Banner Promo Image
Menangkan iPhone 11 dengan bergabung di Parentstory!
Daftar Sekarang

Trik agar Anak Tetap Semangat Bersekolah dari Rumah

Seiring pandemi yang berlarut-larut sehingga sekolah terus ditutup, jelas bahwa tidak semua anak baik-baik saja. Terutama, ketika menyangkut soal ‘mood’ untuk bersekolah secara daring.

Trik agar Anak Tetap Semangat Bersekolah dari Rumah

Pandemi Covid-19 telah mengubah kehidupan keluarga di seluruh dunia, termasuk keseharian anak-anak. Penutupan sekolah, pembelajaran jarak jauh (PJJ), wajib memakai masker, menjaga jarak secara fisik, dan banyak hal lainnya yang mengubah kehidupan setiap anak. Beberapa anak bersenang-senang dengan orang tua serta adik dan kakak mereka di rumah, tetapi kebanyakan merindukan guru, teman, dan kehidupan normal mereka sebelum pandemi. Ini pula yang membuat semangat anak bersekolah di rumah menjadi berkurang, sehingga tidak mood untuk mengikuti PJJ.

Beberapa waktu lalu, Tolak Angin Anak (@tolakanginanakid) bersama Yulita Patricia Semet, M.Psi, membahas isu ini dalam sesi tayangan langsung atau Live di Instagram bertajuk, ‘Membangun Lagi Mood Bersekolah dari Rumah’. Psikolog anak dari Klinik Tumbuh Kembang @rainbowcastleid ini mengatakan, “Banyak sekali gangguan selama anak belajar secara virtual. Misalnya, tidak fokus memerhatikan guru saat online class atau malah memerhatikan temannya. Makanya, saya selalu mendampingi anak di sebelahnya. Beberapa anak juga sulit bangun pagi atau tidak melakukan pembelajaran sesuai jadwal.” Yulita, yang akrab dipanggil Sissy ini, merasakan hal serupa yang dialami oleh para orang tua dari anak usia sekolah. Pasalnya, Sissy pun memiliki tiga anak, yang dua di antaranya telah bersekolah dan kini menjalankan PJJ. Lalu, bagaimana caranya para orang tua bisa membangun mood anak supaya tetap semangat sekolah virtual? Berikut beberapa trik yang dibagikan oleh Sissy.

1. Dijelaskan di Malam Sebelumnya

“Pada malam sebelum sekolah, anak di-briefing dulu oleh orang tua. Dijelaskan besok mau ngapain saja,” ucap Sissy. Untuk anak yang lebih kecil atau anak usia PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini, akan lebih bagus bila orang tua menjelaskannya dalam bentuk poster berisi jadwal kegiatannya secara lengkap, misalnya menuliskan waktu kegiatan dan durasinya. Agar poster buatan Anda lebih menarik, bisa ditambahkan gambar-gambar sesuai dengan jadwal aktivitas anak. Menurut Sissy, dengan begini, akan lebih mudah bagi anak untuk siap menjalani aktivitasnya. “Ini seperti reminder bagi anak. Dia mesti ngapain, berapa lama. Karena anak-anak masih sulit membayangkan ‘sebentar’ itu berapa lama, atau 1 jam itu berapa lama,” tuturnya.

2. Konsisten pada Jadwal

“Yang pasti, sih, rutinitas. Maksudnya, kembali lagi ke sekolah, berarti kita harus memerhatikan kembali rutinitas anak seperti apa,” jelas Sissy. Orang tua perlu menerapkan jadwal kegiatan anak dari bangun tidur pagi hingga anak tidur malam. Kebiasaan atau rutinitas tiap keluarga tentu berbeda, karena itu orang tua perlu menyesuaikannya dengan kebiasaan keluarga dan jadwal aktivitas anak. Misalnya, jika anak mulai sekolah virtual jam 08.00 pagi, maka anak perlu bangun jam 06.00 atau 07.00, lalu mandi pagi, sarapan, dan kemudian bersekolah. Sissy menjelaskan, “Rutinitas ini perlu dijaga agar tetap konsisten. Sebisa mungkin ada jadwal kegiatan harian yang bisa diikuti secara konsisten. Karena ini yang akan membuat anak sebenarnya jadi lebih siap menghadapi hari. Kalau kita sudah biasa menyediakan rutinitas itu, nanti anak akan lebih mudah memasukkan jadwal belajar atau sekolah dengan guru, dan jadi lebih kooperatif dengan orang tua. Ini yang perlu jadi dasar atau pondasi dulu supaya mereka lebih siap. Jadi mereka paham, kalau setiap jam 08.00-10.00 pagi misalnya, mereka akan belajar. Terlepas ada Zoom Class atau tidak.”

3. Sesuaikan Ekspektasi

Menurut Sissy, masih sangat wajar bila mood anak naik-turun dan konsentrasinya masih terbatas. Untuk itu, orang tua harus menyesuaikan ekspektasi. Sangat wajar kalau anak mungkin mudah teralih perhatiannya. Tapi, dengan orang tua menyesuaikan ekspektasi tadi, orang tua jadi lebih mudah untuk menyemangati anak daripada memarahinya.

4. Dampingi Anak dan Ulangi Penjelasan Guru

Bila memungkinkan, akan lebih baik bila orang tua terus mendampingi anak selama kelas virtual. Terutama bila anak sudah menunjukkan tanda-tanda kehilangan semangat. Contohnya, terlihat melamun, tidak memerhatikan guru, lemas, dan sebagainya. “Aku, kalau melihat anakku sudah diam saja, aku biasanya akan mengulangi penjelasan guru. Aku yang menanggapi gurunya. Misalnya, guru menjelaskan makhluk hidup, seperti tanaman, jadi aku menanggapi dengan: ‘Oh jadi kalau tanaman biar hidup perlu diberi air, ya’, bisa dengan begitu,” tutur Sissy.  Perlu orang tua pahami, bila anak bersekolah di kelas virtual, anak hanya mendengarkan guru bicara, dan wajar sekali kalau pikiran anak jadi menerawang. Karena itu, orang tua bisa mengulangi kata-kata gurunya atau paraphrase. Untuk diketahui, parafrase adalah istilah linguistik yang berarti pengungkapan kembali suatu konsep dengan cara lain dalam bahasa yang sama, namun tanpa mengubah maknanya.

5. Pastikan Mood Orang Tua Juga Baik

Untuk anak yang lebih kecil, orang tua bisa menjadi ‘jembatan’ antara anak dengan guru. “Tugas kita sebagai penerjemah dari penjelasan gurunya. Orang tua bisa menepuk-nepuk punggung anak atau mengelus dagunya bila anak mulai kehilangan mood atau konsentrasi. Yang penting, orang tua juga harus menjaga mood agar tetap baik, supaya kita bisa mentransfer mood yang baik itu ke anak. Jangan sampai orang tuanya stres,” ucap Sissy.

6. Berikan Waktu Bermain

Walaupun anak sudah mulai sekolah kembali, bukan berarti anak jadi tidak punya waktu bermain. Bahkan menurut Sissy, waktu bermain sangat penting bagi anak-anak. “Sebenarnya, modal utama kita untuk menjaga hubungan dengan anak sehingga anak kooperatif, adalah dengan waktu bermain. Jadi, kita sebisa mungkin memberikan waktu bermain untuk anak. Paling senang, sih, anak-anak main sama orang tuanya. Nah, waktu bermain ini saat yang tepat untuk membangun koneksi dengan anak.”

7. Berdiskusi dengan Guru

Yang tidak kalah penting, orang tua perlu paham apa harapan dari kegiatan pembelajaran anak. Dengan begini, orang tua dapat mengetahui target pembelajaran tersebut. Orang tua dapat bertanya pada guru, apa saja target perilaku dari kelas virtual yang diikuti anak. Supaya, orang tua bisa memenuhinya dalam bentuk lain, bila di waktu tersebut anak terlihat tidak bersemangat. Atau bahkan, pada anak yang usianya lebih kecil, menolak mengikuti kelas tersebut. “Jadi, kalau misalnya di satu sesi, anaknya kabur-kaburan, kita bisa menggantinya atau menambalnya dengan aktivitas lainnya selain di kelas virtual tersebut, asalkan pokok pembelajaran atau kemampuan yang perlu ditingkatkannya sama. Karena sebenarnya, target pembelajaran bisa dicapai dengan cara yang beragam. Kalau misalnya orang tuanya bingung, berdiskusilah dengan guru supaya bisa menyesuaikan,” pungkas Sissy.

Temukan pilihan aktivitas, kelas, dan kegiatan edukatif untuk anak dan orang tua, serta beragam artikel menarik seputar kesehatan, parenting, dan gaya hidup keluarga modern. Download aplikasi Parentstory sekarang di App Store dan Google Play Store.