor (mencuci dan menjemur), melipat pakaian yang sudah bersih, mengepel, membersihkan dapur, kamar mandi, dan semacamnya. Ingatlah, tugas rumah tangga bukan hanya membersihkan rumah saja. Hal-hal seperti membayar tagihan, memesan air mineral galon, belanja kebutuhan mingguan rumah tangga, atau semacamnya, terkadang mudah dilupakan. Jangan lupa untuk menuliskannya juga.

3. Tetapkan Tenggat Waktu dan Durasi Pengerjaan

Misalnya, lap meja tepat setelah sarapan setiap hari, bersihkan kamar mandi pada hari Selasa, lakukan semua tugas di akhir minggu, dan semacamnya. Hal ini diperlukan agar setiap tugas jelas jadwalnya sehingga tidak ada yang terlewat. Mencatat berapa banyak waktu yang dibutuhkan untuk setiap tugas juga perlu agar tidak ada yang terbebani dengan jam kerja ekstra setiap minggu.

4. Berhati-hatilah dalam Memberikan Saran dan Kritik

Mungkin anak tidak menyimpan mainannya dengan rapi? Atau, pasangan melipat baju dengan lipatan yang berbeda dengan yang biasa Anda lakukan? Tak perlu langsung emosi. Lepaskan sedikit kontrol Anda, biarkan anak-anak atau pasangan mengerjakan tugasnya dengan caranya sendiri. Jika hal tersebut memang merugikan orang lain atau benar-benar salah, barulah Anda bahas dengan anak atau pasangan bagaimana cara yang lebih efektif. Pilihlah kata-kata yang positif dan hindari kata-kata yang menghakimi. Jangan lupa setiap anggota keluarga juga perlu saling memuji pada anggota keluarga lain yang telah menyelesaikan tugasnya dengan baik.

#5 Negosiasi Kembali

Setelah semua anggota keluarga menjalankan tugasnya masing-masing selama sekian waktu, misalnya 1 bulan, Anda dan keluarga perlu mengevaluasi tugas-tugas tersebut. Apakah semua berjalan lancar atau ada yang merasa keberatan? Untuk itu, perlu disesuaikan lagi dengan kondisi terbaru masing-masing anggota keluarga. Misalnya, di bulan depan si Kakak harus les berenang di hari Minggu pagi, tepat di jadwal ia mengepel rumah. Maka, orang tua perlu mengubah tugas atau jadwalnya. Atau Ayah memiliki jadwal dinas keluar kota, sehingga butuh orang yang menggantikan tugasnya atau tugasnya dihapus sampai waktu yang telah ditentukan.