Uang Jajan atau Uang Saku, Mana yang Lebih Tepat?

Memberikan uang saku pada anak akan lebih membuat anak belajar bijak menggunakan uang.

uang jajan anak

Ketika anak memasuki usia sekolah, salah satu pertanyaan yang kerap muncul di benak orang tua adalah, perlukah memberikan uang jajan kepada anak? Jika perlu, bagaimanakah menentukan besaran uang jajannya?

Lebih Baik Ajarkan Tentang Konsep Uang Saku Ketimbang Uang Jajan

Menurut Psikolog klinis anak, remaja, dan keluarga, Roslina Verauli, M.Psi., konsep tentang uang sudah bisa dikenalkan kepada anak sejak ia berusia 3-5 tahun. Adapun yang perlu dipahami oleh anak tentang uang adalah fungsinya sebagai alat tukar dan memiliki nilai, serta bisa dikelola. “Misalnya ketika mendapat angpao saat Lebaran, biarkan anak memegang uangnya dan mengetahui jumlahnya,” kata psikolog yang akrab dipanggil Vera ini pada Parentstory melalui sambungan telepon beberapa waktu lalu. Setelah anak mengetahui bentuk uang, hal yang juga penting diajarkan kepada anak adalah, uang memiliki nilai yang jika disimpan dan diinvestasikan membuat nilai tukarnya jadi lebih besar. “Ini mengapa kalau saya menganjurkan anak belajar konsep uang saku bukan uang jajan.” Memang apakah bedanya konsep uang saku dengan uang jajan?

Vera yang belakangan rutin membuat Zoom Class for Kids ini kemudian menjelaskan, perbedaan uang saku dengan uang jajan adalah pada tujuan penggunaan uang. Konsep uang saku akan mengajarkan anak karena uang memiliki nilai, maka perlu pengelolaan dalam menggunakannya. Ini yang kemudian membuat anak belajar tentang menabung dan investasi. “Semakin besar uang yang disimpan ‘di sakunya’ maka semakin besar pula kemampuan uang tersebut untuk memiliki nilai. Nilai inilah yang kemudian bisa ditukar dalam bentuk apapun, bahkan bisa digunakan untuk investasi dan menghasilkan uang lagi.” Sedangkan konsep uang jajan, akan membuat anak berpikir bahwa uang yang diberikan adalah alat konsumsi, maka harus dibelanjakan. Alhasil, anak tidak menyadari kalau ada usaha yang perlu dilakukan untuk mendapatkan uang, sehingga ia tidak akan terbiasa untuk mengelola uang dan menggunakannya secara bijak.

Begini Menentukan Besaran Uang Saku pada Anak

Lantas, berapa banyak uang saku yang ideal diberikan pada anak usia sekolah? Vera menjawab, semakin kecil usia anak, maka semakin kecil pula nominal uang saku yang diberikan. Selain pertimbangan usia, yang juga harus menjadi acuan orang tua adalah, apakah anak membawa bekal ke sekolah. Kalau anak membawa bekal, maka menurut Vera, tidak perlu uang saku harian, melainkan cukup uang saku mingguan. Pertimbangan berikutnya adalah, berikan uang saku sesuai kebutuhan anak. Jika misalnya anak tidak mendapatkan makanan yang diberikan dari sekolah, maka besaran uang saku cukup untuk anak membeli camilan atau makan siangnya. “Mengajak anak berdiskusi tentang besaran uang sakunya juga bisa dilakukan. Dengan begitu, anak akan belajar mengukur apa yang menjadi kebutuhannya,” imbuh Vera. Tapi di saat school from home atau belajar di rumah seperti sekarang, apakah tetap perlu memberikan anak uang saku? “Tetap perlu dan karena aktivitas lebih banyak di rumah, artinya anak tidak bisa keluar rumah untuk membeli sesuatu, maka jumlahnya disesuaikan saja. Uangnya cukup disimpan dan kalau nanti anak ingin menggunakannya sebagai investasi.”

Inilah Manfaat Memberikan Uang Saku pada Anak

Adapun manfaat yang utama menurut Vera adalah, anak belajar menggunakan serta mengelola uang dengan bijak. Agar konsep ini bisa menginternalisasi di dalam dirinya, Vera juga menekankan pentingnya orang tua menjadi contoh tentang menggunakan uang dengan bijak. Contoh sederhana adalah, ketika belanja bulanan, Vera menyarankan agar orang tua melibatkan anak pada saat membuat daftar belanjaan. “Tanyakan kepada mereka apa yang menjadi kebutuhan mereka, lalu masukkan ke dalam daftar belanjaan. Saat belanja, tunjukkan bahwa orang tua membeli barang-barang sesuai daftar. Ini bermanfaat untuk mengajarkan anak tidak menjadi pembeli yang impulsif, alhasil anak belajar menentukan mana yang penting untuk dibeli,” papar Vera.

Lengkapi juga konsep ini dengan mengajarkan anak tentang membeli barang dengan harga yang ekonomis. Jadi saat berbelanja dengan anak, menurut Vera, orang tua juga perlu mengajarkan membeli barang di tempat yang bisa membeli kebutuhan dengan harga yang lebih murah. Tujuannya, agar anak memahami. Karena uang memiliki nilai, maka harus digunakan seefisien mungkin. “Ini akan mengajarkan anak tentang pengelolaan uang yang bijak.” Tapi Vera kembali menegaskan, semua konsep baik ini akan dapat dipahami dan dilakukan anak jika ia melihat orang tuanya melakukannya secara langsung. Karena nilai-nilai tentang menggunakan uang secara bijak lebih mudah diresapi anak ketika orang tua mempraktikkan apa yang diajarkan.

Temukan pilihan aktivitas, kelas, dan kegiatan edukatif untuk anak dan orang tua, serta beragam artikel menarik seputar kesehatan, parenting, dan gaya hidup keluarga modern. Download aplikasi Parentstory sekarang di App Store dan Google Play Store.